Liburan

Giethoorn & Zaanse Schans Jadi Perangko

Posted on

monopoly1-e1444759400743

Dinas Pos Belanda menerbitkan seri perangko baru yang menggambarkan beberapa tempat wisata seperti kampung sunyi Giethoorn dan komplek Kincir Zaanse Schans.

Inikah saatnya untuk kembali berkirim kartu pos dari tempat wisata dengan menjilat dan menpelkan perangko bergambar tempat itu sendiri. Beli kartupos di Giethoorn ditempel perangko Giethoorn dan dikirim ke Jakarta atau Semarang.

Perangko
Mulai tanggal 29 Maret 2016 ini, bisa dilakukan di Belanda. Sebab dinas pos menerbitkan serial perangko bergambar beberapa tempat wisata Belanda. Karya Renier Hamel diabadikan dalam perangko.

Tempat-tempat wisata yang digambarkan pada perangko khusus untuk pengiriman surat atau kartu pos maksimal 20 gram ke luar negeri adalah: Deltawerken, de Waddeneilanden, de Hoge Veluwe, het Binnenhof, Pasar Keju Alkmaar, de Ladang Tulip, Giethoorn, Marken, Zaanse Schans dan lukisan ternama karya Rembrandt de Nachtwacht.

Giethoorn Monopoly
Sejatinya kalau Giethoorn ini merupakan sukses keduanya. Sebelum diabadikan dalam perangko, dusun sunyi dengan parit berkelok nan indah itu sudah mengejutkan dunia. Sebab permainan Monopoly World memasukkan Giethoorn dalam jejeran kota-kota besar dunia. Berkat kerja serius yang dilakukan team promosi kampung air berpenduduk 3 ribu jiwa itu masuk dalam jajaran mainan klasik.

Konon team promosi Giethoorn berhasil mendapatkan dukungan massal tanda tangan dari wisatawan China dan Taiwan yang membanjiri kampung sunyi di propinsi Overijssel itu.

Marketing Cerdas
Berkat kerja serius itu maka Belanda adalah satu-satunya negara yang punya dua tempat di Monopoly World.  Bila kawan membeli permainan yang menggunakan dadu dan juga bisa membangun rumah dan hotel itu akan mendapati Amsterdam dan Giethoorn di sana. Sayangnya dusun berpenduduk 3 000 jiwa bisa mengalahkan Jakarta yang berpenghuni 10 juta jiwa.

Berikut nama tempat dan kota yang menghiasi permainan Monopoly:
•   Warna Biru Tua: Lima, Peru; Hong Kong, China
•   Hijau: Riga, Latvia; Lissabon, Portugal; Istanbul, Turki
•   Kuning: Warsawa, Polandia, Mexico City, Mexico; Santiago, Chile
•   Merah: Belfast, Irlandia; Athene, Yunani; Beograd, Serbia
•   Oranye: Londen, England; Moskow, Rusia; Tokyo, Jepang
•   Merah Jambu: New York, U.S.A; Amsterdam, Nederland; Sydney, Australia
•   Biru Muda: Queenstown, Selandia Baru; Cape Town, Afsel; Taipei, Taiwan
•   Coklat: Giethoorn, Nederland; Madrid, Spanyol

 

 

Awas Polisi Gadungan Eropa Sasar Wisatawan Indonesia!

Posted on Updated on

Polisi Amsterdam Pic: Serbalanda
Polisi Amsterdam Pic: Serbalanda

Kecopetan atau kehilangan dokumen dan barang berharga sangat menjengkelkan. Apalagi kalau kita sedang berperjalanan di negara lain. Mencari tempat melapor, mendapatkan kembali dokumen bisa menguras waktu perjalanan atau liburan. Kecopetan atau kecurian barang, sebisa mungkin dihindari. Tulisan Serbalanda ini semoga membantu kawan lebih waspada.

Belakangan ini modus kejahatan, aparat polisi gadungan mulai marak. Eka Tanjung dari Serbalanda sedianya hanya menemukan berbagai kasus di Rotterdam Belanda, sekarang sudah merambah ke Jerman, Swiss, Prancis, Belgia dan lainnya. Kawan-kawan wisatawan dan backpackers dari Indonesia mohon berwaspada.

