Petugas KBRI Datang dan Pergi, Aku Tetap di Sini

Posted on

2015-03-27 21.59.55Sebagai journalist indonesia yang sudah dua puluhan tahun aktif di Belanda, Eka Tanjung sudah pasti punya hubungan dengan para pekerja, pejabat dan duta di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag Belanda. Mereka datang dan pergi, sementara aku masih saja tetap di sini..

Para home staf yang dikirim dari Indonesia, datang dan pergi untuk masa penugasan dua sampai empat tahun. Walaupun jumlahnya hanya belasan, tetapi Eka Tanjung tidak mengenal semuanya. Selain karena tidak mudah mengingat nama orang (aduuh buka rahasia nih red.) juga karena tidak ada kebersentuhan.

Biasanya Eka Tanjung dan rekan lain wartawan seperti Bari Muchtar, banyak berurusan dengan bagian humas. Sampai beberapa bulan lalu kami banyak berhubungan dengan Pak Boni yang bernama lengkap. Bonifatius Herindra, dari bagian Pensosbud KBRI Den Haag.

Kami banyak berhubungan dan bertemu ketika Pak Boni melakukan tugasnya bersosialisasi dengan masyarakat Indonesia, Indo dan Belanda yang berurusan dengan budaya Indonesia.

Sedangkan kami journalist main-main aja mengunjungi kegiatan masyarakat sambil mencari sisi uniknya dan nyelenehnya. Kadan ketika temuan dituangkan dalam bentuk tulisan atau cerita bisa membuat pak Boni mengerenyitkan kepala dan menghubungi Eka Tanjung.

Jujur saja saya senang kalau sampai ada telepon dari Pak Boni. Berarti mereka membaca tulisan saya. Dan setahu saya Ibu Dubes Retno Marsudi juga termasuk rajin baca tulisan orang Indonesia tentang KBRI. Dan Eka Tanjung siap mempertanggungjawabkan tulisan karena selalu mencoba bersandar pada fakta. Fakta dan fakta. Kalau opini ya harus dicantumkan sebagai opini. Tidak boleh dicampuraduk.

Tidak Kenal
Beberapa bulan lalu Bari Muchtar dan saya menghadiri acara perpisahan Pak Boni dan beberapa pejabat KBRI lain yang ternyata sudah tahunan tugas di Belanda. “kok aku tidak kenal mereka ya? Kok hanya pak Boni yang aku tahu. Ini karena orang-orang itu yang kurang gaul atau karena aku yang kurang PDKT?”

Bimbingan
Pada acara itu juga ada beberapa pejabat baru yang memulai tugas di perwakilan diplomatik di Belanda. satu nama yang aku ingat adalah Pak Deden, di bagian politik kalau tidak salah. Pak Deden ini seperti namanya adalah orang Sunda. Dan dari logatnya sudah terdengar. “Mohon bimbingan saya dan keluarga yang masih baru di sini’, sapanya kepada semua orang yang menyalaminya dengan ucapan selamat datang.

Enak Didengar
Orang-orang KBRI zaman sekarang ini ramah-ramah dan pandai bergaul. Tutur kata mereka enak didengar. Sekarang saya banyak berurusan dengan Mas Danang Waksito. Beliau dari bagian Pensosbud yang baru KBRI. Dan juga kita sama-sama menyukai sepakbola. Dan anak-anak kami tidak ada yang bisa main bola. “Berapa lama lagi di Belanda?” itu sapaan yang lumrah sebagai pembukaan kepada diplomat di tempat penugasannya.

“Saya dua tahun lagi mas,” jawab Mas Danang sambil membenarkan kacamatanya yang mulai melorot lagi. Artinya dia akan pergi juga, dan saya akan hadir juga di acara perpisahannya. Sementara ketika ditanya balik oleh mas Danang. “Lha sampeyan berapa lama lagi?” saya terdiam dan menunduk .. heheh Mak Jleb..sejenak terdiam. “Ayo monggo minum kopi dulu” ajaknya memecahkan keheningan.

Advertisements