Serbalanda

Top 30 Oleh-Oleh dari Belanda

Posted on Updated on

Zwitsal_ParfumeKetika liburan ada baiknya membeli oleh-oleh khas setempat. Jika ke Belanda, bisa belanja oleh-oleh khas negeri Kincir Angin ini. Eka Tanjung dari Serbalanda mengumpulkan 30 jenis buah tangan yang bisa dibawa ke Tanah Air.

  • Keramik Delft Blue
  • Klompen, Sepatu Kayu
  • Kaos Timnas Oranje dan Klub Belanda
  • Eu de Zwitsal, Parfum Baby
  • Purol, bedak dan cream kulit.
  • Sepeda: Gazelle dan Fongers
  • Bunga Tulip
  • Drops
  • Knoppers
  • Hopjes, gula-gula khas Den Haag. (10)
  • Coklat
  • Stroopwafels
  • Kopi Bubuk
  • Teh
  • Kaastengels
  • Keju Belanda (Smoked Cheese)
  • Enk­hui­zer Jo­de­koek
  • Speculaas
  • Zaans Huisje Koek (Albert Heijn)
  • Gerookte Paling (20)
  • Mayonaise
  • Kruidenthee
  • Wilhelmina Pepermunt
  • Ontbijtkoek
  • Muisjes
  • Wijko Saus Sate
  • Rookworst (Sosis Asap)
  • Hagelsag
  • Pindakaas
  • Apelmoes. (30)

Tautan Menarik:

Penginapan Serbalanda Mendapat Respon Positief
Top 30 Resto HALAL, Indonesia – Suriname di Belanda
TOP 40 Restoran Halal di Amsterdam
Top 60 Macam Sambal di Belanda
Top 40 Restoran Indonesia di Belanda

 

Advertisements

Sejarah Nama Visa Schengen

Posted on Updated on

Museum_Schengen_02Eka Tanjung dari Serbalanda, akhir Agustus 2018 lalu berkunjung ke Schengen. Sebuah desa kecil di Luxemburg. Desa yang terletak persis di garis perbatasan tiga negara:  Jerman, Prancis dan Luxemburg itu menjadi penting sejak 14 Juni 1985.

Hari itu terjadi penandatanganan Kesepakatan antar Lima Negara Eropa. Lima pionirs ini Belanda, Luxemburg, Belgia, Jerman dan Prancis.

Jika kawan akan ke Eropa, maka diharuskan mengantongi visa Schengen. Hampir semua orang yang akan ke Eropa paham kewajiban itu, namun kita tidak sadar mengapa nama visanya Schengen.

Eka Tanjung sempat membuat rekaman video dari lokasi.

Schengen_Map

Wine Riesling
Mencolok bagi penulis adalah, ketika jalan-jalan ke desa legendaris ini ada dua hal.
Perkebunan anggur dan Pom Bensin di Luxemburg.

Lokasi Schengen yang berada di perbatasan tiga negara: Luxemburg, Jerman dan Prancis. Selain itu Eka Tanjung juga mencatat bahwa lokasi sepanjang sungai Mossel yang menjadi pembatas antara Luxemburg dan Jerman itu terdapat banyak perkebunan buah anggur sebagai bahan pokok untuk White Wine Riesling yang sangat terkenal di seluruh dunia itu. Hampir 5000 hektar lahan perkebunan anggur ini menjadikan Jerman sebagai produsen Wine Riesling terbesar dunia.

20180828_125641

20180828_125653

20180828_142518

20180828_142722
Dalam perjalanan kami ke Luxemburg melihat banyak pom bensin yang berjejer dalam skala 500 – 100 meter mendekati perbatasan Jerman dan Prancis. Sebabnya karena harga solar dan bensin di Luxemburg, sampai 30% lebih murah ketimbang di dua negara tetangganya. Tidak heran jika, banyak warga Prancis dan Jerman yang sekedar menyeberang 1 km untuk mengisi tangki. Dengan perbedaan sampai puluhan euro.

20180901_232243

Jika kawan ingin jalan-jalan ke Schengen dan ke Luxemburg City serta ke Kastil Vianden dan tempat menarik lainnya. Bisa menghubungi Serbalanda.

Menghubungi Serbalanda
Untuk info, hubungi kontak di atas.

