Indonesia

Awas Polisi Gadungan Eropa Sasar Wisatawan Indonesia!

Posted on Updated on

Polisi Amsterdam Pic: Serbalanda
Polisi Amsterdam Pic: Serbalanda

Kecopetan atau kehilangan dokumen dan barang berharga sangat menjengkelkan. Apalagi kalau kita sedang berperjalanan di negara lain. Mencari tempat melapor, mendapatkan kembali dokumen bisa menguras waktu perjalanan atau liburan. Kecopetan atau kecurian barang, sebisa mungkin dihindari. Tulisan Serbalanda ini semoga membantu kawan lebih waspada.

Belakangan ini modus kejahatan, aparat polisi gadungan mulai marak. Eka Tanjung dari Serbalanda sedianya hanya menemukan berbagai kasus di Rotterdam Belanda, sekarang sudah merambah ke Jerman, Swiss, Prancis, Belgia dan lainnya. Kawan-kawan wisatawan dan backpackers dari Indonesia mohon berwaspada.

Peringatan
Penulis yang sudah 30 tahun domisili di Belanda, kerap membaca dan mendengar kejadian di tempat-tempat wisata. Tulisan ini hanya sekedar peringantan saja, karena Kepolisian Belanda juga mengeluarkan warning soal aparat gadungan dari Eropa Timur. Alasan lain, karena penulis tidak ingin orang Indonesia menjadi korban penipuan ini.

Waspada
Ketika kawan berada di tempat-tempat wisata, sebaiknya waspada dengan barang-barang. Sekalipun sedang melihat view bagus dan ingin segera berselfie ria tanpa harus kehilangan moment. Jangan lengah meninggalkan tas dan barang berharga lainnya. Sebab orang yang berniat jahat, akan beraksi pada detik-detik ketika korban sedang lengah.

Polisi Preman
Salah satu modus kejahatan di tempat-tempat wisata Belanda adalah jaringan pencopetan dan penipuan yang dilakukan oleh dua sampai 6 orang. Dua orang menyamar sebagai polisi berpakaian sipil, atau preman.

ID Palsu
Mereka berbekal ID-card tiruan yang mirip punya Polisi. Para pelaku berasal dari Eropa Timur dan tidak berbahasa Belanda, penguasaan bahasa Inggrisnya pun terbata-bata. Hanya kalimat-kalimat standar saja. Mereka menyasar wisatawan Asia yang berjalan sendirian atau dalam kelompok kecil, seperti dari Thailand, Korea, China, Singapura atau Indonesia.

Modus Operandi
Menurut pihak kepolisian Belanda, para pelaku beroperasi paling sering berempat. Mereka terlebih dulu mengamati bakal korbannya sejak mulai dari masuk tempat-tempat wisata kalau di Rotterdam sekitar Euromast, Markthal atau Spido.

Setelah calon korban berada di lokasi yang sepi, dua orang pelaku akan menghampiri mangsa. Sapaan ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa bakal mangsanya bukan lokal Belanda. Mereka menyapa dan mengajak sang korban berbicara dalam bahasa Belanda. Tak lama kemudian muncullah dia orang yang mengaku sebagai aparat polisi dan menduga ada ‘transaksi narkoba’ dan ingin menggeledah korban.

Uang Raib
Mereka akan meminta Paspor, ID dan Dompet. Dan tanpa disadari mereka akan mengambil uang dari dompet korban dan mengembalikan dalam kondisi sudah berkurang banyak. Sang pelaku akan kabur dengan hasil jarahannya.

Mengapa Orang Asia ?
Mereka sengaja menyasar wisatawan Asia karena rumpun bangsa ini cukup patuh kepada otoritas, apalagi kepada aparat polisi. Haha dari mana ya kok kita bisa begitu?  Selain itu wisatawan Asia, selalu siap membuktikan dirinya adalah orang baik-baik. Mereka tidak mau ribet dan menuruti saja semua pengarahan “otiritas” setempat. Dan orang Asia juga dikenal membawa duit cash berjumlah besar di dompetnya. Lengkap sudah .. orang Asia menyandang status ‘sasaran empuk’ di mata para penipu.

Serbalanda pernah membaca kasus di Rotterdam, korbannya turis Singapura. Dia diajak bicara oleh dua pria, lalu tak lama kemudian muncul dua aparat gadungan yang menunjukkan ID (palsu.) Dua aparat ini mengatakan curiga wisatawan Asia itu sedang melakukan transaksi narkoba. Aparat gadungan itu kemudian meminta memeriksa barang dan minta paspor serta dompet. Pura-pura memeriksa paspor dan dompet dengan seksama. Tak lama kemudian, korban ditinggal dengan kejutan bahwa dompetnya sudah kosong.

