KBRI

Petugas KBRI Datang dan Pergi, Aku Tetap di Sini

Posted on

2015-03-27 21.59.55Sebagai journalist indonesia yang sudah dua puluhan tahun aktif di Belanda, Eka Tanjung sudah pasti punya hubungan dengan para pekerja, pejabat dan duta di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag Belanda. Mereka datang dan pergi, sementara aku masih saja tetap di sini..

Para home staf yang dikirim dari Indonesia, datang dan pergi untuk masa penugasan dua sampai empat tahun. Walaupun jumlahnya hanya belasan, tetapi Eka Tanjung tidak mengenal semuanya. Selain karena tidak mudah mengingat nama orang (aduuh buka rahasia nih red.) juga karena tidak ada kebersentuhan.

Biasanya Eka Tanjung dan rekan lain wartawan seperti Bari Muchtar, banyak berurusan dengan bagian humas. Sampai beberapa bulan lalu kami banyak berhubungan dengan Pak Boni yang bernama lengkap. Bonifatius Herindra, dari bagian Pensosbud KBRI Den Haag.

Kami banyak berhubungan dan bertemu ketika Pak Boni melakukan tugasnya bersosialisasi dengan masyarakat Indonesia, Indo dan Belanda yang berurusan dengan budaya Indonesia.

Sedangkan kami journalist main-main aja mengunjungi kegiatan masyarakat sambil mencari sisi uniknya dan nyelenehnya. Kadan ketika temuan dituangkan dalam bentuk tulisan atau cerita bisa membuat pak Boni mengerenyitkan kepala dan menghubungi Eka Tanjung.

Jujur saja saya senang kalau sampai ada telepon dari Pak Boni. Berarti mereka membaca tulisan saya. Dan setahu saya Ibu Dubes Retno Marsudi juga termasuk rajin baca tulisan orang Indonesia tentang KBRI. Dan Eka Tanjung siap mempertanggungjawabkan tulisan karena selalu mencoba bersandar pada fakta. Fakta dan fakta. Kalau opini ya harus dicantumkan sebagai opini. Tidak boleh dicampuraduk.

Tidak Kenal
Beberapa bulan lalu Bari Muchtar dan saya menghadiri acara perpisahan Pak Boni dan beberapa pejabat KBRI lain yang ternyata sudah tahunan tugas di Belanda. “kok aku tidak kenal mereka ya? Kok hanya pak Boni yang aku tahu. Ini karena orang-orang itu yang kurang gaul atau karena aku yang kurang PDKT?”

Bimbingan
Pada acara itu juga ada beberapa pejabat baru yang memulai tugas di perwakilan diplomatik di Belanda. satu nama yang aku ingat adalah Pak Deden, di bagian politik kalau tidak salah. Pak Deden ini seperti namanya adalah orang Sunda. Dan dari logatnya sudah terdengar. “Mohon bimbingan saya dan keluarga yang masih baru di sini’, sapanya kepada semua orang yang menyalaminya dengan ucapan selamat datang.

Enak Didengar
Orang-orang KBRI zaman sekarang ini ramah-ramah dan pandai bergaul. Tutur kata mereka enak didengar. Sekarang saya banyak berurusan dengan Mas Danang Waksito. Beliau dari bagian Pensosbud yang baru KBRI. Dan juga kita sama-sama menyukai sepakbola. Dan anak-anak kami tidak ada yang bisa main bola. “Berapa lama lagi di Belanda?” itu sapaan yang lumrah sebagai pembukaan kepada diplomat di tempat penugasannya.

“Saya dua tahun lagi mas,” jawab Mas Danang sambil membenarkan kacamatanya yang mulai melorot lagi. Artinya dia akan pergi juga, dan saya akan hadir juga di acara perpisahannya. Sementara ketika ditanya balik oleh mas Danang. “Lha sampeyan berapa lama lagi?” saya terdiam dan menunduk .. heheh Mak Jleb..sejenak terdiam. “Ayo monggo minum kopi dulu” ajaknya memecahkan keheningan.

Advertisements

Printer Rusak di KBRI, Masalah Anggaran?