Links:
Kiat Mengurus Visa Schengen Sendiri
Kiat Sukses Dapat Visa Schengen

Tour Tiga Tempat Yang Murah Meriah di Belanda
Sim Card Mudah dan Murah untuk Liburan di Eropa
Penginapan Murah Meriah di Belanda
Top 40 Macam Menu Makanan Indonesia di Belanda

Top 40 Resto HALAL non-Indonesia di Belanda.
Top 30 Resto HALAL, Indonesia – Suriname di Belanda
Top 60 Macam Sambal di Belanda
Top 40 Restoran Indonesia di Belanda
Top 40 Tempat Wisata Belanda

Pelajaran dari Fenomena Zohri (Repost)

Posted on Updated on

Dua hari ini perhatian tercurah pada kasus sukses Zohri (Lalu Muhammad). Sprinter 100 m yang meraih emas di Finlandia. Sukses Zohri menyambar emas, seperti tetesan air di gurun gersang. Ketika sudah bertahun-tahun Indonesia menantikan prestasi orang Indonesia di luar negeri. Ternyata Indonesia bukan hanya negara penikmat dan pecundang. Kejutan di luar ekspektasi. Suprise!

Seluruh rakyat Indonesia bangga, dari Presiden sampai rakyat jelata. Euforia yang lumrah untuk kondisi bangsa yang butuh suntikan semangat. Namun di saat yang sama, terjadi perkembangan kurang baik di seputar sukses ‘kecil’ yang diraih anak desa ini.

Supir mencoba memaparkan dari pandangan WNI (Warga Negara Indonesia) yang sudah kelamaan tinggal di luar.

 

1. Publik memasalahkan bendera Merah-Putih yang tidak ada di lokasi. Ketika Zohri keliling mencari Bendera, usai menembus garis finish. Dari posisi startnya di pinggir, line 8 menandakan dia tidak mencatat angka tercepat di babak seleksi.

Pole Posision bagi favorite adalah di jalur 3 – 4 atau 5. Kenapa tidak ada yang bawa bendera? Barangkali karena tidak ada yang menyangka, Zohri akan jadi pemenang, mengingat starting position yang tidak terlalu menguntungkan.

Mungkin juga karena olah raga atletik dianaktirikan dan kurang diminati, apalagi ketika di tempat lain sedang digelar Piala Dunia. Sepakbola adalah olah raga paling ramai di dunia. Publik Indonesia yang rela begadang nongkrongin televisi dini hari untuk nonton Belgia vs Prancis serta Croasia lawan England, harusnya berkaca diri.

Mengapa memilih nonton orang-orang yang bukan bangsa Indonesia? Dan mengenyampingkan anak bangsa yang berjuang di cabang olah raga lain, walaupun kurang favorite. Masalahnya sekarang apakah sepakbola lebih penting dari pada Merah-Putih?

2. Soal privacy Zohri. Hak memiliki perlindungan aset pribadi yang diinjak-injak media. Menyaksikan tayangan berbagai media Indonesia meliput latar belakang sukses Muhammad Zohri di Finlandia, sampai-sampai melakukan hal-hal di luar batas kebaikan.Barangkali karena supir sudah kelamaan domisili di luar negeri dan pengalaman 20 tahun menjadi wartawan, membuatnya menjadi kritis terhadap pemberitaan. Banyaknya tayangan dan wawancara di televisi tentang fenomena Zohri, memunculkan liputan dari berbagai sisi.

Ada media yang menyoroti sisi pemerintah. Mereka meminta tanggapan kemenpora dan presiden. Ada pula yang mewawancarai pelatihnya. Dan ada pula yang menanyai pendapat publik Indonesia tentang sukses ini. Tapi yang paling parah adalah soal pembuatan liputan film di rumah sang juara yang sangat-sangat sederhana itu. Tidak berlebihan kalau supir menangkap kesan, itu rumah orang yang kekurangan.

Privasi
Supir menilai, jika media mengangkat kesederhanaan kehidupan Zohri, sebagai inspirasi untuk maju. Itu adalah hal yang baik. Tapi kemudian yang disayangkan, kawan-kawan media ada yang kebablasan dengan membuat film dan gambar dari tempat tidur, dapur, lemari pakaian dan lainnya. Membuat film dari benda-benda yang sangat pribadi. Itu menurut supir adalah sebuah pelanggaran.

