Wisata Eropa

Deventer kota Belanda, Menyimpan Sejarah Indonesia

Posted on Updated on

Deventer, kota Belanda di propinsi Overijssel menyimpan sejarah Hindia-Belanda. Hotel Restaurant GAIA, adalah bekas villa milik Gubernur Jendral Duymaer van Twist. Di museum kota itu menyimpan buka kuno: Kedoengkebo, Transkrip Perang Diponegoro. Cukup alasan untuk juga berkunjung ke Deventer.

Musuh Multatuli
Perbincangan dengan Bule Brewok dalam Bahasa Indonesia di rumah Gubernur Jendral Hindia Belanda Duymaer van Twist di Deventer. Gubjen ini menjadi orang nomor satu di Hindia Belanda, ketika Multatuli di Lebak. Mereka saling bersinggungan.

Rumah Gubernur Jendral Hindia Belanda di Deventer

Villa Nieuw-Rande, milik mantan Gubernur Jendral Albertus Jacobus Duymaer van Twist. Dia menjadi orang nomor satu di Hindia Belanda, dari tahun 1851-1856.

Menurut Pak Sirtjo, rumahnya di sini bagus, ini semua bukan hanya gedung tapi Landgoed (estate – pekarangannya) pelataran halaman, seperti di Istana Bogor ini memang rumahnya Duymaer van Twist. Dengan luas 43 Hektar.

Namanya muncul dalam buku Multatuli “Max Havelaar”.
Ketika itu Multatuli Eduard Douwes-Dekker, jadi asisten resident di Lebak Banten. Multatuli menyaksikan bahwa regent atau bupati: (Raden Adipati Karta Nata Negara) yang menurut Multatuli, memaksa rakyatnya untuk kerja keperluan pribadi. Seperti budak.

Multatuli tidak setuju dengan kelakuan si bupati Lebak itu. Sebagai asisten residen Lebak, Multatuli mencoba merubah situasi itu dan mengeluhkan ke atasan. Dan sampailah ke Gubernur Jendral waktu itu Duymaer van Twist.

Belanda Butuh Kaki Tangan
Bahwa Gubernur Jendral harus merubah, politiknya, dan menggunakan pengaruhnya untuk menghukum bupati Lebak. Tapi justru sistem pemerintahan di Hindia Belanda adalah bahwa pengaruh langsung orang Belanda ke isu lokal, diminimalisir.

Berarti sebenarnya pada Zaman Kolonial, itu bupati-bupati yang tradisional raja dan lainnya sejatinya yang memerintah daerah masing-masing sesuai dengan cara dan adat yang berlaku di daerah itu.

Hanya saja, orang Belanda seperti asisten resident di kabupaten melihat tapi mereka juga menyampaikan kebijakan pemerintah kolonial kepada bupati-bupati. Tapi bupati tetap sangat berkuasa. Berarti, bagi pemerintah Kolonial Belanda bupati-bupati itu posisi paling penting untuk kelancaran kebijakan. Jadi kalau tanpa bupati-bupati, karena jumlah orang Belanda sedikit, tidak mungkin orang Belanda bisa langsung turun memerintah atau menguasai wilayah Hindia Belanda (Indonesia).

Duymaer Van Twist Tidak Menghiraukan
Berarti Gubernur Jendral, walaupun mungkin sependapat dengan Multatuli. Tapi seandainya Gubjend menghukum Bupati itu sama saja dengan melemahkan wibawa pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Akhirnya tidak ada satupun pejabat tinggi pemerintahan Hindia Belanda, yang mau mengikuti kemauan Multatuli, yang sangat keras kepala. Sepanjang hidupnya Multatuli bertengkar dengan siapa pun.

Karena Multatuli merasa tidak didengar pendapatnya, lalu menulis buku mengenai masalah itu yang menurut dia. Ketidakadilan di Hindia Belanda: Max Havelaar.