Posted on Updated on

Masyarakat Indonesia di Belanda membicarakan printer di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag Belanda. Mesin cetak paspor di perwakilan Indonesia itu sudah tiga minggu rusak, banyak warga Indonesia kelimpungan. Eka Tanjung menduga masalah inti adalah anggaran.

Update April 2015: Printer KBRI Sudah Sembuh

Di group Facebook Indonesian Living in Holland, ILH belakangan ini muncul berbagai keluhan soal service Kedutaan Indonesia di Den Haag Belanda. Pasalnya karena printer di bagian imigrasi sedang rusak. Sehingga pencetakan paspor menjadi terhambat untuk waktu beberpa pekan. KBRI Den Haag mengumumkan pada tanggal 25 Februari, bahwa printer baru akan tiba dua pekan lagi.

Sumber: Facebook
Sumber: Facebook

Pada tanggal 16 Maret, tiga minggu kemudian printer masih juga belum beroperasi. Banyak warga mulai gelisah. Salah seorang anggota forum yang ingin memperpanjang paspornya yang sudah mati, mengeluhkan bahwa telepon di KBRI tidak diangkat. Anggota lain berhasil menghubungi pekerja KBRI, Pak Norman. Disebutkan bahwa printer kemungkinan belum bisa diperbaiki di bulan Maret ini.

Persoalan menjadi serius karena banyak warga Indonesia yang membutuhkan paspornya untuk bepergian ke luar negeri. Paspor merupakan dokumen paling penting ketika menyeberangi perbatasan negara. Keresahan itu bisa dimengerti, karena orang Indonesia terkenal patuh aturan, paling tidak kalau di luar negeri.

Sumber: Facebook
Sumber: Facebook

Sebagai pemecahannya perpanjangan pastor kemungkinan akan dikirim ke perwakilan Indonesia di Brussel Belgia. Sebagai negara terdekat dengan Belanda. Jalan keluar sementara yang tidak bisa dilakukan seterusnya. Bahkan ada yang mengkritik, mengapa tidak ada back-up atau printer cadangan.

Sumber: Facebook
Sumber: Facebook

Masalah Dana
Eka Tanjung dari Serbalanda mencoba memahami masalah printer ini, dan mencoba berspekulasi dengan menyandarkan logika dan data dari tulisan opini di Jawapos. Persoalan yang barang kali sedang terjadi di KBRI adalah masalah dana. Tidak ada uang untuk memperbaiki atau membeli printer baru. Penulis yakin sumber masalahnya bukan masalah SDM, profesionalitas pekerja atau masalah organisasi.

Kalau di Belanda ini, sudah cukup banyak perusahaan yang bisa memberikan service untuk perbaikan semua peranti elektronik. Jangankan printer yang tidak terlalu rumit, mesin ATM saja ada servicenya.

Semakin cepat service yang diinginkan, tarifnya tentu semakin tinggi pula. Penulis menduga saat ini tidak ada dana yang bisa dialokasikan untuk mengganti atau memperbaiki printer ini. Mungkin warga Indonesia di Belanda yang ‘dirugikan’ oleh kerusakan printer ini sangat kecewa. Dan rasa yang minus itu bisa melahirkan spekulasi dan membandingkan dengan masa lalu.

“Kok pelayananan KBRI tidak baik ya?!” “Wah kalau zamannya Ibu Dubes Retno Marsudi, ini tidak akan terjadi.”   Dan seterusnya.

Kasus ini mengingatkan penulis pada salah satu publikasi beberapa bulan lalu soal kondisi keuangan KBRI yang sebenarnya tidak optimal. Kasarnya, dana yang dikucurkan dari Jakarta untuk perwakilan Indonesia di luar negeri itu sangat minim.

Opini yang ditulis mantan Duta Besar Indonesia di Swiss, Djoko Susilo di Jawa Pos berjudul ” Menlu Retno dan Nasib “Wong Cilik” di Kemenlu” mengungkap masalah di jajaran perwakilan Indonesia di Luar Negeri. “Dibutuhkan dukungan total semua pemangku kepentingan agar tujuan politik luar negeri berhasil bagi kepentingan nasional.”