Korban Indonesia
Beberapa tahun silam Eka Tanjung mendapat kabar dari seorang teman yang jalan sendiria ke Rotterdam dan mengalami hal serupa. Dia didekati dua aparat preman yang membawa ID polisi. Dan ingin melihat dompet dan paspor. Dasar kawan Indonesia ini adalah orang baik dan polos, dia turuti saja permintaan itu dan akhirnya dompetnya berkurang € 200,-. Dia cerita sudah dua pekan kejadian, karena “saya kesal tapi malu juga, kok bisa sampai ketipu.”

Polisi Belanda menanggapi kasus penipuan ini denga tegas mengatakan: 
“Kami tidak akan pernah minta dompet. Tidak pernah. Kalau ID ada dalam dompet, maka kami akan meminta sang pemilik mengambilnya sendiri dari dompet. Bukan kami. Kami tidak akan menyentuh dompet itu.”  Jadi bisa disimpulkan, kalau minta dompet berarti dia penipu!

Eropa Timur
Menurut kepolisian Belanda, pelakunya hampir selalu berasal dari Eropa Timur.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa mereka biasanya beroperasi di Belanda selama satu atau dua hari. Setelah itu pergi. Saya juga mendengar pengalaman yang sama dari rekan-rekan polisi di Belgia,” ungkap Pak Smit polisi Rotterdam yang sudah sering mendapat pengaduan tentang ‘polisi gadungan.’ Polisi tidak tinggal diam, mereka terus menguber pelaku yang mencemarkan nama institusi kepolisian.

Awal tahun 2015, Polisi berhasil meringkus sindikat ‘polisi gadungan’ dari Rumania yang merampok turis satu famili dari Thailand. Dua pelaku meminta ID, paspor dan tas pinggang sang korban. Dari tas mereka mengambil uang € 1500.

Menyadari uangnya diambil, sang korban berteriak-teriak minta tolong dalam bahasa Thais atau bahasa Jane Panggil Tarzan. Yang pasti suara minta tolong itu memekik telinga hingga terdengar beberapa pekerja bangunan yang berada dekat lokasi. Mereka mengejar dan meringkus sang pelaku dan menyerahkan kepada polisi.

Tidak Kapok
Beruntung kali ini bagi sang korban, karena uangnya kembali. Dan pelaku dikenai hukuman kurungan selama tiga bulan. Tapi kan tahu sendiri penjara di Belanda seperti hotel Melati ber-TV dan bersih. Kalau dasarnya memang penjahat, maka setelah keluar penjara dia akan mengulang perbuatannya dengan pengalaman dan lebih mahir lagi. Artinya jumlah kejahatan ini tidak akan berkurang.

Dari cerita tentang ‘aparat gadungan’ ini maka Eka Tanjung ingin menyampaikan beberapa saran atau tips kepada kawan yang bepergian liburan ke Eropa.

  • Jangan hiraukan orang asing yang mengajak Anda berbicara di tempat wisata.
  • Jangan tanggapi orang yang meminta-minta. Minta rokok atau korek api.
  • Jangan layani orang yang menjatuhkan benda dan menyebut itu punya Anda. Amankan barang Anda.
  • Jangan membeli barang murah di tempat yang mencurigakan.
  • Pisahkan uang yang anda di dompet yang berlainan.
  • Gunakan guide lokal yang berpengalaman.

Korban Belanda
Kejahatan dengan modus seperti ini terjadi di mana-mana dan korbannya bukan saja kalangan wisatawan. Para lansia Belanda yang tinggal sendiri sering pula jadi korban ‘aparat gadungan.’ Mereka datang menyamar sebagai aparat polisi atau dinas pemda, ingin mengontrol keamanan rumah penduduk dan melihat ke dalam dan menjarah barang-barang berharga.

Semoga masukan ini bermanfaat dan kawan bisa menikmati liburan di Belanda dan Eropa dengan nyaman, tanpa mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Eka Tanjung siap memberikan saran untuk penginapan maupun transportasi dan akomodasi yang baik dan aman.

eka_tanjung_2017_kontak

Advertisements

Awas, Kontrol Ketat di Bandara Belanda, Schiphol

Posted on Updated on

Bandara Schiphol
Bandara Schiphol

Bandara Schiphol di Amsterdam Belanda akan melancarkan aksi pemeriksaan ketat pada hari Senin 6 Juli 2015 ini. Sebaiknya waspada kalau kawan atau kenalan akan tiba di Schiphol, hari itu. Sebab semua orang dan bagasi akan diperiksa, tanpa kecuali.