Sang supir akan keberatan kalau ada orang yang masuk-masuk ke kamar dan membuat film. Sekalipun itu bisa membuat supir jari tenar. Perasaan yang sama, juga mungkin dimiliki sang Juara dari Lombok ini. Ketika dirinya dan barang-barangnya menjadi konsumsi publik. Apalagi ketika dianya sendiri, sedang tidak berada di rumah. Bila ini adalah kebiasaan media melakukan liputan, maka perlu ada peninjauan kembali soal menghargai hak milik orang lain.

Mari menahan diri, sekalipun bisa membuat liputan sexy. Tempatkan seandainya Anda berada di posisi sang obyek. Maukah? Kalau tidak, ya tolong jangan lakukan itu.

3. Supir ingin menanggapi tentang pemikiran instant yang sudah merasuk pada aliran darah dan nadi bangsa Indonesia. Setiap sukes membuat publik massal mengikuti trend yang sedang berkembang. Dan trend ini akan hilang ketika Jagung masih pentil, kurang dari tiga bulan. 

Setelah itu lenyap. Sukses cabang Sprint 100m Men di Finlandia yang ditorehkan pemuda Indonesia, semua orang memuji kemudian ada pula yang mendomplang “nebeng” ketenaran anak kampung ini. Tampak di televisi, maaf lagi-lagi media, yang memunculkan kedermaan seorang pengacara tenar, yang menjanjikan sekian jumlah uang. Tak lama berselang muncul pemuka agama, sambil bersuara lantang menjanjikan akan memberikan tiket pelgrimage Umrah ke Tanah Suci.

Sebuah pemberian yang perlu diacungi jempol. Mungkin sang penerima akan senang sangat. Hanya kalau dinilai dari sisi keikhlasan dan nilai pahalanya, maka supir kuatir pahalanya cumadi TV saja. Sebab di sana supir merasakan ada Riya, atau kasarnya pamer. Bukankan pemberian itu akan memiliki kandungan nilai pahala kalau tidak dipamerkan. Urusannya antara pemberi dengan penerima dan Tuhan.

Jadi sebaiknya mata publik tidak boleh lihat. Tangan kanan memberi, tangan kiri jangan tahu. Ini memberi dengan sesumbar di acara televisi, dan semua orang Indonesia tahu. Apakah kita harus berdecak kagum:”Waah hebat dia, suka memberi.” Dia bukan satu-satunya, pemerintah juga akhirnya ikut terhanyut dalam euforia itu dan menjanjikan beasiswa kepada sang juara. Ini hal baik dari pemerintah.

Hanya saja, kalau memang ingin memajukan anak bangsa, jangan tunggu dia sukses dulu. Tapi beasiswa atau pendidikan harus diberikan bukan sebagai reward, tapi sebagai kebijakan. Mencegah kriminalitas dan pengangguran dan kemiskinan dengan memberikan beasiswa atau pendidikan gratis untuk semua orang sampai ke jenjang paling tinggi. Orang ingin sekolah karena dia ingin maju, memakan dana.

Tapi proses lama yang membawa negara akan maju. Beda dengan koruptor yang juga memakan dana, bukan untuk memajukan negara. Tapi cara cepat memperkaya diri. Satu aspek lagi yang menjadi perhatian supir adalah, wawancara televisi dengan pelatih Zohri. Seorang ibu senior dari pelatnas (Eni Nuraini) yang diwawancara, bagaimana pelatnas bisa menangani Zohri sejak 6 bulan sebelum perlombaan di Finlandia.

Hingga akhirnya bisa juara. Hallooow.. apakah awak media lupa bahwa enam bulan lalu, Zohri sudah matang dan mungkin tinggal polesan saja. Kalau menurut supir, yang perlu digali adalah, sosok yang memberikan ilmu atletik dan dorongan mental sejak masih kanak-kanak sampai enam bulan silam. Siapa gerangan? Bapaknya? Pamannya? Guru SMP nya?

Mewawancara peletak pondasi sukses itu, bisa menulari sukses-sukses lainnya. Sehingga publik luas akan bisa memahami dan memetik pelajaran bahwa sukses bukan hasil instan 6 bulan. Tapi kerja keras bertahun-tahun. Harapannya pada remaja Indonesia akan tersengat dan termotivasi mengikuji jejak Lalu Mohammad Zohri dalam membangun sukses dari bawah. Bahwa kemiskinan bukan hampatan untuk bisa meraih impian. Rumah reyot bukan halangan untuk sukses!