Anggaran Kecil
Salah satu butir yang disebutkan mantan wartawan Jawapos itu bahwa Menteri Luar Negeri Retno Marsudi harus mengatasi masalah anggaran Kemenlu yang kelewat kecil. Sejatinya para diplomat di luar negeri itu mendapat ‘bayaran’ gaji yang rendah. Mereka dianggarkan dalam bentuk Rupiah dan dibayarkan dalam bentuk Dollar US. Jadi kalau US Dollar sedang tinggi dan rupiah rendah, bisa dibayangkan gaji yang diterima kawan-kawan home staf (diplomat penempatan dari Jakarta) maupun local staf (pekerja yang diangkat di tempat perwakilan) menjadi lebih kecil lagi.

Salah Duga
Setelah membaca opini Djoko Susilo, penulis jadi tercerahkan. Jadi merasa salah duga selama ini. Sementara itu kami warga Indonesia di Belanda, beranggapan KBRI punya banyak uang. Sampai zaman Dubes Fanny Habibie (almarhum) saja, penulis masih beranggapan KBRI banyak uang. Karena acara-acara yang digelar oleh KBRI biasanya meriah dan memakan banyak dana.

Anggapan itu mulai berubah di era Dubes Retno yang lebih sederhana dalam beracara dan berpesta. Idul Fitri maupun acara-acara lain tampak lebih sederhana. Kendati demikian Eka Tanjung tidak pernah menduga bahwa dana untuk KBRI sejatinya mepet atau pas-pasan seperti yang dipaparkan Djoko Susilo di Jawa Pos itu.

Penulis tidak punya alasan untuk meragukan kebenaran dari pemaparan Djoko Susilo, karena dia sendiri mengalami secara langsung ketika menjadi Duta Besar di Bern, Swiss. Sedangkan selama ini diplomat-diplomat di Den Haag yang dikenal oleh penulis tidak ada yang berterus terang soal anggaran.

Masyarakat Indonesia di Belanda sering menyaksikan para pejabat dari Indonesia yang datang ke Belanda, minta diservice oleh KBRI. Bahkan ada juga pejabat yang datang untuk kepentingan pribadi, masih minta diantar ke sana kemari mengunjungi tempat-tempat wisata. Hal semacam itu menambah beban tenaga dan dana bagi anggaran KBRI yang tidak banyak.

Eka Tanjung tidak menyebutkan semua pejabat Indonesia ingin memanfaatkan KBRI. Belakangan sudah banyak pula pejabat yang menggunakan jasa transportasi wisata yang bersifat privat ketika berkunjung ke Belanda dan negara lain Eropa. Bukan dari KBRI tapi dari kawan-kawan Indonesia yang memiliki usaha transportasi dan wisata.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang nota bene adalah mantan Duta Besar RI di Belanda diharapkan oleh Djoko Susilo agar meninjau kembali anggaran yang sangat minim itu. Dana yang dibutuhkan untuk memajukan kepentingan Indonesia di luar negeri. Bukan untuk menjamu pejabat yang datang ke Belanda untuk kepentingan pribadi.

Sebagai bagian dari pemerintahan Jokowi yang memperhatikan ‘wong cilik’ Menlu Rento diminta untuk memperhatikan nasib pada pekerja lokal, seperti Pak Norman di KBRI Den Haag. Upah mereka tidak banyak dan sangat tergantung pada kebaikan dari Duta Besar.

Schermafbeelding 2015-03-16 om 16.38.48
Sumber: Jawapos

Kasus Printer di KBRI Den Haag itu membawa dua pesan, pertama bahwa politik “wong cilik” yang dicanangkan oleh Jokowi dan diamini oleh Menlu Rento Marsudi, masih belum membawa efek yang diharapkan. Sebab para WNI wong cilik di Belanda justru merasa kelimpungan dengan diplomasi blusukan ini.

Namun demikian sebagai warga Indonesia di luar negeri, alangkah baiknya untuk memahami kondisi bangsa saat ini, khususnya dana minim yang diterima perwakilan Indonesia di luar negeri, seperti yang dipaparkan Djoko Susilo. Kita harus bahu membahu dan banyak bekerjasama untuk bisa membangun nama baik Indonesia di luar negeri.