Eka Tanjung membaca berita bahwa petugas keamanan Bandara Schiphol Amsterdam akan melancarkan pemeriksaan ketat kepada semua penumpang yang masuk pada hari Senin tanggal 6 Juli ini dari jam 7:00 sampai jam 11:00 pagi waktu Belanda.

Dari Indonesia
Pesawat yang akan mendarat pada jam itu salah satunya Garuda Indonesia GA88 yang diperkirakan akan tiba pukul 8:30. Selain itu banyak maskapai yang sering ditumpangi orang-orang Indonesia ke Belanda seperti Emirates (KLM) KL438 dari Abu Dhabi. Malaysia Airlines MH16 juga akan masuk Schiphol dari Kuala Lumpur pada sekitar jam 7:00. Pada intinya, Eka Tanjung tidak ingin menakuti bahwa semua penumpang dan bagasinya akan diperiksa.  Karena yakin orang-orang Indonesia patuh aturan kalau soal larangan obat bius. Orang kita tidak akan bahwa barang-barang itu masuk Belanda.

Rendang dan Ikan Asin
Hanya saja orang Indonesia membawa buah-buahan, bumbu-bumbuan, ikan asin, rendang atau makanan segar yang sebenarnya tidak ada larangan khusus untuk masuk Belanda. Hanya ketika musim penyakit Lembu atau Wabah Ayam, sempat muncul larangan membawa masakan daging dan ayam. Sejenis abon maupun usus ayam sempat dilarang masuk.

Soal larangan makanan untuk saat ini tidak berlaku. Untung saja lah.. hanya saja pemeriksaan semua penumpang dan bagasi ini akan memakan waktu. Sehingga penumpang akan lebih lama mengambil barangnya dan penjemput harus lebih sabar menanti kerabatnya muncul dari pintu bandara dan muncul di tempat penjemputan.

Alasan Demo
Pemeriksaan ketat ini sebenarnya perpangkal dari aksi para pekerja imigrasi yang menuntut perbaikan upah. Jadi aksi hari Senin itu sebenarnya ditujukan kepada Stef Blok, menteri Belanda urusan Penghunian dan Kepegawaian (PNS). Menteri yang membawahi pekerja Imigrasi ini dianggap tidak serius dalam menangani nasib pegawai.

Protes Buruh
Jadi ‘pemeriksaan ketat’ penumpang ini ditujukan sebagai ungkapan protes. Para penumpang akan mendengarkan ‘curhat’ dari para pegawai bandara yang memeriksa. Alasan sesungguhnya bukanlah karena ancaman keamanan tapi karena alasan curhat pegawai. Inilah cara pegawai Belanda melakukan aksinya.

Sebagai penumpang tentu saja kita merasa terhambat. Eka Tanjung menyarankan Anda bersabar saja, dan katakan bahwa Anda mendukung aksi itu. Semoga lawatan Anda ke Belanda lancar walaupun menjalani pemeriksaan lebih panjang dari biasanya. Hari-hari lainnya pemeriksaan akan lebih longgar dan bersifat acak saja.

Update

Tulisan ini di Facebook mendapat tanggapan yang marak. Banyak warga Indonesia yang mencemaskan keluarganya yang akan datang dari Indonesia akan mengalami kesulitan. Namun pada praktiknya, aksi periksa 100% di Schiphol ini terutama berdampak pada antrian panjang di pemeriksaan.

Seorang warga Indonesia di Forum Indonesian Living in Holland mengalami sendiri hari pemeriksaan ketat di Schiphol itu.
Schermafbeelding 2015-07-08 om 00.44.04

Bobby Hardjosantoso melanjutkan: 
Ternyata kamar periksa kopor yang biasa ditakuti oleh warga ILH smile-emoticon Kosong ga ada acara bongkar kopor.
Barang2ku cuma di xray lolos semua.
Lalu dalam perjalanan pulang aku pikir pikir aksi unjuk rasa pegawai douane ini bisa menangkap peyelundup ikan asin dan daging rendang? Saya rasa tidak ada yang tertangkap basah kali ini karena saking banyaknya orang yang nunggu jadi semua cuma di xray isinya biar cepat semuanya lalu disuruh cepat pergi.
Jadi kesimpulannya ini bukan aksi memperketat pemeriksaan, ini cuma sekedar memperlambat proses keluar. Terserah anda apakah douane ini berhak untuk dapat kenaikan gaji atau tidak?