Pembacanya khususnya banyak mahasiswa yang akan menjadi ambtenaar-ambtenaar (PNS) yang akan dikirim ke Indonesia (Hindia Belanda) Waktu itu pun di Belanda tidak ada larangan buku Max Havelaar.

Ada temuan menarik dari Bule Brewok ini mengenai. Multatuli atau Edward Douwes Dekker. Dan yang menariknya sekarang ini banyak orang melihat Multatuli sebagai tokoh anti-kolinial padahal dia tetap kolonial. Dia tetap melihat ada peran penting untuk orang Belanda di Hindia Belanda.

Hanya saja, dia mau melawan kekerasan yang dilakukan penguasa pribumi terhadap rakyat. Tapi Multatuli tidak pernah bilang bahwa Belanda harus keluar dari Hindia Belanda. Jadi dia tetap mempertahankan penjajahan Belanda. Penjajahan baginya tetap ada tapi dengan cara di bawah bimbingan Belanda tanpa menindas rakyat. Tapi bagi Pak Sirtjo, dia tetap kolonial.

Duymaer van Twist waktu selesai masa tugas Gubernur Jendral tahun 1856. Karena memang berasal dari daerah sekitar sini dia membangun Villa ini setelah pulang dari Indonesia. Pasti gajinya Gubernur Jendral cukup tinggi dan dia juga bisa dilihat dia berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Duymaer – Van Twist, nama belakang yang ganda berarti dia kalau bukan dari latarbelakang keluarga yang kaya tidak mungkin jadi Gubernur Jendral.

Eka Tanjung: Jadi ketika mengirimkan Gub-Jend dari Belanda tidak begitu saja. Ada permaianan?

Pak Sirtjo: Bukan, karena bayangkan saja kalau orang biasa tidak akan masuk Universitas. Jadi kalau dia kuliah berarti orang yang berada orang yang punya pengaruh. Bukan dari zaman VOC. Itu sudah bangkrut 1795. Tahun 1810 Belanda sudah berdiri sebagai negara. Duymaer van Twist bangun rumah ini. Dia kalangan bangsawan. Dan dia kemudian masuk di parlemen setelah akhir masa jabatan di Hindia Belanda. Dia beli dari orang, sebelumnya ada bangunan bangunan lama yang sudah rusak kemudian direnovasi.

Di Villa di tengah lahan 43 hektar. Bahasa Belandanya Landgoed. (Inggrisnya : Estate) Ada beberapa barang-barang milik Duymaer van Twist dipertunjukkan di museum Deventer.

Top 60 Tempat Wisata Belanda

Posted on

Airport Schiphol di Amsterdam, merupakan salah satu bandara terramai di Eropa. Jika kawan sedang di Belanda, sempatkan mengunjungi salah satu tempat wisata yang menarik. Sebab Belanda atau Holland punya ikatan sejarah dengan Indonesia. Serbalanda mengumpulkan 60 Tempat Wisata di Belanda yang bisa dikunjungi. Urutan disusun acak dan tiap saat bisa berubah.