Sumber: Jawapos
Sumber: Jawapos

Cara Mudah dan Gratis ke Belanda

Posted on Updated on

Aslam Volendam 03
Banyak cara untuk bisa pergi ke luar negeri seperti ke Eropa, Amerika dan lainnya. Menjadi wisatawan, atau lewat perkawinan dengan orang asing atau dengan mencari beasiswa. Eka Tanjung dari Serbalanda melihat berbagai kasus untuk bisa datang ke Belanda.

Wisata
Paling mudah untuk bisa ke luar negeri adalah dengan cara berangkat sebagai wisatawan atau turis. Pergi jalan-jalan ke Kuala Lumpur, Hong Kong, ke Belanda dan Prancis bisa dilakukan sebagai turis. Namun karena beayanya tidak murah maka tidak bisa ditempuh dengan dompet yang pas-pasan. Selain itu visa sebagai wisatawan hanya berlaku sampai beberapa bulan saja. Untuk Uni Eropa, standar visa adalah 2 bulan. Selain itu masih ada variasi lainnya, sampai 90 hari.

Perkenalan Antar Bangsa

Di era digital internet ini memungkinkan perkenalan orang dari belahan lain bumi. Hampir semua tempat di dunia ini bisa saling berhubungan, dengan berbagai cara. Ketersambungan ini memperluas jelajah perkenalan kita dengan bangsa lain. Persahabatan antar manusia yang dahulu terjalin dengan cara bertemu fisik dan telefoon serta sms, sekarang dijalin lewat berbagai teknologi komunikasi: LINE, Whatsapp, BB, Facebook Chat, Skype dll. Untuk bisa berkomunikasi dengan biak, diperlukan penguasaan bahasa yang baik pula. Biasanya bahasa yang lumrah untuk komunikasi adalah Bahasa Inggris.

Pernikahan

Perkenalan bisa berlanjut pada jenjang pernikahan. Perkawinan menuju ke kebersamaan dan pasangan bisa melanjutkan kehidupan bahtera rumah tangganya di luar negeri. Eka Tanjung menemui banyak rekan Indonesia yang datang ke Belanda karena pernikahan. Untuk berkumpul dengan suami atau istri, si WNI akan mendapatkan visa tinggal yang disebut MVV (Machtiging Voorlopig Verblijf.) Izin tinggal sementara ini memungkinan untuk datang dan berdomisili di Belanda. Info Mendapatkan MVV Belanda.

Vlog Ika: Pengalaman ke Belanda karena partner.

Pernikahan Sejenis
Menarik untuk menyampaikan di sini bahwa Belanda mengakui pernikahan antar semua jenis. Bukan saja antara pasangan lawan jenis (hetero), tetapi juga pasangan sejenis (homo). Pria dengan Pria dan Wanita dengan Wanita. Hambatan persyaratan terletak bukan di Belanda tetapi di Indonesia. Negeri kita belum mengakui pernihakan sejenis.

Samenleven
Undang-undang Belanda, mengakui samen leven atau kumpul kebo berkontrak. Perikatan asmara cara ini di undang-undang Belanda bobotnya sejajar dengan perkawinan. Dan samenleven ini berlaku baik untuk pasangan tradisional pria-wanita, maupun pasangan LGBT, pria-pria serta wanita-wanita.

Beasiswa
Cara lain  datang ke Belanda secara murah lewat beasiswa. Kuliah atau penelitian di perguruan tinggi Belanda. Eka Tanjung pernah mewawancara jurubicara dari Nuffic (NESO) lembaga Belanda yang mengurusi kerjasama perguruan tinggi dengan negara di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Dijelaskan bahwa sejatinya sangat banyak beasiswa yang ditawarkan pada praktisi media, pegawai pemerintah daerah, pekerja NGO, rohaniawan, dosen dll. Untuk informasi lebih jauh tentang macam beasiswa ke Belanda: NESO Indonesia. Pemerintah Belanda memasukkan Indonesia ke dalam kelompok negara yang diprioritaskan. Nuffic pun gencar melakukan kampanye beasiswa ini ke Indonesia.

Sejatinya bukan saja Belanda, tapi Jerman, Prancis, Inggris, Mesir, Arab Saudi, Qatar juga memberi berbagai kemudahan untuk menempuh pendidikan di negara mereka. Ini link ke sebuah situs berbagai jenis beasiswa yang bisa diperoleh, untuk bisa gratis sampai ke Eropa.