Peringatan
Penulis yang sudah 30 tahun domisili di Belanda, kerap membaca dan mendengar kejadian di tempat-tempat wisata. Tulisan ini hanya sekedar peringantan saja, karena Kepolisian Belanda juga mengeluarkan warning soal aparat gadungan dari Eropa Timur. Alasan lain, karena penulis tidak ingin orang Indonesia menjadi korban penipuan ini.

Waspada
Ketika kawan berada di tempat-tempat wisata, sebaiknya waspada dengan barang-barang. Sekalipun sedang melihat view bagus dan ingin segera berselfie ria tanpa harus kehilangan moment. Jangan lengah meninggalkan tas dan barang berharga lainnya. Sebab orang yang berniat jahat, akan beraksi pada detik-detik ketika korban sedang lengah.

Polisi Preman
Salah satu modus kejahatan di tempat-tempat wisata Belanda adalah jaringan pencopetan dan penipuan yang dilakukan oleh dua sampai 6 orang. Dua orang menyamar sebagai polisi berpakaian sipil, atau preman.

ID Palsu
Mereka berbekal ID-card tiruan yang mirip punya Polisi. Para pelaku berasal dari Eropa Timur dan tidak berbahasa Belanda, penguasaan bahasa Inggrisnya pun terbata-bata. Hanya kalimat-kalimat standar saja. Mereka menyasar wisatawan Asia yang berjalan sendirian atau dalam kelompok kecil, seperti dari Thailand, Korea, China, Singapura atau Indonesia.

Modus Operandi
Menurut pihak kepolisian Belanda, para pelaku beroperasi paling sering berempat. Mereka terlebih dulu mengamati bakal korbannya sejak mulai dari masuk tempat-tempat wisata kalau di Rotterdam sekitar Euromast, Markthal atau Spido.

Setelah calon korban berada di lokasi yang sepi, dua orang pelaku akan menghampiri mangsa. Sapaan ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa bakal mangsanya bukan lokal Belanda. Mereka menyapa dan mengajak sang korban berbicara dalam bahasa Belanda. Tak lama kemudian muncullah dia orang yang mengaku sebagai aparat polisi dan menduga ada ‘transaksi narkoba’ dan ingin menggeledah korban.

Uang Raib
Mereka akan meminta Paspor, ID dan Dompet. Dan tanpa disadari mereka akan mengambil uang dari dompet korban dan mengembalikan dalam kondisi sudah berkurang banyak. Sang pelaku akan kabur dengan hasil jarahannya.

Mengapa Orang Asia ?
Mereka sengaja menyasar wisatawan Asia karena rumpun bangsa ini cukup patuh kepada otoritas, apalagi kepada aparat polisi. Haha dari mana ya kok kita bisa begitu?  Selain itu wisatawan Asia, selalu siap membuktikan dirinya adalah orang baik-baik. Mereka tidak mau ribet dan menuruti saja semua pengarahan “otiritas” setempat. Dan orang Asia juga dikenal membawa duit cash berjumlah besar di dompetnya. Lengkap sudah .. orang Asia menyandang status ‘sasaran empuk’ di mata para penipu.

Serbalanda pernah membaca kasus di Rotterdam, korbannya turis Singapura. Dia diajak bicara oleh dua pria, lalu tak lama kemudian muncul dua aparat gadungan yang menunjukkan ID (palsu.) Dua aparat ini mengatakan curiga wisatawan Asia itu sedang melakukan transaksi narkoba. Aparat gadungan itu kemudian meminta memeriksa barang dan minta paspor serta dompet. Pura-pura memeriksa paspor dan dompet dengan seksama. Tak lama kemudian, korban ditinggal dengan kejutan bahwa dompetnya sudah kosong.

Korban Indonesia
Beberapa tahun silam Eka Tanjung mendapat kabar dari seorang teman yang jalan sendiria ke Rotterdam dan mengalami hal serupa. Dia didekati dua aparat preman yang membawa ID polisi. Dan ingin melihat dompet dan paspor. Dasar kawan Indonesia ini adalah orang baik dan polos, dia turuti saja permintaan itu dan akhirnya dompetnya berkurang € 200,-. Dia cerita sudah dua pekan kejadian, karena “saya kesal tapi malu juga, kok bisa sampai ketipu.”

