Duka Insan Pengembara

Posted on Updated on

2015-09-09 19.24.23Kematian adalah fakta dan sekaligus misteri pada setiap kehidupan. Bagi para pengembara atau perantau, berita duka dari Tanah Air merupakan satu kepedihan yang kerap menghujam ulu hati.

Mendengar berita yang tidak ingin didengar, membuat hati seperti tidak berdaya karena tidak ada pilihan lain. Reaksinya langsung ingin terbang menuju ke tempat duka. Kalau pulang berarti naik pesawat dengan harga ticket yang super mahal atau diam berarti kesedihan tak berperi. Karena tidak bisa berbagi rasa dengan sanak saudara yang sama-sama kehilangan.

Muara Doa
Seperti kita baru jatuh dari tangga, butuh waktu duduk sejenak sebelum bisa bangkit kembali. Saat itu dibutuhkan kebersamaan dan rengkuhan tangan dan kata-kata hangat dari orang-orang di sekeliling. Memberi dukungan moril dan membagi duka. Antara lain dengan menggelar acara doa bersama tanpa membedakan agama. Karena semua doa bermuara pada satu akhir yang sama, Tuhan Sang Pemilik Hidup.

Terbang Jauh
Jarak tempuh dari Belanda ke Indonesia, dari rumah di Belanda ke rumah di Indonesia itu paling cepat sekitar 24 jam perjalanan. Dan untuk kaum muslim, biasanya jasad sudah dimakamkan dalam hitungan kurang dari 24. Jadi kemungkinan kecil bisa melihat jasad kerabat kita. Waktu perjalanan bisa lebih lama kalau kabar meninggalnya sampai tengah hari, sehingga harus mengambil penerbangan hari berikutnya.

Rasa Salah
Tidak punya uang, bukan satu-satunya alasan untuk tidak langsung pulang ke Indonesia menemui kerabat yang dipanggil Illahi. Yang tersisa adalah rasa bersalah karena tidak bisa mengurus dan mendampingi saat orang terkasih di kampung sakit atau menghembuskan nafas terakhirnya.

Sering
Sudah kerap kali Eka Tanjung menerima kabar duka dari keluarga di Tanah Air, paman, kakek, nenek, ayah kandung yang berpulang satu per satu. Kawan-kawan Indonesia di Belanda juga silih berganti mengalami hal serupa. Mendapat berita tentang saudara, kakak, anak atau orang tua yang berpulang untuk selamanya dan kita tidak sempat jumpa.

Eka Tanjung dari Serbalanda sadar betul ini adalah bagian dari kehidupan setiap insan manusia. Berita duka yang pertama kali penulis terima dari Indonesia, ketika baru beberapa tahun tinggal di Belanda. Mendapat kabar telepon dari Indonesia bahwa Mbah Kakung Sastrodiwirjo tutup usia setelah beberapa bulan dioperasi batu ginjal awal 1990an.

Sex Mountain
Kakek Sastridiwirjo ini memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan penulis. Sejauh bisa mengingat penulis, semasa kecil selalu tinggal dan diasuh dengan cinta kasih oleh mbak kakung di Sumberlawang Sragen dekat Sex Mountain, Gunung Kemukus. Ketika mendengar kabar meninggal, penulis tidak berdaya karena sedang dalam pekan ujian di kampus. Sontak saja saat itu menjadi pekan kesedihan. Karena tidak bisa berbuat apa-apa, makan tak enak dan tidur tidak nyenyak.

Belajar pun tidak lancar karena terus terpikirkan, karena selama sakit dua bulan penulis tidak mendapat kabar dari Indonesia. Belakangan penjelasannya dari keluarga yang tidak mengabari tentang sakit karena, harapannya mbah Kakung akan membaik lagi. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain dan memanggil mbah kesayanganku pulang selamanya. Padahal beliau selama hayatnya, berpola hidup sehat dan tidak pernah kenal jarum suntik dokter.

Dengan kepedihan akhirnya penulis merampungkan ujian karena itu pesan almarhum ketika masih hidup dulu, di warung Bu Sri. Beliau berpesan agar tetap tegar dimanapun berada dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bla..bla..bla.. itu selalu pesan yang disampaikan pensiunan mantri polisi Gemolong, sebagai mantan pejuang yang mengalami zaman kemerdekaan dulu.

Reuni
Selang tiga bulan setelah kematian beliau, penulis bisa pulang ke Sumberlawang dan berdoa di makam mbah Kakung. Rasanya seperti bertemu lagi dalam keheningan, membayangkan beliau berbaring di bawah tanah. Saat itu salah satu sisi positif dari kepergian Mbah Sastrodiwirjo pun muncul. Sepertinya penulis merasa dekat dengan sang Pencipta. Mendadak saja penulis jadi relijius dan sering berdialog dengan Tuhan. Seperti diungkapkan Aslam, putra sulung kami yang berusia 13 tahun, kemarin.

“Kalau saya membandingkan kawan-kawan Belanda yang sudah tidak ke Gereja atau ke Mesjid, kita yang punya agama bisa lebih baik menerima kematian. Walau sedih tapi itu kan takdir, pap. Tuhan punya maksud bagi yang hidup dan yang mati.”

dengan mulut melongo tanda heran, penulis kaget mendengar ucapan ‘anak kemarin sore.’

Cara Pandang
Bagi insan di perantauan, duka kesedihan tidak bisa dishare dengan kerabat dan saudara sedarah. Tapi disanalah perlunya dan manfaatnya berkawan. Bersosialisasi dengan rekan yang senasib dan sepenanggungan, sama-sama berasal dari Indonesia. Cara pandang tentang kematian masih satu arti.

Bangsa dari budaya lain bisa berempati, namun reaksinya tidak selalu seperti yang kita kenal dan menenangkan. Setiap budaya punya tanggapan masing-masing tentang kematian.

Hampir tiga dasa warsa hidup di perantauan, membuat Eka Tanjung memiliki kebiasaan khusus ketika pulang kampung ke Sumberlawang ke sebuah rumah dekat rel kereta api tempat menggembala Kerbau. Penulis biasa menyempatkan waktu setengah jam bicara empat mata, khusus dengan orang tua adik-adik secara terpisah. Inti pembicaraan jelang “pulang” ke Belanda adalah:

Meminta maaf kalau ada kesalahan dan dosa, dan jika kita tidak dipertemukan lagi karena kematian, maka ampunilah dosa dan kami saling mengikhlaskannya. Dengan perpisahan cara itu meringankan beban mental kita untuk pergi dan melangkah lagi. Sebab akhir hidup di dunia ini tetap menjadi misteri bagi insan pengembara.

Dan kalau dipertemukan lagi: Nah itu adalah kado yang harus kita nikmati braw!

Advertisements