Awas di Belanda Ada Polisi Gadungan !!

Posted on Updated on

472353_10150687272244456_341717331_o

Belanda salah satu tujuan liburan yang tergolong aman, dibanding Prancis, Itali atau Spanyol. Namun perlu waspada terhadap polisi gadungan dan peminta-minta.

Peringatan
Penulis yang sudah 30 tahun domisili di Belanda, kerap membaca dan mendengar kejadian di tempat-tempat wisata. Tulisan ini hanya sekedar peringantan saja, karena Kepolisian Belanda juga mengeluarkan warning soal aparat gadungan dari Eropa Timur. Alasan lain, karena penulis tidak ingin orang Indonesia menjadi korban penipuan ini.

Waspada
Ketika kawan berada di tempat-tempat wisata, sebaiknya waspada dengan barang-barang. Sekalipun sedang melihat view bagus dan ingin segera berselfie ria tanpa harus kehilangan moment. Jangan lengah perhatian pada tas dan barang kawan. Sebab orang yang berniat jahat, akan beraksi pada sasaran yang meleng.

Polisi Preman
Salah satu modus kejahatan di tempat-tempat wisata Belanda adalah jaringan kriminal ringan seperti pencopetan dan penipuan yang dilakukan antara 2 sampai 6 orang. Dua orang menyamar sebagai polisi berpakaian sipil, atau preman.

Mereka berbekal ID-card tiruan yang mirip punya Polisi. Para pelaku berasal dari Eropa Timur dan tidak berbahasa Belanda, penguasaan bahasa Inggrisnya pun terbata-bata. Hanya kalimat-kalimat standar saja. Mereka menyasar wisatawan Asia yang berjalan sendirian atau dalam kelompok kecil, seperti dari Thailand, Korea, China, Singapura atau Indonesia.

polisi_gadungan_01

Modus Operandi
Menurut pihak kepolisian Belanda, para pelaku beroperasi paling sering berempat. Mereka terlebih dulu mengamati bakal korbannya sejak mulai dari masuk tempat-tempat wisata kalau di Rotterdam sekitar Euromast, Markthal atau Spido.

Setelah calon korban berada di lokasi yang sepi, dua orang pelaku akan menghampiri mangsa. Sapaan ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa bakal mangsanya bukan lokal Belanda. Mereka menyapa dan mengajak sang korban berbicara dalam bahasa Belanda. Tak lama kemudian muncullah dia orang yang mengaku sebagai aparat polisi dan menduga ada ‘transaksi narkoba’ dan ingin menggeledah korban.

Uang Raib
Mereka akan meminta Paspor, ID dan Dompet. Dan tanpa disadari mereka akan mengambil uang dari dompet korban dan mengembalikan dalam kondisi sudah berkurang banyak. Sang pelaku akan kabur dengan hasil jarahannya.

Mengapa Orang Asia ?
Mereka sengaja menyasar wisatawan dari Asia karena rumpun bangsa ini cukup patuh kepada otoritas, apalagi kepada aparat polisi. Haha dari mana ya kok kita bisa begitu?  Selain itu wisatawan Asia, selalu siap untuk membuktikan dirinya adalah orang baik-baik, maka menuruti semua pengarahan dari otiritas di tempat asing. Dan orang Asia juga dikenal senang membawa duit banyak di dompetnya. Lengkap sudah .. orang Asia menyandang status ‘sasaran empuk’ di mata para penipu.

Sabtu silam kejadian di Rotterdam dan korbannya turis dari Singapura. Dia diajak bicara oleh dua pria, lalu muncul dua aparat gadungan yang menunjukkan ID (palsu) dan mengatakan mencurigai deal narkoba. Meminta untuk menggeledah barang dan minta paspor dan dompet. Tak lama kemudian, korban ditinggal dengan kejutan bahwa dompetnya sudah kosong.

Beberapa tahun silam Eka Tanjung mendapat kabar dari seorang teman yang jalan sendiria ke Rotterdam dan mengalami hal serupa. Dia didekati dua aparat preman yang membawa ID polisi. Dan ingin melihat dompet dan paspor. Dasar kawan Indonesia ini adalah orang baik dan polos, dia turuti saja permintaan itu dan akhirnya dompetnya berkurang € 200,-. Dia cerita sudah dua pekan kejadian, karena “saya kesal tapi malu juga, kok bisa sampai ketipu.”