Polisi Belanda menanggapi kasus penipuan ini denga tegas mengatakan: 
“Kami tidak akan pernah minta dompet. Tidak pernah. Kalau ID ada dalam dompet, maka kami akan meminta sang pemilik mengambilnya sendiri dari dompet. Bukan kami. Kami tidak akan menyentuh dompet itu.”  Jadi bisa disimpulkan, kalau minta dompet berarti dia penipu!

Eropa Timur
Menurut kepolisian Belanda, pelakunya hampir selalu berasal dari Eropa Timur.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa mereka biasanya beroperasi di Belanda selama satu atau dua hari. Setelah itu pergi. Saya juga mendengar pengalaman yang sama dari rekan-rekan polisi di Belgia,” ungkap Pak Smit polisi Rotterdam yang sudah sering mendapat pengaduan tentang ‘polisi gadungan.’ Polisi tidak tinggal diam, mereka terus menguber pelaku yang mencemarkan nama institusi kepolisian.

Awal tahun 2015, Polisi berhasil meringkus sindikat ‘polisi gadungan’ dari Rumania yang merampok turis satu famili dari Thailand. Dua pelaku meminta ID, paspor dan tas pinggang sang korban. Dari tas mereka mengambil uang € 1500.

Menyadari uangnya diambil, sang korban berteriak-teriak minta tolong dalam bahasa Thais atau bahasa Jane Panggil Tarzan. Yang pasti suara minta tolong itu memekik telinga hingga terdengar beberapa pekerja bangunan yang berada dekat lokasi. Mereka mengejar dan meringkus sang pelaku dan menyerahkan kepada polisi.

Tidak Kapok
Beruntung kali ini bagi sang korban, karena uangnya kembali. Dan pelaku dikenai hukuman kurungan selama tiga bulan. Tapi kan tahu sendiri penjara di Belanda seperti hotel Melati ber-TV dan bersih. Kalau dasarnya memang penjahat, maka setelah keluar penjara dia akan mengulang perbuatannya dengan pengalaman dan lebih mahir lagi. Artinya jumlah kejahatan ini tidak akan berkurang.

Dari cerita tentang ‘aparat gadungan’ ini maka Eka Tanjung ingin menyampaikan beberapa saran atau tips kepada kawan yang bepergian liburan ke Eropa.

  • Jangan hiraukan orang asing yang mengajak Anda berbicara di tempat wisata.
  • Jangan tanggapi orang yang meminta-minta. Minta rokok atau korek api.
  • Jangan layani orang yang menjatuhkan benda dan menyebut itu punya Anda. Amankan barang Anda.
  • Jangan membeli barang murah di tempat yang mencurigakan.
  • Pisahkan uang yang anda di dompet yang berlainan.
  • Gunakan guide lokal yang berpengalaman.

Korban Belanda
Kejahatan dengan modus seperti ini terjadi di mana-mana dan korbannya bukan saja kalangan wisatawan. Para lansia Belanda yang tinggal sendiri sering pula jadi korban ‘aparat gadungan.’ Mereka datang menyamar sebagai aparat polisi atau dinas pemda, ingin mengontrol keamanan rumah penduduk dan melihat ke dalam dan menjarah barang-barang berharga.

Semoga masukan ini bermanfaat dan kawan bisa menikmati liburan di Belanda dan Eropa dengan nyaman, tanpa mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Eka Tanjung siap memberikan saran untuk penginapan maupun transportasi dan akomodasi yang baik dan aman.

eka_tanjung_2017_kontak

Awas di Belanda Ada Polisi Gadungan !!

Posted on Updated on

472353_10150687272244456_341717331_o

Belanda salah satu tujuan liburan yang tergolong aman, dibanding Prancis, Itali atau Spanyol. Namun perlu waspada terhadap polisi gadungan dan peminta-minta.

Peringatan
Penulis yang sudah 30 tahun domisili di Belanda, kerap membaca dan mendengar kejadian di tempat-tempat wisata. Tulisan ini hanya sekedar peringantan saja, karena Kepolisian Belanda juga mengeluarkan warning soal aparat gadungan dari Eropa Timur. Alasan lain, karena penulis tidak ingin orang Indonesia menjadi korban penipuan ini.