Penulis: Eka Tanjung. Pemilik Perusahaan Tour dan Travel Serbalanda Tour.
Menghubungi Serbalanda

Tiket Kereta Belanda yang Murah

Posted on Updated on

Kruidvat_NS_01Harga tiket Kereta Api di Belanda tidak selalu mahal. Ada pekan-pekan tertentu yang dijual secara harga promo. Bahkan sampai separoh harga normal. Serbalanda mengumpulkan beberapa tips membeli tiket murah Kereta Api Belanda. Buruan Persediaan Terbatas!

Tawaran ini sebenarnya diperuntukan bagi public locals Belanda. Itu sebabnya website mereka tidak menyediakan pilihan selain Bahasa Belanda.

Kruidvat_NS_02

Di satu pekan, Kruidvat menawarkan tiket promo kereta Api di Belanda. Bisa ke Markthal dan Cube Houses di Rotterdam, lanjut ke Damrak di Amsterdam, Down Town di Maastricht, Shopping di Outlet Roermond, semuanya dijangkau hanya dengan €16 saja.

Murah Jauh
Dalam ticket promo itu kadang diselipkan promo-promo lainnya yang juga menarik. Dengan segala kerendahan hati, supir serbalanda beberapa kali telah membantu membelikan tiket murah kereta api untuk pada tetamu.

Dengan harga yang murah dan secara mudah mereka bisa jalan-jalan ke Maastricht, Roermond dan Amsterdam dalam sehari. Hanya dengan €16,- saja.

Ayo buruan diserbu. Karena berlaku sampai tanggal 26-08-2018. TAPI dijualnya hanya pekan ini. Bisa lewat website:  Kruidvat  atau bisa juga beli di tokonya langsung: Toko Kruidvat. Silakan mencari toko terdekat di sini.
Info:
Menghubungi Serbalanda

Link menarik soal transportasi Murah di Belanda:
Inilah Ticket Murah Kereta di Belanda
Angkutan Umum di Belanda
Kiat Hemat Liburan ke Belanda
Transport dari-ke Airport Schiphol
Transit di Amsterdam: Wisata Singkat Berkesan
Info Locker Stasiun Kereta Belanda

Magere Brug, Jembatan Kayu Amsterdam

Posted on Updated on

Eka Tanjung dari Serbalanda sudah kerap mengunjungi Jembatan Skinny Bridge atau yang aslinya bernama Magere Brug. Jembatan ini membelah sungai Amstel sungai terbesar di ibukota. Menarik untuk melirik versi cerita tentang jembatan ini.

Amsterdam_20180526_105523
Dihiasi Banyak Kembang Tulip khas Belanda
Amsterdam_20180526_105127
Pejalan Kaki dan Sepeda banyak berlalu-lalang di Jembatan Magere Brug.

Amsterdam_20180526_104909

Setiap hari menjadi tempat menyeberang bagi penunggang sepeda dan pejalan kaki. Tetamu Serbalanda senang jika berkesempatan untuk berfoto di jembatan bersejarah itu. Terkadang jembatan diangkat untuk memberi kesempatan kapal-kapal yang melintas di Sungai Amstel.

Monumen Nasional
Jembatan Kayu ini terletak di sungai Amstel. Jembatan angkat ini menghubungkan Kerkstraat – Nieuwe Kerkstraat, antara Keizersgracht – Nieuwe Keizersgracht dan Prinsengracht – Nieuwe Prinsengracht. Jembatan ini merupakan monumen nasional sejak tahun 2002.

James Bond
14 Juni 2015 dianugerahi ICOMOS Water and Heritage Shield (Water & Heritage Awareness Shield). Pada setiap 5 Mei, jembatan ini jadi pusat pertunjukan musik memperingati pembebasan Belanda pada Perang Dunia II.

Selain itu, jembatan unique ini dipakai sebagai salah satu latar film-film ternama, antara lain James Bond: “Diamonds Are Forever” Sean Connery.

Kawan bisa mengunjungi Magere Brug atau Skinny Bridge ini dengan berbagai cara. Eka Tanjung dari Serbalanda bisa memberikan informasi tentang kunjungan ke tempat ini maupun tempat lain wisata di Belanda maupun di Eropa.

Bahkan kunjungan ke Skinny Bridge ini bisa dikombinasi dalam Transit Tour. Silakan menghubungi salah satu kontak di bawah ini.