Polisi Belanda menanggapi kasus penipuan ini denga tegas mengatakan: 
“Kami tidak akan pernah meminta warga untuk menyerahkan dompet. Tidak pernah. Kalau ID ada di dompet, maka kami akan meminta pemilik mengambilnya sendiri dari dompet. Bukan kami. Kami tidak akan menyentuh dompet itu.”  Jadi bisa disimpulkan, kalau minta dompet berarti dia penipu!

Eropa Timur
Menurut kepolisian Belanda yang diwawancara AD.nl mengatakan bahwa pelakunya hampir selalu berasal dari Eropa Timur. “Penelitian kami menunjukkan bahwa mereka biasanya beroperasi di Belanda selama satu atau dua hari. Setelah itu pergi. Saya juga mendengar pengalaman yang sama dari rekan-rekan polisi di Belgia,” ungkap Pak Smit polisi Rotterdam yang sudah sering mendapat pengaduan tentang ‘polisi gadungan.’ Polisi tidak tinggal diam, mereka terus menguber pelaku yang mencemarkan nama institusi kepolisian.

Bulan lalu Polisi berhasil meringkus sindikat ‘polisi gadungan’ dari Rumania yang merampok turis satu famili dari Thailand. Dua pelaku meminta ID, paspor dan tas pinggang sang korban. Dari tas mereka mengambil uang € 1500.

Menyadari uangnya diambil, sang korban berteriak-teriak minta tolong dalam bahasa Thais mungkin atau bahasa Jane memanggil Tarzan. Yang pasti suara minta tolong itu terdengar oleh beberapa pekerja bangunan yang berada dekat lokasi. Mereka akhirnya membantu menangkap sang pelaku dan menyerahkan kepada polisi.

Tidak Kapok
Beruntung kali ini bagi sang korban, karena uangnya akhirnya kembali. Dan pelaku dikenai hukuman kurungan selama tiga bulan. Tapi kan tahu sendiri penjara di Belanda seperti hotel Melati ber-TV dan bersih. Kalau dasarnya memang penjahat, maka setelah keluar penjara dia akan mengulang perbuatannya dengan pengalaman dan lebih mahir lagi. Artinya jumlah kejahatan ini tidak akan berkurang.

Dari cerita tentang ‘aparat gadungan’ ini maka Eka Tanjung ingin menyampaikan beberapa saran atau tips kepada kawan yang bepergian liburan ke Eropa.

  • Jangan hiraukan orang asing yang mengajak Anda berbicara di tempat wisata.
  • Jangan tanggapi orang yang meminta-minta. Minta rokok atau korek api.
  • Jangan layani orang yang menjatuhkan benda dan menyebut itu punya Anda. Amankan barang Anda.
  • Jangan membeli barang murah di tempat yang mencurigakan.
  • Pisahkan uang yang anda di dompet yang berlainan.

Korban Belanda
Kejahatan dengan modus seperti ini terjadi di mana-mana dan korbannya bukan saja kalangan wisatawan. Para lansia Belanda yang tinggal sendiri sering pula jadi korban ‘aparat gadungan.’ Mereka datang menyamar sebagai aparat polisi atau dinas pemda, ingin mengontrol keamanan rumah penduduk dan melihat ke dalam dan menjarah barang-barang berharga.

Semoga masukan ini bermanfaat dan kawan bisa menikmati liburan di Belanda dan Eropa dengan nyaman, tanpa mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Eka Tanjung siap memberikan saran untuk penginapan maupun transportasi dan akomodasi yang baik dan aman.

Menghubungi Serbalanda

Anak di Belanda, Dimanja Buku

Posted on Updated on

Belanda sangat mengutamakan budaya membaca. Perpustakaan menstimulir anak-anak kecil rajin ke perpustakaan. Interior perpustakaan Belanda dirancang agar anak-anak suka dan betah.

Memilih Buku di Perpustakaan
Memilih Buku di Perpustakaan

Sabtu kemarin, seperti sudah menjadi ritual kami, dua minggu sekali mengantar anak-anak ke perpustakaan, dalam bahasa Belanda disebut Bibliotheek. Hari itu saatnya si bungsu memilih sendiri 10 buku kesukaan yang akan dia pinjam dan baca nanti di rumah jelang tidur. Hari itu cukup istimewa karena cuaca bulan Ramadan di penghujung Juni ini cerah, kuat alasan bagi kami naik sepeda ke tempat yang hanya berjarak sekitar 3 km.