Waspada
Ketika kawan berada di tempat-tempat wisata, sebaiknya waspada dengan barang-barang. Sekalipun sedang melihat view bagus dan ingin segera berselfie ria tanpa harus kehilangan moment. Jangan lengah perhatian pada tas dan barang kawan. Sebab orang yang berniat jahat, akan beraksi pada sasaran yang meleng.

Polisi Preman
Salah satu modus kejahatan di tempat-tempat wisata Belanda adalah jaringan kriminal ringan seperti pencopetan dan penipuan yang dilakukan antara 2 sampai 6 orang. Dua orang menyamar sebagai polisi berpakaian sipil, atau preman.

Mereka berbekal ID-card tiruan yang mirip punya Polisi. Para pelaku berasal dari Eropa Timur dan tidak berbahasa Belanda, penguasaan bahasa Inggrisnya pun terbata-bata. Hanya kalimat-kalimat standar saja. Mereka menyasar wisatawan Asia yang berjalan sendirian atau dalam kelompok kecil, seperti dari Thailand, Korea, China, Singapura atau Indonesia.

polisi_gadungan_01

Modus Operandi
Menurut pihak kepolisian Belanda, para pelaku beroperasi paling sering berempat. Mereka terlebih dulu mengamati bakal korbannya sejak mulai dari masuk tempat-tempat wisata kalau di Rotterdam sekitar Euromast, Markthal atau Spido.

Setelah calon korban berada di lokasi yang sepi, dua orang pelaku akan menghampiri mangsa. Sapaan ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa bakal mangsanya bukan lokal Belanda. Mereka menyapa dan mengajak sang korban berbicara dalam bahasa Belanda. Tak lama kemudian muncullah dia orang yang mengaku sebagai aparat polisi dan menduga ada ‘transaksi narkoba’ dan ingin menggeledah korban.

Uang Raib
Mereka akan meminta Paspor, ID dan Dompet. Dan tanpa disadari mereka akan mengambil uang dari dompet korban dan mengembalikan dalam kondisi sudah berkurang banyak. Sang pelaku akan kabur dengan hasil jarahannya.

Mengapa Orang Asia ?
Mereka sengaja menyasar wisatawan dari Asia karena rumpun bangsa ini cukup patuh kepada otoritas, apalagi kepada aparat polisi. Haha dari mana ya kok kita bisa begitu?  Selain itu wisatawan Asia, selalu siap untuk membuktikan dirinya adalah orang baik-baik, maka menuruti semua pengarahan dari otiritas di tempat asing. Dan orang Asia juga dikenal senang membawa duit banyak di dompetnya. Lengkap sudah .. orang Asia menyandang status ‘sasaran empuk’ di mata para penipu.

Sabtu silam kejadian di Rotterdam dan korbannya turis dari Singapura. Dia diajak bicara oleh dua pria, lalu muncul dua aparat gadungan yang menunjukkan ID (palsu) dan mengatakan mencurigai deal narkoba. Meminta untuk menggeledah barang dan minta paspor dan dompet. Tak lama kemudian, korban ditinggal dengan kejutan bahwa dompetnya sudah kosong.

Beberapa tahun silam Eka Tanjung mendapat kabar dari seorang teman yang jalan sendiria ke Rotterdam dan mengalami hal serupa. Dia didekati dua aparat preman yang membawa ID polisi. Dan ingin melihat dompet dan paspor. Dasar kawan Indonesia ini adalah orang baik dan polos, dia turuti saja permintaan itu dan akhirnya dompetnya berkurang € 200,-. Dia cerita sudah dua pekan kejadian, karena “saya kesal tapi malu juga, kok bisa sampai ketipu.”

Polisi Belanda menanggapi kasus penipuan ini denga tegas mengatakan: 
“Kami tidak akan pernah meminta warga untuk menyerahkan dompet. Tidak pernah. Kalau ID ada di dompet, maka kami akan meminta pemilik mengambilnya sendiri dari dompet. Bukan kami. Kami tidak akan menyentuh dompet itu.”  Jadi bisa disimpulkan, kalau minta dompet berarti dia penipu!