Menghubungi Serbalanda

Links Menarik:

 

Serbalanda Rebut Kembali Dompet dari Copet

Posted on Updated on

Awas_Copet_01Eka Tanjung dari Serbalanda, berhasil membatalkan aksi pencopetan di Volendam. Mendapati, tas tamu terbuka, penulis langsung mengejar pelaku dan meminta dompet dikembalikan. Alhasil wanita berrambut pirang itu menjatuhkan dompetnya dan ngeloyor tanpa dosa. Pembelajaran yang luar biasa berguna.

Insiden terjadi pada 18 Mei 2018 lalu di pelabuhan lama Volendam. Hari itu seperti biasa, penulis mengantar tetamu jalan-jalan menikmati Tour Tiga Tempat TT4: Zaanse Schans, Volendam dan Giethoorn.

Kami membawa lima orang tamu dari dua group berbeda. Satu rombongan: Ibu Rozalita dan Nabila, putrinya yang dijemput di penginapan Osdorp Amsterdam. Rombongan lain Pak Anton dan dua saudaranya dijemput di Koog aan de Zaan.

Tas_Terbuka_Copet
Tas Terbuka, Sasaran Empuk Pencopet.

Memulai dengan Zaanse Schans, kompleks Kincir Angin Trasional yang Indah. Bergerak perlahan dari Jembatan Juliana yang legendaris itu. Pemandangan dari Jembatan Julina ini tidak selalu didapat kalau kawan menggunakan wisata umum. Sebab gerbang masuk ke daerah ini bukan dari tempat parkiran bus dan kendaraan pribadi dekat Museum Zaandam. Tapi dari arah sebaliknya.

ZaanseSchans01
Zaanse Schans, tampak dari Jembatan Juliana.


Zaanse Schans

Perjalanan di Zaanse Schans lancar jaya. Kami bisa berfoto di berbagai spot-spot menarik seputar kincir angin tradisional. Mengunjungi Cheese dan Clogs Factory yang berada di wilayah pertanian luas itu. Tentu saja selain mencicipi enaknya keju beraneka rasa, para tetamu ingin melakukan besuk ke rest room alias pipis. Maklum tetamu dari negeri tropis sering mengeluhkan ingin ke kamar kecil. Itinya di Zaanse Schans enjoy dan lancar. Sebelumnya Serbalanda pernah membuat tulisan tentang Pipis di Belanda.

20160325_174304
Supir Serbalanda Tetap Mewaspadai Kondisi di Volendam.

Volendam
Insiden pencopetan terjadi setelah Zaanse Schans. Pada destinasi kedua, di Volendam. Beberapa tamu ingin makan ikan goreng khas Belanda. Mereka mengantri di De Lunch, restoran ikan yang tersohor di sepanjang bendungan. Menurut resensi Tripadvisor, restoran ini menduduki posisi kedua dalam kategori resto olahan ikan di Volendam dan nomor 1 di kawasan itu.

Barang_Copet_02
Tas Ditinggal, Pemilik Berselfie

Bukan saja copet yang mencari mangsanya. Tapi Serbalanda, sering memergoki juga kawan-kawan dari Indonesia kurang fokus dengan barang-barangnya. Kerap kali mereka kedapatan meninggalkan barang berharga seperti tas dan kamera di tempat terbuka, jauh dari lokasinya. Dengan dalih ribet atau tidak “kece”  kalau berfoto pakai tas.

Barang_Copet_01
Tas dan GoPro ditinggal, Pemilik Berfoto Rame-rame

Eka Tanjung tentu menyarankan tetamu ke sana. Bisa makan di dalam atau pilih Take Away makan di luar yang lebih murah. Bisa dimaklum, karena makan dalam resto harganya €5,- per porsi lebih mahal katimbang di bawa pergi dan makan di bangku luar. Kebetulan hari itu cuaca memang menunjang.

Volendam Kibeling
Kibbeling dan Saus

Kibbeling
Volendam siang itu tidak terlalu ramai, hanya ratusan orang yang lalu-lalang sepanjang dam. Biasanya sampai ribuan. Pak Anton salah satu tamu kami mengantri di sana untuk pesan Gebakken Kibbeling met Saus. Atau Ikan Cod Goreng Tepung dengan Saus Remolada. Salah satu favorite di sana. Dagingnya tebal dan segar.