Bekerja
Di berbagai kota, Eka Tanjung bertemu kawan-kawan Indonesia yang datang ke Belanda karena alasan bekerja, expat. Expat adalah karyawan asing yang datang ke Belanda karena bekerja di perusahaan internasional. Di bidang teknik seperti Philips, Cap Gemini, IBM dll.

Menjadi expartriate ini secara pendapatan sangat menarik. Sebab selain gajinya besar karena standar keahlian, juga undang-udang Belanda mengutip pajak lebih lunak kepada kelompok expat ini.

Links menarik:

Training
Ada pula tenaga teknisi dari perusahaan Indonesia, yang mengikuti pelatihan jangka panjang di Belanda. Seperti halnya di Galangan Kapal Den Helder saat ini ada beberapa teknisi Indonesia yang sedang mengikuti pelatihan. Selain itu di Pemprov DKI Jakarta, saat ini mengirimkan puluhan orang birokrat muda ke Rotterdam untuk melihat dapur tata kota dan tata air di kota Pelabuhan Rotterdam. Pelatihan per tiga bulan itu diselenggarakan oleh Hogeschool Rotterdam berkala dari 2014 sampai Februari 2016.

Diplomat
Di kantor perwakilan diplomatik Indonesia di luar negeri ditempatkan diplomat yang berada di Belanda untuk waktu tertentu. Duta Besar, Kepala Bidang dll berada di negara penugasan untuk jangka beberapa tahun. Mereka juga mendapatkan izin tinggal di negara lain sebagai diplomat.

Aupair
Salah satu cara mudah ke Belanda adalah menjadi Aupair. Aupair sejatinya ditujukan sebagai belajar budaya Belanda. Tinggal di rumah orang Belanda dan membantu pekerjaan ringan di rumah keluarga hospita. Biasanya izin tinggalnya satu tahun. Sebagai salah satu contoh biro aupair bisa dibaca di sini.

Pelaut dan Cruise
Ada pula pekerja yang datang ke Belanda sebagai pelaut. Dia ikut berlabuh dengan kapal peti kemas yang sedang menurunkan atau mengambil barang. Biasanya mereka berada di kota pelabuhan Rotterdam. Selain pelaut ada pula pekerja di Kapal Pesiar yang datang ke Belanda untuk sesaat. Salah satu kapal yang merapat di Belanda adalah Holland-America Line.

Selain itu tentu saja masih banyak warga Indonesia yang berada di Belanda karena alasan lain. Jika kawan ingin menambahkan, silakan mengirim pesan ke salah satu kontak di bawah ini:

eka_tanjung_2017_kontak
Hubungi Serbalanda

Kalau ke India, Paspor Indonesia Lebih Sakti dari Paspor Belanda

Posted on Updated on

india-indonesiaSelama ini Eka Tanjung beranggapan paspor Indonesia lebih terbatas dibanding paspor Belanda. Kalau bepergian ke United Kingdom, warga Belanda bisa langsung masuk. Orang Indonesia harus anprah dulu.

Tapi tidak demikian halnya kalau ke India, negerinya Mahatma Gandhi. Sejak tahun 2011, orang Indonesia bisa langsung minta Visa on Arrival di banyak bandara di India. Sedangkan kalau orang Belanda harus terlebih dahulu meminta resmi visa lewat online dan syarat-syaratnya lebih ribet.

Saya jadi tahu ini karena terpaksa menyelidiki. Aslam (Desember 2001) putra kami berencana ikuti studi tur ke India tahun depan, untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan pelajaran sosial. Dia sempat khawatir batal berangkat karena dia berpaspor Indonesia.

Dari pengalaman hidupnya yang masih pendek, ia merasakan paspor Indonesia lebih terbatas dari Belanda. Ia mengalami ketika studi tur ke Inggris baru-baru ini, lebih banyak urusan dibanding kawan yang paspor Belanda. India ternyata memasukkan Indonesia ke dalam kelompok negara yang mendapat kemudahan untuk masuk ke negeri itu. Hal itu dimungkinkan sejak tahun 2011 lalu, setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan kunjungan kenegaraan ke India. 24-26 Januari 2011.