Eropa Timur
Menurut kepolisian Belanda yang diwawancara AD.nl mengatakan bahwa pelakunya hampir selalu berasal dari Eropa Timur. “Penelitian kami menunjukkan bahwa mereka biasanya beroperasi di Belanda selama satu atau dua hari. Setelah itu pergi. Saya juga mendengar pengalaman yang sama dari rekan-rekan polisi di Belgia,” ungkap Pak Smit polisi Rotterdam yang sudah sering mendapat pengaduan tentang ‘polisi gadungan.’ Polisi tidak tinggal diam, mereka terus menguber pelaku yang mencemarkan nama institusi kepolisian.

Bulan lalu Polisi berhasil meringkus sindikat ‘polisi gadungan’ dari Rumania yang merampok turis satu famili dari Thailand. Dua pelaku meminta ID, paspor dan tas pinggang sang korban. Dari tas mereka mengambil uang € 1500.

Menyadari uangnya diambil, sang korban berteriak-teriak minta tolong dalam bahasa Thais mungkin atau bahasa Jane memanggil Tarzan. Yang pasti suara minta tolong itu terdengar oleh beberapa pekerja bangunan yang berada dekat lokasi. Mereka akhirnya membantu menangkap sang pelaku dan menyerahkan kepada polisi.

Tidak Kapok
Beruntung kali ini bagi sang korban, karena uangnya akhirnya kembali. Dan pelaku dikenai hukuman kurungan selama tiga bulan. Tapi kan tahu sendiri penjara di Belanda seperti hotel Melati ber-TV dan bersih. Kalau dasarnya memang penjahat, maka setelah keluar penjara dia akan mengulang perbuatannya dengan pengalaman dan lebih mahir lagi. Artinya jumlah kejahatan ini tidak akan berkurang.

Dari cerita tentang ‘aparat gadungan’ ini maka Eka Tanjung ingin menyampaikan beberapa saran atau tips kepada kawan yang bepergian liburan ke Eropa.

  • Jangan hiraukan orang asing yang mengajak Anda berbicara di tempat wisata.
  • Jangan tanggapi orang yang meminta-minta. Minta rokok atau korek api.
  • Jangan layani orang yang menjatuhkan benda dan menyebut itu punya Anda. Amankan barang Anda.
  • Jangan membeli barang murah di tempat yang mencurigakan.
  • Pisahkan uang yang anda di dompet yang berlainan.

Korban Belanda
Kejahatan dengan modus seperti ini terjadi di mana-mana dan korbannya bukan saja kalangan wisatawan. Para lansia Belanda yang tinggal sendiri sering pula jadi korban ‘aparat gadungan.’ Mereka datang menyamar sebagai aparat polisi atau dinas pemda, ingin mengontrol keamanan rumah penduduk dan melihat ke dalam dan menjarah barang-barang berharga.

Semoga masukan ini bermanfaat dan kawan bisa menikmati liburan di Belanda dan Eropa dengan nyaman, tanpa mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Eka Tanjung siap memberikan saran untuk penginapan maupun transportasi dan akomodasi yang baik dan aman.

Menghubungi Serbalanda

Kiat-Kiat Wisata Murah di Belanda

Posted on Updated on

Suasana di Giethoorn. Dusun Air Terindah di Dunia. Tempat wisata di Belanda ini sunyi, tidak ada kendaraan bermotor. Hanya jalan setapak.
Perahu di Giethoorn

Jika berlibur ke Eropa, Belanda jadi bagian yang menarik disambangi. Di negeri Kincir Angin dan Tulip ini, kawan tidak perlu buang waktu dan uang. Eka Tanjung dari Serbalanda menyampaikan berbagai tips dan kiat berhemat penginapan, makan  dan transportasi. Serta hemat pipis.

Serbalanda kerap mendapat pertanyaan dan request mengenai tempat menginap murah dekat Stasiun Amsterdam Centraal dan harganya murah. Kombinasi yang sulit didapat, karena penginapan di lokasi strategis harganya mahal. Hampir tidak mungkin nemu hotel dekat stasiun Amsterdam Centraal di bawah harga € 50,- per orang.