Mencurigakan
Sembari menantikan Kibbeling masak digoreng, Pak Anton berdiri menunggu di depan vitrine atau stand. Pada saat itu Eka Tanjung merasa ada sepasang pria dan wanita Eropa postur tinggi dan wanita berambut pirang berpakaian rapi dengan selendang wol menyelempang di depan dadanya.

Penulis curiga dengan gelagat dua orang yang ikut mengantri di belakangan pak Anton, tamu kami, yang membawa tas pundak di samping kanannya. Dengan rasa curiga, penulis yang tadinya menyatu di samping pak Anton, akhirnya mundur ke seberang jalan sambil terus mengawasi mereka.

Tas Terbuka
Walau ada rasa tidak nyaman, tapi penulis masih belum sepenuhnya yakin dua orang bule ini punya niat akan mencopet. Tapi keraguan itu segera sirna dalam hitungan satu menitan, ketika Pak Anton mendapatkan Kibbelingnya dari tangan penjual ikan, dan berbalik ke arah penulis untuk duduk menikmati pesanannya.

Copet_20180524_174509
Tempat Kejadian Perkara (TKP)

Dalam sekejap penulis melihat tas bahu pak Anton terbuka lebar dan kami langsung memintanya melihat apakah dompetnya masih ada.

Penulis:”Pak kok tasnya terbuka? Tolong dompetnya dicek, apa masih ada?”
Pak Anton: “Sudah tidak ada. Hilang!”

Saat itu juga tanpa pikir panjang, penulis langsung lari mengejar dua orang tadi yang berjalan ke arah yang berlawanan. Dengan berlari menyusul dua pelaku dan berbalik badan di jarak 1 meter. Dengan nada kesal dan sok yakin, penulis berteriak. “Haaai you. Give back his wallet!!”

Gerak Cepat
Seketika itu juga terdengar suara “praak!”. Sesuatu jatuh di lantai jalan. Rupanya sang pelaku perempuan, menjatuhkan dompet pak Anton dari tangannya yang berada di balik baju ponchonya. Penulis tanpa berpikir untuk menangkap kedua pelaku, langsung saja mengambil dompet yang masih utuh termasuk uang recehan yang menimbulkan bunyi prak ketika dijatuhkan ke lantai.

Anton_20180524_230252
Pak Anton dan Tasnya Selamat dari Pencopetan.

Dompet Kembali
Penulis mengembalikan dompet kepada Pak Anton dan meminta beliau mengecek apakah ada yang terambil. Rasa lega ketika semua masih utuh, walau sempat 2 menit berada di tangan copet.

Setelah mengumpulkan semua peserta tour dan menanyai tentang kondisi barang-barang mereka, kami melanjutkan perjalanan. Beberapa menit kemudian Adrenaline menurun kembali dan suasanapun mereda.  Kami pun bisa tertawa-tawa menceritakan kejadian tadi. Seandainya bila tadi dompet hilang dan tak kembali, mungkin moodnya jadi akan jauh berbeda.

Anton_Testi_01
Dompet Selamat, Pak Anton dan Tetamu Ceria di Day 2.

 

Jaime_Dam_20180524_200625
Bersama Jaime van Gastel. Sang Pemburu Copet

Sesampainya di rumah penulis sempat berfikir dan merenung. Apa yang membuat dirinya jadi berani beraksi mengejar pelaku dan menuntut dompet kembali.
Ada beberapa alasan:
1. Sudah beberapa kali terjadi di Volendam. Bahwa tamu kehilangan dompet atau uangnya ketika berbelanja.
2. Sudah kerap mendengar dari pemandu dan tetamu bahwa mereka di tempat lain juga menjadi korban pencopetan. Atau jadi saksi rekan kehilangan dompet.
3. Sering membaca berita dari kepolisian bahwa belakangan ini banyak sindikat pencopet dari negara-negara Rumania dan Bulgaria yang sangat aktif di Eropa Barat. Jerman, Belanda, Belgia, Prancis, Spanyol dan di Italia.
4. Penulis belajar dari Jaime van Gastel, De Boevenspotter. Atau Jaime sang Pemburu Copet. Dia sudah 20 tahun berburu copet-copet yang aktif di Belanda dan mengabadikannya. Jaime bekerjasama dengan team anti-copet di Amsterdam. Dia, yang berprofesi sebagai pemilik boutique pakaian, punya akses langsung ke satuan polisi ini. Aktivitasnya bisa dilihat di Kanal Youtubenya. “De Boevenspotter”

Jaime mengatakan bahwa untuk kebaikan dan keamanan, kita jangan takut pada penjahat. Seperti diungkapkannhya ketika kita berbincang di De Dam Amsterdam. Sehari setelah insiden pencopetan di Volendam.

