Nyeruput Starbucks, Ternyata dari Indonesia

Posted on Updated on

20150301_111353Acara buka puasa dan sahur, terasa lengkap setelah nyeruput kopi panas seduh, jenis Arabika. Sudah kecanduan, karena tanpa kopi bisa sakit kepala. Barang nikmat di Starbucks itu berasal dari Indonesia.

Kecanduan
Sejak puluhan tahun tinggal di Belanda ini Eka Tanjung menjadi kecanduan kopi. Setiap hari sudah pasti minum dua gelas kopi seduh merk Douwe Egberts, Van Nelle atau kalau sedang berhemat Golden Coffee dari Lidl. Kalau sudah minum kopi, rasanya badan jadi segar. Detak jantung naik dan adrenaline melonjak..

Dan di jam kantor, orang di Belanda rata-rata minum kopi 3,5 cangkir per hari. Jadi bangsa Belanda sudah termasuk kecanduan kopi. Tidak terbayangkan seandainya di dunia ini tidak tumbuh pohon kopi. Mau kemana orang Itali mencari espresso?

Stroopwafels Sumber: Wikipedia.org

Tadi malam, di hari pertama buka puasa, sejenak melamun sambil ditemani secangkir kopi dan dua keping Stroopwafels rasa Roomboter, Eka Tanjung bertanya tentang asal usul kopi nikmat ini.

Kopi 28

Website Menarik
Akhirnya ketemu website menarik yang menjelaskan proses mulai penanaman kopi sampai pemetikan dan pembakarannya. Sambil menscroll website Bizbrain.com itu, penulis mulai menyadari bahwa biji kopi itu merupakan tanaman istimewa yang hanya tumbuh di dataran tinggi wilayah sekitar garis khatulistiwa. Tidak bisa tumbuh di sembarang tempat.

Di Eropa dan Amerika Utara tidak tumbul satu batang kopi pun di alam. Seperti Bunga Tulip yang tidak bisa tumbuh indah di alam Indonesia.

Starbucks sering menulis salah.

Indonesia Penting
Dengan kata lain Indonesia, negeri kita merupakan pemain sangat penting untuk memenuhi hasrat minum kopi manusia di seluruh dunia. Indonesia disebutkan sebagai eksportir terbesar nomor empat dunia. Kedai kopi ternama seperti Starbucks pun mengakui bahwa mereka menggunakan jenis kopi pilihan untuk memberikan kepuasan pengunjung. Salah satu jenis yang disajikan di kedai kopi Starbucks itu adalah jenis Isla Flores Indonesia

Kopi 01

Tempo Travel
Dan memang, jika kita menengok tulisan Yati Maulana “7 tempat asal kopi terbaik” di Tempo Online, disebutkan bahwa ada tujuh perkebunan kopi Indonesia yang sudah terkenal dengan hasil kopinya. Kopi-kopi dahsyat dari dataran tinggi ini sangat mendunia.

  1. Kopi Arabica Gayo
  2. Kopi Sidikalang Bukit Barisan
  3. Kopi Arang Java Jampit
  4. Kopi Toraja, Sulawesi Selatan
  5. Kopi Kintamani “Starbucks”
  6. Kopi Flores, Ngada NTT “Starbucks”
  7. Kopi Wamena, Lembah Baliem

Petani Kaya?
Jadi sebenarnya, ketika kita menyeruput kopi dari cangkir kertas dengan tulisan nama yang salah di Starbucks itu, kita sedang menikmati kopi hasil petikan saudara sendiri. Dengan harga yang fantastis di Starbucks dan merek serta label lain dunia, kita membayangkan betapa para petani di Lembah Baliem itu kaya raya, jika mereka mendapat 25% saja dari harga percangkirnya di kedai kopi.

Di sini Eka Tanjung bukan ekonom dan tidak sempat menganalisa perbandingan harga kopi dari petani dengan harga kopi di eceran. Tapi seperti zaman moderen ini, maka upah buruh di hilir jauh lebih rendah dari kedai di hulu. Dengan alasan karena ongkos produksi menjadi sajian kopi jadi, sangat panjang dan mahal. Yah.. kalau kopi berkarung-karung diangkut dulu ke Seattle, Washington USA untuk diperiksa dan dibakar dulu, lalu diangkut lagi untuk Kedai Starbucks di Jayapura ..ya su pasti saja harganya ja mahal. Kerna kaka rasanya juga sangat mak nyuss.

Sedangkan kopi yang lebih murah di kedai-kedai Banda Aceh atau di Bireun, tidak bisa bersaing dengan pemain internasional, karena berbagai kendala produksi dan distribusi. Intinya kita menjadi penikmat kopi Indonesia berlabel ‘asing.’  Kasus kopi ini bukan satu-satunya.

Tuna Ahok
Masih banyak kasus hasil bumi atau laut kita seperti hasi tambang, minyak bumi dan juga hasil laut seperti ikan. Sebagai contoh, Basuki Cahaya Purnama Gubernur DKI dalam acara penandatanganan MoU dengan Sumatera Barat mengenai kerjasama hasil laut. Ahok menyebutkan bahwa Ikan Tuna yang disajikan di restoran di Jakarta, merupakan impor dari perusahaan Jepang. Sedangkan ikan-ikan Tuna itu asalnya dari perairan Indonesia. Alasannya karena Jepang memiliki teknologi pengirisan ikan Tuna yang canggih. Indonesia belum memiliki teknologi itu.

Irisan Jepang
Gilaaaa.. pikir ku, lha sudah setengah abad kita punya hubungan kerjasama dengan Jepun dan mengirimkan ratusan peneliti dan kandidat PhD ke Negeri Sakura itu apakah tidak ada satupun yang mendalami teknik mengiris daging? Come on! gumamku dalam hati, tak terasa tangan kiriku menyampluk cangkir kopi Belanda dari Indonesia sampai hampir tumpah.

Kita Kapan?
Ahok menurutku sudah menyentuh inti persoalan dan permasalahan. Sederhana banget.. secara theori .. tapi praktiknya memang tidak mudah. Apa sih sebenarnya yang menjadi permasalahannya? Kenapa kita juara penikmat kopi dan Tuna segar serta penonton setia Champions League dini hari? Kapan kita bisa menjadi pembakar kopi terenak se dunia, pengiris Tuna terbaik dan pemain sepakbola terhandal?

Makin Pahit
Sambil memikirkan jawabannya, Eka Tanjung menyeruput kopi seduh yang mulai dingin, permukaannya sudah menyentuh ampas dasarnya. Setelah memahami dan menyadari ternyata kopi yang ku minum ini dari Gayo atau Flores, kok rasanya sedikit lebih PAHIT ya sekarang? Woo.. karena emosi .. ternyata ampasnya ..jadi .. terminum..

Advertisements