Museum Rembrandt sudah tidak ada lagi Icon Iamsterdam. Yang berdiri malah tulisan #serbalanda.

Penginapan
Eka Tanjung dari Serbalanda yang sudah lebih 30 tahun berdomisili di Belanda mengenal banyak tempat murah. Kami sarankan penginapan di pinggir kota Amsterdam yang bisa dijangkau Bus, Trem atau Metro. Serbalanda pernah menulis tentang:  Tiket Kendaraan Umum di Belanda. 

Penginapan yang ditawarkan kawan-kawan Serbalanda, harganya antara €20 – € 35,- per orang per malam. Tergantung lokasi dan peak season. Biasanya untuk anak-anak balita berlaku harga khusus. Kemarin kawan Serbalanda pemilik B&B di Amsterdam bahkan tidak meminta harga untuk anak di bawah 5 tahun.

Kincir Angin di Zaanse Schans, salah satu tujuan wisata yang penting di Belanda. Kombinasi dengan tour Volendam dan Giethoorn.
Zaanse Schans Pic:©Serbalanda

Mudah Dijangkau Kendaraan Umum
Walaupun lokasi penginapan di pinggir kota Amsterdam atau di kota lain, tapi mudah dijangkau kendaraan umum. Jarak tempuh maksimal 30 menit. Masalah koper dan bagasi yang besar tetap bisa dibawa dengan kendaraan umum. Kendaraan umum di Belanda sangat ramah penumpang, bagi penumpang sehat maupun yang berkursi roda.

2015-05-25 17.33.12

Koper di Simpan
Kalau kawan tidak mau ribet dengan bagasi ketika berperjalanan di Belanda, maka koper atau tas besar bisa disimpan di locker yang disediakan stasiun besar di Belanda. Silakan baca informasi Locker di Bandara Schiphol.
Dan Locker di stasiun Amsterdam dalam bahasa Inggris.

So, kawan bisa leluasa jalan-jalan di Amsterdam tanpa membawa bagasi besar. Tangan tidak terganggu untuk ber-selfie-ria. Dan senyum bisa sumringah karena tidak perlu khawatir bagasi disikat maling ketika sedang menatap kamera dan mengambil posisi mannequin mode on. Walau demikian mohon tetap waspada ketika sedang berada di tempat-tempat wisata. Banyak copet yang mencari kesempatan.

Tiket Harian
Jika kawan berencana menjelajah Amsterdam, atau kota besar Belanda lain bisa memanfaatkan ticket per hari yang ditawarkan. Sebagai contoh di Amsterdam ada bermacam jenis ticket angkutan umum untuk 24 jam, 48 jam bahkan sampai ticket untuk 7 haripun ada.

2015-04-04 10.48.08

Orang Lokal
Berbeda dengan Tour dan Travel Standar, maka Serbalanda bisa membawa kawan ke tempat manapun, berdasarkan keinginan. Ke calon mertua atau calon suami pun, bisa. Kalau tour dan travel umum biasanya hanya membawa ke tempat-tempat yang biasa dikunjungi saja. Volendam, ke Zaanse Schans, Madurodam, Canal Cruise, Diamond Factory dan tempat shopping. Mereka tidak akan membawa kawan ke Giethoorn yang indah itu. Dan juga tidak ke tempat bagus yang biasa dikunjungi locals.

Saran Locals
Kalau kawan ingin juga melihat tempat-tempat locals Belanda berbelanja, makan, souvenirs, oleh-oleh coklat, membeli kebutuhan sehari-hari. Maka perlu masukan dari penduduk locals. Mereka tahu tempat belanja murah, karena mereka sendiri terbiasa hemat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Itu pula sebenarnya salah satu keuntungan jika menginap di rumah orang Indonesia yang sudah lama domisili di Eropa.

Supermarket Super Murah
Jangan lupa pula mencari oleh-oleh di supermarket yang biasa menawarkan coklat atau keju harga promo. Dengan harga korting bisa memborong oleh-oleh sampai koper beranak pinak. Supermarket harga sahabat yang terkenal di Belanda: LIDL (banyak coklat), ALDI (banyak kejutan), Albert Heijn (coklat dan keju), Dirk van den Broek, DEEN , Jumbo dll.