Pesan Eka Tanjung kepada para wisatawan, terkhusus kawan-kawan dari Indonesia. Mohon tetap jaga barang. Fokus dan saling mengawasi.

Tautan Menarik:

 

Cari Makan Gratis di Belanda

Posted on Updated on

Cendol atau Dawet
Pic: Serbalanda. Cendol

Jika kita cermati, di Belanda banyak makanan gratis. Padahal harga makanan di Belanda, secara umum lebih mahal daripada di Indonesia. Namun pada saat-saat tertentu justru sebaliknya. Makanan Indonesia jelas lebih murah di warung Indonesia. Tapi susu segar, keju dan buah-buahan segar seperti Apel, Pir dan Anggur rata-rata lebih  murah di Belanda. Inilah kiatnya mendapat makanan gratisan..

Makan Gratis
Di bulan Ramadan, mesjid-mesjid di Belanda memberikan kesempatan bagi semua orang untuk bisa makan bersama di jam-jam buka puasa (Iftar) dan kadang ada yang membuka pintunya untuk makan Sahur. Mohon diperhatikan jika mencari makanan secara cuma-cuma, hanya di mesjid yang besar. Biasanya yang punya dapur dan alat masak sendiri.

Mesjid-mesjid ini menyediakan makanan yang disumbangkan oleh umat. Karena umat islam meyakini bahwa memberi makan orang lain akan membawa pahala. Apalagi memberi makan orang yang sedang berpuasa.

Mesjid Besar di Amsterdam:

  • Mesjid Fatih (Turki) Rozengracht 150, 1016 NJ Amsterdam
  • Westermoskee Aya Sofya (Turki) Piri Reïsplein 101, 1057 KH Amsterdam
  • Taibah (Pakistan) Kraaiennest 125, 1104 CH Amsterdam

Gratis Buat Semua
Kalau kawan ingin makan tapi tidak berpuasa, tidak masalah. Menurut pengalaman Eka Tanjung dari Serbalanda yang sudah 30 tahun lebih domisili di Belanda. Kawan-kawan di mesjid tidak akan mengecek identitas atau agama kita. Paling sesekali ada yang tertarik bertanya, tapi itu berdasarkan niat baik. Kalau dijawab, saya bukan muslim pun, mereka tidak akan merebut kembali Daging Nasi Kebuli dari tangan kawan.

Jumat Gratis
Makanan gratis di Belanda bukan saja bisa diperoleh di Bulan Ramadan saja yang tahun 2018 ini jatuh kurang lebih antara 15 Mei – 16 Juni 2018.  Tetapi di setiap hari Jumat pun ada makanan gratis. Setiap mesjid (besar) di Belanda ada ruang umum, untuk pertemuan dengan warga sekeliling baik muslim maupun non-muslim. Setiap selesai Jumatan, di ruang itu banyak tersedia makanan kecil dan camilan sumbangan dari para umat. Biasanya makanan ini disediakan di luar bualan Ramadan.

Aneka Ragam
Kalau kawan kebetulan ingin mengisi perut atau sekedar ingin tahu, datang saja ke mesjid-mesjid di dekat lokasi. Perut terisi tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun. Rasa ingin tahu juga terobati. Karena keragaman umat Islam di Belanda, menurut amatan Serbalanda, lebih diversitas dibanding di Indonesia.

Jadi makanan yang tersedia pun lebih bervariasi di Belanda daripada di Indonesia. Tajil di Indonesia macamnya tidak sebanyak di Belanda yang punya latar belakang semua etnik yang menghuni negeri Kincir Angin ini. Tajil Somalia, Tajil Turki, Tajil Maroko, Tajil Kazakhstan, Tajil Suriname, Tajil Belanda. Dan tentunya kalau di Mesjid Indonesia Tajilnya bisa Kolak Pisang atau Dawet serta Kolang Kaling.

Selamat menikmati makanan gratisan di Belanda. Apa salahnya kalau toh memang sedang berhemat saat liburan.

Tautan Menarik :