Bule Liburan ke Indonesia

Pengalaman Lucu Bule Liburan ke Indonesia kena Diare

Posted on

Liburan ke negara lain, memberikan banyak pengalaman yang tidak terlupakan. Kali ini bule Belanda yang liburan ke Maluku Indoneisa menuturkan pengalaman sakit diare akut di pantai dan terpaksa BAB di depan sekolah. Lalu pengalamannya BAB di hutan ditunggui babi yang siap menyantap limbahnya.

Pak Sirtjo menceritakan pengalaman sedang di pantai mendadak diserang diare. Bule Belanda mengalami hal ini ketika berkunjung ke Pulau Aboru Ambon yang indah itu. Dalam rangka mengunjungi keluarga istrinya. Kasus ini terjadi tahun 1984.

Bule Belanda ini melihat saat itu di kampung-kampung belum ada WC. Tapi penduduk memanfaatkan tempat yang paling luas sedunia, laut. Mereka buang air di pantai. Perbincangan lengkap bisa disaksikan di Channel Youtube “Serba Belanda” Link di bawah ini:


Bule Brewok yang fasih berbahasa Indonesia itu di negaranya Belanda terbiasa dengan buang hajat duduk di kloset. Sehingga privacy terjaga. Bisa tutup dan kunci pintu.

Sedangkan di tempat yang ia kunjungi di Maluku ini, waktu itu lain sekali.


“Biasanya orang ramai-rampai pagi-pagi ke pantai untuk buang air. Satu bagian untuk perempuan bagian lain untuk laki-laki. Jadi ramai-ramai mereka bicarakan agenda kegiatan seharian ke depan. Siapa ke pasar, sambil buang air.”



Waktu itu di kampung pulau kecil Aboru, bule Brewok sedang jalan-jalan di pantai bersama seorang teman dan Betty sang istri,  siang hari sekitar jam setengah dua (13:30 PM)

“Tiba-tiba perut saya sakit luar biasa dan tampaknya mencret. Saya terpaksa karena sedang di pantai, saya pikir tinggal buka celana padahal, tengah hari dan lokasinya itu ternyata pas di depan sekolah dasar. Jadi sialnya anak-anak sekolah semua nonton. Mereka meneriaki kami.”

Pengalaman itu pertama kali, dia buang air di laut. Walaupun dia sebelum berangkat ke Ambon sudah mendapat pengarahan tentang BAB di pantai, tapi dia tidak tidak tahu tehnik di ‘atas’ air.
“Saya sudah pernah lihat caranya orang buang air trus saya duduk di dalam air terendam sampai perut, saya buang air besar dan mencret.  Saya terkejut lihat ke bawah kok limbah itu maju dan mundur terdorong ombak laut.  Saya lihat buangan saya naik-turun dan anak-anak SD nonton kejadian ini mereka berteriak-teriak..”Bule sedang buang air tengah hari.” “

Bule Belanda ini menyadari salah menerapkan teknik, karena sebenarnya ada tehnik BAB yang benar di pantai. Seharusnya jongkok di atas batu, agar tidak kesiram air laut.
“Waktu itu saya belum tahu. Itulah pengalaman pertama saya buang air di laut. Rasanya sangat tidak nyaman sekali waktu itu. Setelah beberapa minggu disana mulai terbiasa.”

Bule Brewok juga punya pengalaman lain soal BAB di kampung.
“ Ini ada satu cerita lagi di kampung lain toiletnya di atas laut ada beberapa batang pohon kelapa, ada dinding penghalang dan beberapa batang pohon kelapa. Semua duduk disana. Satu bagian perempuan. lainnya lelaki.

Saya tinggal di kampung.  Dan disana tersedia ember nah kalau mau cebok bisa pakai air itu. Saya tinggal di keluarga istri sepertinya mereka kasihan sama bule pantat putih. Jangan cebok pakai air laut.

Mereka sarankan kami untuk pakai air tawar Jadinya saya pagi-pagi waktu mau berak, aku harus jalan sepanjang kampung menenteng ember  ke laut.

Duduk disana lagi, sambil ngomong. Mungkin ini pengalaman aneh untuk kami orang Belanda. Kalau di Belanda kan, selalu duduk di kamar kecil tertutup. Jadi orang kampung itu cebok pakai air laut saja?

BAB ditunggu Babi
Ada cerita lain lagi dengan kampung di pegunungan, tidak ada di laut. Kalau ada sungai, ya buang air di sungai tapi kalau tidak ada sungai. Buang air biasanya di lereng gunung dan biasanya babi sudah tunggu. Berarti kalau mau berak, harus siap dengan batu untuk lempar, sebab kalau tidak, bisa jadi babi sudah menyerbu sebelum limbah keluar.

Kalau buang air di tanah, dimakan babi. Kalau buang air di laut, disambar ikan. Menurut sang bule yang domisili di Deventer, Itu memang proses recycling (daur ulang). Tapi lucu juga ya babi-babi yang menunggu itu. Kalau malam, yang kelihatan hanya mata yang menyala merah itu mata babi yang warnanya merah.

Jadi disana harus selalu bawa batu kalau BAB batu kecil saja. Babinya yang kecil-kecil yang ada di Indonesia. Ini lucu banget pengalaman bule di Indonesia tepatnya di Maluku. Mungkin kalau sekarang sudah tidak ada lagi itu ya? Mungkin satu dua masih ada, tapi kebanyakan sudah punya toilet sendiri. Itu kan cerita dari 40 tahun lalu. Itu kejadian tahun 1984.

Sejalan dengan waktu tentu saja, Indonesia, Belanda dan dimanapun juga mengalami perubahan. Ketika ditanya soal perubahan itu Bule Brewok yang terakhir ke Indonesia tahun 2016 mengatakan demikian: “Sepertinya banyak sekali berubah. Waktu saya ke Sulawesi Selatan, ke kampung tahun 1991, itu kampung tidak terlalu kecil, sekitar 10 ribu penduduk waktu itu telepon cuman ada satu itupun di Kantor Polisi.

Trus waktu bule ini mau telepon ke Belanda, ia harus naik bus sejauh 50 Km, ke kota Pare-pare. Di kantori Telkom baru bisa telepon ke Belanda. Nah, kalau sekarang sudah ada HP, sedangkan waktu itu, TV pun masih jarang. Kalaupun ada masih Hitam-Putih ketika dia kembali 5 tahun kemudian rumah-rumah sudah ada Parabola, televisi berwarna. Dan lima tahun kemudian semua orang punya HP. Jadi memang sangat cepat sekali.

Bangunan-bangunan juga cepat sekali bermunculan di kota-kota besar. Itu sudah mulai sejak tahun 1984 di Jakarta sudah mulai itu sudah muncul pembangunan Fly Over di seluruh Jakarta.

Tapi misalnya kampung tempat saya tinggal di Jakarta, Tanjung Duren sekarang sudah berubah menjadi mall, setelah 30 tahun. Dibongkar semua, waktu itu itu alokasi tempat waria.