Kali ini kami naik sepeda sendiri. Alifa Mansini naik sepedanya sendiri yang berukuran roda 20 inch. Sudah sejak dua tahun ini Alifa naik sepeda roda dua. Jadi kami bisa bebas dengan sepeda masing-masing di bawah mentari yang cerah. Di perpustakaan kami mengembalikan 12 buku yang sudah habis dilalapnya dua pekan belakangan.

Hari ini kami mencari buku dari tingkatan yang lebih tinggi. Juffrouw Edith, wali kelasnya di kelas 1 SD Dalton Bommelstein kota Almere itu pada kesempatan evaluasi tahunan berpesan bahwa Alifa sudah bisa naik ke buku-buku bacaan tingkat 4E. Pengelompokan itu berdasarkan usia dan kemampuan baca. Alifa yang memang senang baca, mungkin lebih cocok: menjadi senang baca, mulai hari itu boleh memilih buku-buku yang lebih mengandung lebih banyak teks daripada gambar.

Lokasi koleksi bukunya bukan lagi di bagian balita, namun berpindah ke tempat anak-anak 6 tahun ke atas. Karena masih belum mengerti letaknya, penulis dibimbing dengan ramah oleh ibu pegawai Perpustakaan itu. Dia menunjukkan kelompok buku A. Di mana di dalamnya juga ada buku-buku 4E.

Cuaca Cerah
Cuaca Cerah

Sebagai orang tua, Eka Tanjung hanya bisa berdecak kagum mengamati tawaran buku-buku yang ditata dengan rapi di lokasi yang nyaman. Walaupun sudah puluhan tahun di Belanda, tetap saja setiap kali terkagum-kagum dengan cara kerja orang Belanda ini. Mereka itu serius, apapun diseriusi. Sisi positifnya, produk buatan Belanda lebih kualitas dibanding dengan Indonesia. Tapi di sisi lain Belanda akan stress kalau menghadapi situasi yang genting di luar kendalinya. Sementara kita, orang Indonesia, selalu bisa mencari justifikasi “Untung masih.. anu.”

Alifa yang sekarang berusia 7 tahun, sedang masanya ingin melakukan semua pekerjaannya sendiri. Sikat gigi sendiri, men-scan buku sendiri dan memilih buku kesukaanya juga sendiri. Bahkan dia membacanya buku-buku 4E ini sebelum memasukkan ke keranjang. Perhatiannya terpusat pada buku Pim & Pom, cerita anak-anak yang juga sudah difilmkan.

Perpustakaan Belanda disubsidi untuk membangkitkan semangat baca pada anak-anak dari sejak dini. Gratis, tidak dipungut beaya, anak-anak boleh pinjam 10 buku, asal buku dikembalikan lagi setelah empat pekan. Anak-anak Indonesia semustinya juga berhak mendapat kesempatan membaca. Agar mereka memperoleh peluang yg sama dengan anak-2 di negara yg lebih maju. Masa depan bangsa, ditentukan oleh minat belajar dan membaca pada generasi remaja.

2015-06-28 21.04.03

Tampaknya dia melihat dunia yang baru, buku-buku yang menyenangkan. Lebih banyak cerita daripada gambarnya. Jadi ia meminta izin untuk membawa pulang 20 buku, bukan 10 seperti jatahnya. Terpaksa penulis mengorbankan kartu member milik kakaknya.

Semoga dari buku-buku yang dibacanya membawa guna dan manfaat bagi pertumbuhannya menjadi manusia yang mandiri dalam tindak dan keputusannya.

Melihat luapan informasi berupa buku dan arsip, maka rasanya mustahil jika ada anak sekolah di Belanda yang tidak bisa menyelesaikan papernya dengan alasan kurang bahan. Sebab perpustakaan memberikan semua sarana dan prasarana baca.

Eka Tanjung, sebagai orang tua hanya bisa mengantarkan saja ke perpustakaan dan menyemangatinya bahwa buku-buku itu sangat berguna.

Petugas KBRI Datang dan Pergi, Aku Tetap di Sini

Posted on

2015-03-27 21.59.55Sebagai journalist indonesia yang sudah dua puluhan tahun aktif di Belanda, Eka Tanjung sudah pasti punya hubungan dengan para pekerja, pejabat dan duta di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag Belanda. Mereka datang dan pergi, sementara aku masih saja tetap di sini..