Tips Murah Locals
Di setiap kampung di Belanda memiliki komisi yang menyelenggarakan kegiatan untuk penduduk lokal. Jadi jika kawan sedang menginap di salah satu jaringan B&B Serbalanda, bisa mendapatkan masukan tentang pawai atau braderie locals yang menarik disaksikan dan disambangi. Acara-acara tradisiona Belanda ini biasanya sangat menarik dan penduduknya tidak terlalu commercials oriented.

Air Keran Gratis
Barang kali kawan tidak terbiasa meneguk air langsung dari keran, untuk menghilangkan rasa dahaga. Tapi sebenarnya tidak perlu takut meneguk air dari keran di Belanda. Sebab air keran di Negeri yang terletak di bawah permukaan air laut itu, terkenal sangat bersih dan tidak beraroma kaporit atau aroma Cendol Susu Durian. Mohon diperhatikan, hanya air keran dingin yang aman diminum tanpa dimasak. Sebab kalau air panas dari keran, itu kurang sehat karena panasnya tidak sampai 100 derajat Celsius.

Penyaringan Air
Proses pembersihan air minum Belanda sangat canggih dan mencapai saringan yang maksimal. Jadi salah satu cara berhemat adalah, berbekal botol kosong. Jika kunjung ke restoran, mohonlah izin ke toilet, dan mengisi botol dengan air keran. Maka kawan akan menghemat minimal €2 per botol. Toilet dan Air Gratis.  Air Keran Belanda Bersih.

Pipis Dapat Duit
Atau kalau kawan harus ke kamar kecil di tempat wisata Zaanse Schans, biasanya berbayar. Setengah Euro sekali masuk. Memang sulit untuk berhemat kalau urusan pakai toilet berbayar. Karena kalau pipis ditahan, bisa menimbulkan penyakit yang lebih parah. Ginjal bisa teriak-teriak kesakitan. Pipis Murah di Belanda

Botol Kosong
Nah untuk mengantisipasi penghematan itu, maka bawalah botol kosong saat masuk toilet. Sehingga dengan keluar membawa botol ukuran 2 liter yang penuh air minum maka ada sejatinya sudah memperoleh pendapatan sekitar € 2,-

Host Ramah
Seperti diungkap Flora, wanita Indonesia yang menginap di B&B Serbalanda selama tiga malam di Amsterdam. Ia datang ke Amsterdam dari Paris dengan menggunakan kereta Thalys. Masuk Amsterdam Sentral malam-malam dan sesampainya di penginapan Serbalanda, disuguhi makan. (padahal bukan janjinya dapat makan. red.) Dan maaf ini bukan jaminan bahwa akan selalu dapat makan. Tergantung kebaikan si pemilik rumah.

“Waah mas Eka, host nya baik banget. Servicenya oke banget. Suaminya juga kasih tips transportasi dan belanja murah di Amsterdam.” 

Ikut Makan
Karena Serbalanda mengutamakan service lebih baik lagi, maka kami meminta saran dan masukan kepada setiap tamu. Flora dalam hal ini menyebutkan bahwa kamarnya terlalu kecil. Memang harus diakui di Belanda ini rumahnya rata-rata lebih kecil dari di Indonesia.

“Kami jadi malu juga, beberapa kali diajak ikut makan malam. Hostnya rajin dan rasa-rasa seperti di rumah keluarga sendiri. Sambutannya hangat.” 

Tour Private
Ditanya review  angka antara 0 sampai 10, Flora dan kawan-kawan memberikan 8,5 untuk Service dan 7 untuk fasilitas. Dengan bekal masukan ini, Serbalanda dan team berusaha terus meningkatkan services. Contoh Paket Murah Serbalanda.

Saat ini semakin banyak requests masuk untuk tour-tour wisata Belanda untuk group kecil 4 – 8 orang. Kami mulai melebarkan sayap pelayanan tour Eropa dengan mempertahankan service baik ini.

Testimonia:
Bersyukur Serbalanda selama ini menerima tanggapan positif dari kawan-kawan Indonesia dan Malaysia. Ingin baca testimoni tetamu yang sudah pernah menginap dan jalan dengan Serbalanda. Silakan klik. Apa Pendapat Tamu Tentang Serbalanda.