Orang berpaspor Indonesia dan belasan negara lain bisa langsung meminta visum di bandara Tourist Visa on Arrival di India. Cukup dengan menyiapkan:

  1. Paspor yang masih berlaku minimal 6 bulan.
  2. Dua kali pasfoto ukuran  5cm x 5cm
  3. Photocopy paspor
  4. Alamat hotel atau tempat tujuan (jika memungkinkan)
  5. Tiket pulang-pergi
  6. Uang € 50.

Sementar itu bagi kawan yang berpaspor Belanda, harus menjalani prosedur yang lebih panjang, harus mengantar permohonan ke perwakilan imigrasi India, nunggu minimal empat hari. Pokokna lebih ribet dah.

  1. Mengisi formulir permohonan,
  2. Mengisi Formulir Pernyataan ,
  3. Dua pasfoto 5cmx5cm,
  4. Paspor masih berlaku minimal enam bulan,
  5. Untuk pekerja, pebisnis, penganggur harus mengisi formulir tambahan,
  6. Mencantumkan photocopy laporan bank dan bla-bla-bla..
  7. Mengantar formulir secara pribadi ke salah satu perwakilan imigrasi India di Belanda,
  8. Menunggu keputusan minimal 4 hari,
  9. Membayar beaya € 50,-
  10. Untuk warga Belanda kelahiran luar Belanda, harus ngisi formulir ektra lagi. Wedeeeh..

Intinya sih penulis senang, putranya Insya Allah tahun depan bisa ikut studi tour ke India tanpa harus ribet. “Papa, aku bangga punya paspor Indonesia. Tapi sekarang malah lebih bangga lagi,” katanya setelah membaca kemudahan yang dia akan dapatkan dari dinas imigrasi India.

Tanjung Kontak
Tanjung Kontak

Links menarik:

Retno Marsudi, Srikandi Bermata Panah “Diversity”

Posted on Updated on

Schermafbeelding 2015-01-13 om 23.05.39Retno Marsudi membawa misi dalam tiap tugasnya. Sebagai Dubes di Norway misi diplomasi Batik, di Belanda giliran Kuliner dan sekarang ini sebagai Menlu tampaknya membawa senjata “Diversitas.” Eka Tanjung mengingat sekelumit langkah Srikandi Indonesia lewat rekaman video acara perpisahan dengan warga Indonesia.

Malam Dingin
Jari-jemari mulai tergelitik menulis sejak nonton Youtube. Ceritanya bermula kemarin dini hari. Selesai membuat tulisan tentang sepak bola Belanda, di malam yang sunyi dan udara di ruang kamar yang mulai ngedrop ke 2 derajat Celsius, aku berencana naik ke kamar di lantai satu untuk tidur. Saya kemasi alat tulis, kertas, bungkus kacang yang terbuka kosong dan berserakan di atas meja. Membawa muk kopi yang nyaris kosong tinggal ampasnya dan gelas bekas minum Air Jeruk yang menyisakan kuning di dasarnya. Ketika itu aku dengar suara.

Video
“bliiing.. bliiing” beberapa kali dari laptop di pojok meja. Pertanda ada pesan atau posting masuk di salah satu media sosial Twitter, Facebook atau email. Ku pijit tombol ‘enter’ untuk membangunkan laptop dari posisi standby nya. Setelah layar menyala terlihat ada beberapa posting dari seorang kawan bernama Wahyu Koen. Perhatianku terhisap ke beberapa video cuplikan dari acara perpisahan Retno Marsudi.

Mencicipi Suasana
Tampaknya Oom Koen ingin share pengalaman dari acara di Rijswijk dekat Den Haag itu kepada kawan-kawan di media Facebook. Kawan yang hanya ku kenal lewat media sosial dan nota bene kami tidak terkait pertemanan, bisa membawa saya mencicipi suasana malam perpisahan. Dengan rekaman video Youtube ini saya jadi bisa melihat kawan-kawan yang hadir dan menyelami perasaan mereka. Untuk itu saya disini ingin berterima kasih pada Oom Wahyu Koen.