Para home staf yang dikirim dari Indonesia, datang dan pergi untuk masa penugasan dua sampai empat tahun. Walaupun jumlahnya hanya belasan, tetapi Eka Tanjung tidak mengenal semuanya. Selain karena tidak mudah mengingat nama orang (aduuh buka rahasia nih red.) juga karena tidak ada kebersentuhan.

Biasanya Eka Tanjung dan rekan lain wartawan seperti Bari Muchtar, banyak berurusan dengan bagian humas. Sampai beberapa bulan lalu kami banyak berhubungan dengan Pak Boni yang bernama lengkap. Bonifatius Herindra, dari bagian Pensosbud KBRI Den Haag.

Kami banyak berhubungan dan bertemu ketika Pak Boni melakukan tugasnya bersosialisasi dengan masyarakat Indonesia, Indo dan Belanda yang berurusan dengan budaya Indonesia.

Sedangkan kami journalist main-main aja mengunjungi kegiatan masyarakat sambil mencari sisi uniknya dan nyelenehnya. Kadan ketika temuan dituangkan dalam bentuk tulisan atau cerita bisa membuat pak Boni mengerenyitkan kepala dan menghubungi Eka Tanjung.

Jujur saja saya senang kalau sampai ada telepon dari Pak Boni. Berarti mereka membaca tulisan saya. Dan setahu saya Ibu Dubes Retno Marsudi juga termasuk rajin baca tulisan orang Indonesia tentang KBRI. Dan Eka Tanjung siap mempertanggungjawabkan tulisan karena selalu mencoba bersandar pada fakta. Fakta dan fakta. Kalau opini ya harus dicantumkan sebagai opini. Tidak boleh dicampuraduk.

Tidak Kenal
Beberapa bulan lalu Bari Muchtar dan saya menghadiri acara perpisahan Pak Boni dan beberapa pejabat KBRI lain yang ternyata sudah tahunan tugas di Belanda. “kok aku tidak kenal mereka ya? Kok hanya pak Boni yang aku tahu. Ini karena orang-orang itu yang kurang gaul atau karena aku yang kurang PDKT?”

Bimbingan
Pada acara itu juga ada beberapa pejabat baru yang memulai tugas di perwakilan diplomatik di Belanda. satu nama yang aku ingat adalah Pak Deden, di bagian politik kalau tidak salah. Pak Deden ini seperti namanya adalah orang Sunda. Dan dari logatnya sudah terdengar. “Mohon bimbingan saya dan keluarga yang masih baru di sini’, sapanya kepada semua orang yang menyalaminya dengan ucapan selamat datang.

Enak Didengar
Orang-orang KBRI zaman sekarang ini ramah-ramah dan pandai bergaul. Tutur kata mereka enak didengar. Sekarang saya banyak berurusan dengan Mas Danang Waksito. Beliau dari bagian Pensosbud yang baru KBRI. Dan juga kita sama-sama menyukai sepakbola. Dan anak-anak kami tidak ada yang bisa main bola. “Berapa lama lagi di Belanda?” itu sapaan yang lumrah sebagai pembukaan kepada diplomat di tempat penugasannya.

“Saya dua tahun lagi mas,” jawab Mas Danang sambil membenarkan kacamatanya yang mulai melorot lagi. Artinya dia akan pergi juga, dan saya akan hadir juga di acara perpisahannya. Sementara ketika ditanya balik oleh mas Danang. “Lha sampeyan berapa lama lagi?” saya terdiam dan menunduk .. heheh Mak Jleb..sejenak terdiam. “Ayo monggo minum kopi dulu” ajaknya memecahkan keheningan.

Mungkin Ini Facebooker Tertua Indonesia

Posted on Updated on

Lansia ini mungkin berhak masuk daftar MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia), sebagai orang Indonesia tertua yang rutin aktif di Facebook. Bi Etty yang tahun ini berusia 88 tahun masih aktif minimal dua jam sehari. Usianya lebih tua dari Persib Bandung.

Namanya Gartila Toeriresmi, berasal dari Jawa Barat kelahiran 1 November 1927. Dia pindah ke Rotterdam Belanda ikut suami di tahun 1950an. Almarhum suaminya, pria keturunan Suriname bernama Henk Tjen A Kwoei yang berprofesi sebagai guru.

