Makanan Kampung Laris di Belanda

Posted on Updated on

2015-02-07 11.04.17Perempuan Indonesia di Belanda sering kumpul untuk mengobati rasa rindu. Beruntung mereka tinggal di negeri yang banyak rekan sesama dari Indonesia. Salah satu acara yang paling seru adalah arisan dan praktek bikin makanan kampung. Sore ini Eka Tanjung disuguhi Kueku, asli kampung.

Rasanya enak sekali, mengingatkan saat-saat di kampung dulu.Kenyal-kenyal dan dalamnya isi kacang ijo bubuk dicampur gula dan sedikit garam, sehingga rasanya manis legit. Makanan yang sebenarnya secara gizi atau vitamin tidak istimewa, tapi secara memori bathin memberi siraman kebahagiaan. Saat mulut mengunyah makanan lembut itu, lidah bergoyang seperti tidak mau berhenti. Penulis menambah waktu kunyah 20 kali lebih banyak daripada makan kentang atau makanan lain.

2015-02-07 13.18.34Sementara lidah termanjakan, pikiran sesaat berkelana ke kampung halaman.  Ku coba pertahankan makanan sebisanya di mulut selama mungkin. Rasanya mak nyusss tenan. Tidak ingin menelannya.

Sore itu ku ulangi sampai tiga kali ritual itu, karena memang kebetulan kuenya baru keluar dari kukusan. Hangat .. seperti suhu tubuh..

Kue itu hasil praktik orang rumah dari hasil berguru beberapa hari lalu dalam acara temu kangen dengan sesama wanita Indonesia.

Ratu Rumah Tangga
Istri memilih berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan bertugas full untuk anak-anak kami. Dia lebih banyak di rumah. Menjadi Ratu Rumah Tangga, yang mengatur urusan rumah tangga yang tidak kalah pelik dibanding pekerjaan kantoran. Waktu yang masih bersisa dimanfaatkan untuk bersosialisasi dengan sesama wanita Indonesia yang berdomisili di Almere.

Spesialitas
Lewat media Whatsapp dan Facebook mereka sering berkoordinasi untuk janjian kumpul mempraktikan membuat kue-kue kampung. Mereka bergiliran memperagakan cara memasak makanan spesialisasi masing-masing. Jika satu wanita menguasai dua masakan, maka ketika 10 orang  berkumpul seminggu sekali sudah bisa bertemu kangen selama setengah tahun.  Di akhir perjalanan setiapnya memiliki keahlian 20 jenis panganan dan resep makanan.

labusiam_ebiPenulis sudah berulang kali dikejutkan makanan kampung seperti Bakwan Malang, Lapis Surabaya, Samosa, Bakso, Siomay Bandung, Martabak Manis, Martabak Mesir, Pastai, Kueku, Lemper dan lain-lain. Rasanya sungguh tidak kalah dari yang kita temui di pinggir-pinggir jalan di Tanah Air.

Masakan yang dibuat di rumahan di Belanda, menggunakan bahan-bahan ‘terbaik’ tanpa menimbang untung rugi, karena tidak untuk dijual. Eka Tanjung merasakan betul beda makana jajanan dengan makanan rumahan dari rasa minyaknya. Makanan yang menggunakan minyak baru berbeda rasa dengan minyak yang sudah lama.

Kue yang konon namanya “Kueku” itu juga rasanya sangat uenak tanan.  Tapi kalau penulis boleh memberi nama yang lebih cocok adalah “Kue Seksi” karena warnanya merah menantang. Eka Tanjung tidak setuju dengan kawan di Jawa Timur yang menyebutnya “Moto Kebo.”

Sebab sebagai mantan penggembala Kerbau di dusun Pendem dekat Sex Mountain, Gunung Kemukus penulis tidak tahu kalau panganan berwarna mencolok itu bernama Mata Kerbau. Penulis tahu betul ketika tengkurap di atas punggung kerbau dahulu, biasanya sembari memandangi tanduk dan telinga kerbau yang bergoyang-goyang. Kipasan daun telinga kerbau itu lebih menghiraukan kerumunan serangga daripada beban sekitar 20kg di pundaknya.

Dari posisi saya tengkurap di atas punggung kerbau tidak bisa melihat matanya, karena tertutup bulu matanya yang putih. Sesekali dia mengangkat kepalanya untuk mengenyahkan lalat menghisap darah, sesekali matanya tampak. Tapi mata itu warna pupilnya hitam dan sekitarnya putih biasa. Jadi tidak ada mirip-miripnya dengan Kue yang disuguhkan orang rumah sore ini menemani secangkir teh panas Cap Potji.

Orang yang menamai Moto Kebo, kue merah berisi kacang ijo halus itu tidak mengenal kerbau dengan baik. Tapi oke lah, saya lebih baik cerita tentang aktivitas memasak pada ibu-ibu Indonesia di Belanda.

Eka Tanjung sering menemukan wanita dan pria Indonesia di Belanda ini menjadi mandiri dan pinter masak setelah pindah ke Belanda. Mungkin karena ketularan oleh budaya Belanda yang cenderung mengerjakan tugas rumah tangga sendiri. Memasak sendiri, mencuci baju, setrika, membersihkan lantai, membersihkan WC dan kamar mandi, mengencat dinding memasang pagar, memasang lemari dll.

Tidak Ada Pembantu
Kadang ada pula yang menyuruh orang lain untuk mengerjakan tugas rumah tangga maupun pertukangan. Di Belanda ini kebanyakan mengerjakan sendiri tugas-tugas rumah tangga. Suami istri biasanya berbagi tugas. Bahkan suami istri di Belanda bagi tugas dengan “adil.” Semua tugas dibagi dua bergantian per hari. Seperti dituturkan kawan keturunan Jawa Suriname. Dia dan istrinya yang orang Belanda, sepakat bergantian memasak. “Saya kebagian Senin-Rabu-Jumat, masak makanan Jawa. Hari-hari lain giliran istri saya masak makanan Belanda.” Penulis menjumpai Paul Paimin itu di pelataran sekolah, karena kami sama-sama menjemput anak pulang sekolah. Sesama orang berakar di Indonesia biasanya cepat saling sapa.

Satu topik yang menyatukan semua orang yang berakar di Nusantara adalah doyan makan. Kalau ngomongin makanan bisa berlama-lama sambil air liur ngeces. Kami di rantau selalu rindu makanan kampung.

Advertisements