Den Haag
Dari 10 video yang diunggah Wahyu ke Youtube, aku tonton hampir semuanya. Terutama sambutan dari Retno Marsudi dan doa bersama. Saya tonton sampai dua kali. Di rekaman berdurasi 10 menitan itu mantan dubes Belanda dan Norway menuturkan tentang sejarahnya dia bertugas di Den Haag periode pertama sebagai diplomat dan kedua sebagai duta besar.

Menlu Retno yang berbekal contekan kertas kecil, mengisahkan proses cepat penunjukkannya menjadi Menteri Luar Negeri. Dan menyampaikan rasa bangga, sebagai wanita pertama Indonesia yang menjabat menteri luar negeri. Dia menyadari beratnya tugas sebagai Menlu.

Lalu ungkapan syukur atas perampungan tugasnya di Belanda. Dan dia terkesan merasa misinya berhasil mempererat hubungan Belanda-Indonesia. Dia menyebutkan puncak hubungan baik dan kepercayaan Indonesia Belanda dengan terbentuknya Kemitraan Komprihensif. Silakan saksikan pesannya di video ini:

Diplomasi Kuliner
Dengan hubungan yang begitu pelik antara Indonesia dan Belanda, dubes ini mampu mencapai kesepakatan kemitraan kedua negara dan mengundang PM Mark Rutte datang ke Jakarta. Padahal usai menyerahkan surat-surat kepercayaannya kepada Ratu Belanda, dia menyebutkan misinya adalah Diplomasi Kuliner.

“Whaaat…” pikir banyak orang ketika mendengar Diplomasi Kuliner. Tapi ternyata kita bisa menyimpulkan beberapa tahun kemudian. Itu adalah bahasa diplomasi Jawa.
Saya jadi ingat cerita Eyang Kakung Sastrodiwirjo yang mantri Polisi di Gemolong dan Sumberlawang di era tahun 1960an. Beliau sering menangani kasus kejahatan begal atau pencurian sapi. Menurut eyang putri, Kakung kalau datang ke rumah orang yang dimintai keterangan dan kesaksian, jawabannya sama.

Kalau si tuan rumah bertanya: Ada apa datang ke mari pak matri?
Kakung: Ora ono opo-opo, saya cuman ingin mampir minta minum saja. (Mampir ngombe)

Nah ini yang saya perhatikan ada di Menlu Retno juga. Ternyata sambil berkuliner ‘diselingi’ obrolan serius. Mantan siswa SMA 3 Semarang itu di depan seratusan tamu undangan, menyatakan rasa terhormat dengan penugasan selama di Belanda, negara bermasyarakat Indonesia yang besar. Ia menikmati di Belanda dan merasa diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia. Menurut Eka Tanjung, sejauh itu kata sambutannya standar dari seorang diplomat yang ulung. Itu memang pekerjaannya sehari-hari. Tekankan yang positif dan hindari ungkapan pedas.
Saya melihat inti penyampaian Menteri Luar Negeri Indonesia yang lebih penting. “Saya mendapat tugas yang tidak mudah sebagai menlu.” Mmmm.. Ya memang semua tugas tidak ada yang mudah, kalau dikerjakan secara serius. Atau ungkapan itu menyimpan arti yang lebih dalam?

Arah Indonesia
Sebagai Menlu, malam kemarin Retno Marsudi bermain keren. Dia pakai kesempatan bicara di Belanda untuk menyampaikan pesan yang jelas tentang satu sisi penting arah Indonesia beberapa tahun ke depan. Sebagai wartawan, Eka Tanjung biasa menilai sikap seseorang ketika menanggapi suatu kejadian besar.

Retno Marsudi menyampaikan keprihatinan akan pembunuhan belasan pekerja tabloid satir, Charlie Hebdo di Paris.
“Kita prihatin dengan kejadian di Paris, yang mengatasnamakan apapun. Itu sebenarnya tidak boleh terjadi.” Itu ungkapan standar yang juga akan disampaikan pada pidato di depan publik Belanda atau internasional.

Eka Tanjung melihat imbauan yang sangat penting bagi bangsa Indonesia di Belanda dan di Indonesia disini:

“Indonesia adalah negara yang sangat majemuk…. Saya ingin bangsa Indonesia yang berbeda-beda, menebarkan cinta kasih kepada dunia. .. Sehingga dengan perbedaan, kita bisa hidup damai di dunia ini.”