Dia mulai punya akun Facebook sejak dikunjungi seorang keponakan dari Indonesia, empat tahun lalu. Keponakan inilah yang membuatkan akun Bi Etty di Facebook. Sejak itu pensiunan staf perpustakaan ini menghabiskan minimal dua jam sehari hanya untuk Facebook saja.  “Selain Facebookan, saya juga masih tulis email dan mengisi administrasi,” kata wanita beranak tiga itu.

Ganti Telepon
Bi Etty saat berita ini diturunkan April 2015, sudah punya kontak 450an orang, kebanyakan keluarganya di Indonesia. “Saya jadi bisa berhubungan dengan keponakan, cucu-cucu dan juga buyut.”  Etty merasa Facebook bisa menggantikan peran telefon dan mendekatkan keluarga besar yang terpisah antar benua. “Bagi saya Facebook ini seperti telepon dan email, malahan lebih bagus karena kita bisa membaca kembali bersama-sama, melihat foto dan pesannya tidak terbuang.”
Bi Etty Facebook
Bi Etty Facebook


Guru Sejarah

Selain kontak dengan keluarga keluarga, lansia kelahiran 1 November 1927 itu juga punya friends dari kalangan guru sejarah di Indonesia. Dengan usianya yang sudah lanjut, ia bisa menjadi sumber informasi tentang Bandung masa silam dan juga hubungan Belanda-Indonesia. Cocok sekali karena wanita yang masih tajam ingatan ini, adalah mantan dokumentalis di Perpustakaan Belanda.

Kesehariannya wanita yang masih senang berbahasa Sunda itu, aktif juga di lingkungannya di kota Rotterdam. Ia kerap kali diundang oleh kota praja Rottedam, dalam kegiatan masyarakat sebagai inspirator bagi anak-anak muda. Wanita yang sudah beruban rata itu, berslogan tidak ada kata “terlalu” tua untuk belajar. Aktisnya di Facebook merupakan bukti dari keuletannya mengenal teknologi baru dan Media Social.

Persib Kalah
Bi Etty menyadari bahwa ia merupakan kelompok langka untuk orang Indonesia yang aktif di Facebook. Tidak heran ketika salah seorang kontaknya terkejut melihat usianya, dan membandingkan dengan klub sepakbola ternama Bandung, Persib yang berdiri tahun 1933. “Aduh ibu, ternyata lebih tua dari Persib,” katanya menirukan tulisan di dindingnya.
Eka Tanjung dari Serbalanda  belum pernah mendengar ada sosok Indonesia di atas 88 tahun yang masih aktif lebih dari dua jam di Facebook. Jika ini demikian maka sudah selayaknya Gartila Toeriresmi masul catatat MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai orang tertua asal Indonesia yang aktif di Facebook. Semoga Bi Etty bisa terus dan lama menikmati media social dan berbagi pengalaman lewat Facebook.

Jalan Munir di Kawasan Tenang dan Sejuk Belanda

Posted on

Munirpad_01Hari ini 14 April 2015, kota Den Haag Belanda meresmikan jalan Munir. “Munirpad” sebagai pengabadian pejuang HAM Indonesia yang meninggal 11 tahun silam.

Ayo sempatkan merenung, jika ada waktu. Mari jadikan kawasan hijau “‘t Kleine Hout” sebagai tempat kumpul dan merenungi perjuangan Hak-hak Asasi Manusia! Kalau kawan berkesempatan, sebaiknya menghadiri acara ini. Sebagai warga Indonesia di Belanda, kehadiran sore ini merupakan bentuk kontribusi setetes air kesejukan bagi bara api pelanggaran HAM.

Schermafbeelding 2015-04-14 om 09.21.44

Indonesienu.nl
Beberapa hari ini puluhan media memberitakan rencana acara peresmian Jalan Munir ini. Baik yang berbahasa Indonesia maupun bahasa Belanda. Namun Eka Tanjung dari Serbalanda sudah sejak November tahun lalu membaca rencana peresmian Munirpad itu di Indonesienu.nl media online berbahasa Belanda yang dikelola oleh dua wartawan ulung Junito Drias dan Yunita Rismalawaty.

Schermafbeelding 2015-04-14 om 09.53.44

Media online yang menyoroti perkembangan hubungan Indonesia dengan Belanda ini merupan sumber acuan yang bisa dipercaya. Beritanya aktual dan ulasannya mengena. Serbalanda dengan senang hati membaca berita-berita dari Indonesienu.nl. Seperti halnya Serbalanda juga menjadikan BeritaBelanda.com sebagai sumber acuan berita-berita dari Belanda.