Pesan yang terkandung ini sebenarnya mengena langsung kepada bangsa Indonesia, dimana pun. Termasuk di Belanda. Eka Tanjung melihat saat ini bangsa Indonesia masih terkotak-kotak menjadi kubu-kubu pasca pemilu presiden. Polemik pilpres ini masih terasa dan memperkuat ketidakakuran yang sudah ada dalam masyarakat muslim Indonesia di Belanda.

“Dengan perbedaan kita bisa hidup damai. make the world safer for diversity. Jadikan dunia ini tempat yang lebih aman dengan kemajemukan.”

“make the world safer for diversity”

Pamitan
Retno dengan sopannya, berpamitan pada masyarakat Indonesia yang hadir maupun yang tidak bisa hadir di Rijswijk. “Saya pulang dengan rasa senang. Saya tahu, meninggalkan cinta kasih. Silaturahmi yang tidak terputus. Sebagai anak bangsa, kita teruskan persaudaraan. Indonesia majemuk. Majemuk ini harus dikedepankan kepada dunia. Minta maaf kalau ada kesalahan. Terima Kasih, Terima Kasih dan Terima Kasih.”

Eka Tanjung ikut terharu dan memang mengakui karir melejit yang dijalani Srikandi asal Semarang kelahiran 27 November 1962 itu. Orangnya sederhana, pendapatnya tajam dan ingatannya kuat. Mulai sekarang ia bersenjatakan panah bertuliskan: “make the world safer for diversity” Siap mengarungi dunia. Semoga ia sukses dengan misinya. DAN rakyat Indonesia juga bisa memaknai arti diversitas itu. Jangan sampai Indonesia sukses meyakinkan dunia menjadi “safer for diversity” tapi di dalam negeri masih saja gantok-gontokan karena perbedaan.

Seumpama sosok Retno adalah Gajah, maka tulisan ini hanya pendapat dari satu sisi ganjah itu. Saya tidak melihat dari ekornya dan tidak dari atas, tapi dari samping dengan rasa hormat dan kagum. Perempuan kecil tapi bernyali Gajah!

Tautan: Reno Marsudi Pulang, Saya ingin Sedih jadi Tertawa.

Penulis: Eka Tanjung

Retno Marsudi Pulang, Aku Sedih dan Tertawa

Posted on Updated on

Schermafbeelding 2015-01-13 om 23.05.39Saya sempat sedih tidak diundang ke acara perpisahan Menlu Retno Marsudi dengan masyarakat Indonesia di Belanda. Namun akhirnya kesedihan terhibur oleh-oleh Oom Wahyu Koen. Ceritanya begini..

Selasa dini hari 13 Januari 2015 saya kesulitan mengartikan perasaan ketika menyaksikan tayangan video Youtube dari acara perpisahan Dubes Retno Marsudi dengan masyarakat Indonesia di Belanda. Saya sejatinya merasa dekat dengan mantan Dubes Belanda itu, tapi juga sekaligus merasa jauh.

Retno_Oslo_02
Dubes Retno menjamu tim RNW, 19-03-06

Sejarahnya begini..
Pada tahun 2006 saya bertemu Retno pertama kali di Oslo Norwegia ketika bertugas sebagai Dubes di negeri itu. Saya ke Skandinavia dalam rangka liputan Wisnu Witono Adhi, anak Jakarta yang lolos babak akhir Idols Norway.

Kami bertiga dari Radio Nederland merasa diterima dengan baik oleh Retno Marsudi dan para diplomat Indonesia di Norway yang kebetulan sedang menggelar acara pameran Batik.

Dari pertemuan pertama itu Eka Tanjung bisa menangkap kesan, dubes ini terus melakukan promosi Indonesia di setiap kesempatan. Dan kedua dia tegas, kecil-kecil cabe rawit. Dalam wawancara soal konflik Aceh waktu itu, aku dengar sikap tegasnya terhadap Belanda.

“Kalau negara seperti Norway mengkritik soal HAM di Indonesia, kami bisa terima. Tapi kalau kritik itu datangnya dari Belanda, kita tidak bisa terima. Karena kita mengalami penjajahan oleh Belanda.” (Retno Marsudi, 2006)

Read the rest of this entry »