  1. Kastil Muiderslot
  2. Kastil de Haar
  3. Stadion Ajax ArenA Amsterdam
  4. Volendam, kampung Nelayan
  5. Marken, kampung Nelayan
  6. Zaanse Schans, Kincir Angin
  7. Kinderdijk, Kincir Angin
  8. Red Lights District, Amsterdam
  9. Keukenhof, Tulip (buka Maret – Mei)
  10. Amsterdam Canal Tour
  11. Tropenmuseum, Amsterdam
  12. Rijksmuseum
  13. Van Gogh Museum
  14. Batavia Stad Outlet
  15. Roermond Outlet
  16. Giethoorn, Little Venice
  17. Vredes Paleis, Den Haag
  18. Alun-Alun Delft
  19. Royal Delft Blue
  20. Rumah Kubus, De kubuswoningen, Rotterdam
  21. Madurodam, Den Haag
  22. Pasar Keju Alkmaar
  23. Pasar Keju Edam
  24. Pasar Keju Hoorn
  25. Pasar Keju Gouda
  26. Pasar Keju Woerden
  27. Old Port Pelabuhan Lama Rotterdam
  28. Bloemenmarkt, Floating Flower Market Amsterdam
  29. Markthal, Rotterdam
  30. Rumah Johan Cruyff, Amsterdam
  31. Madame Tussauds, Amsterdam
  32. Museum Nijntje Dick Bruna, Utrecht
  33. Pasar Albert Cuyp, Amsterdam
  34. Rietveld Huis, Utrecht
  35. Museum Kereta Api, Utrecht
  36. Deltapark, Neeltje Jans, Zeeland
  37. Anne Frank Huis Amsterdam
  38. NEMO Science Center, Amsterdam
  39. Velorama, Museum Sepeda Tua, Nijmegen
  40. Dom Toren, Utrecht
  41. Binnenhof, Parlemen Den Haag
  42. Museum Bahari, Amsterdam.
  43. This is Holland, Movie 4D, Amsterdam
  44. Stad Hart Zaandam
  45. Tong Tong Fair (TTF), Den Haag
  46. Pasar Gelap “Beverwijk”  (Sabtu dan Minggu)
  47. Magere Brug, Jembatan Kayu Sungai Amstel, Amsterdam.
  48. Patung dan Rumah Multatuli Amsterdam
  49. Damrak dan Istana Kerajaan, Amsterdam
  50. Monumen de Dam, Amsterdam
  51. Taman Sakura di Amstelveen (April)
  52. Rumah Tumpuk – Rumah Barbie Zaandam
  53. Rumah Kaisar Rusia Peter Agung Zaandam
  54. Studio Lukisan Karya Claude Monet Zaandam
  55. Taman Indonesia Kallenkote
  56. Hunebedden, the Dutch Stonehenge, Havelte
  57. Museum Jan Pieterszoon Coen, Hoon
  58. Rumah Kubus, Helmond
  59. Wereldmuseum, Rotterdam
  60. Museum Reklamasi Cruquius, Haarlemmermeer

Serba Belanda: Mang Theo, bule WNI ditolak masuk Belanda

Posted on

Mang Theo, bule Sunda ternyata berpaspor Indonesia. Dan sempat ditolak masuk Belanda. Menyaksikan dengan mata kepala sendiri, temannya menjemput maut. Trauma yang disandangnya sampai detik ini.

Eka Tanjung menjumpai Mang Theo, orang Belanda yang pandai berbahasa Sunda. Perbincangan di Schokland, salah satu situs bersejarah di Belanda. Sebuah bukit yang dahulu merupakan pemukiman, tempat ratusan penduduk Noordoostpolder bersembunyi dari amukan air laut de Zuiderzee.

Schokland
Lokasi Indah itu sekarang merupakan UNESCO Heritage pertama Belanda. Perhatikan alam indah yang membuat burung-burung tak berhenti berkicau saat kita berbincang.

Pada tayangan saat ini Mang Theo menceritakan tentang perjalanan selama beberapa pekan menggunakan kapal barang berbendera Norwegia, dari Jakarta menuju ke Pelabuhan Antwerpen. Pilihannya Belgia, karena Theo ber-4 kakak adik perempuannya serta ibunya berpaspor Indonesia. Sementara Belanda tidak memberikan izin visa kepada warga Indonesia sehubungan konflik Irian Barat.

Keluarga Belanda Milih NKRI
Theo, dan semua keluarga Keuchenius memang ketika pasca kemerdekaan Indonesia, memilih menetap di Indonesia dan mengambil paspor Indonesia. Ketika itu semua orang Belanda dan keturunan Belanda kelahiran Indonesia pun, diminta mengambil pilihan. Berbeda dengan kebanyakan orang-orang keturunan Belanda yang memilih pergi ke Belanda atau ke Australia, keluarga Keuchenius memilih menatap di Indonesia dan menjadi orang Indonesia.

Kelahiran Indonesia
Selain karena alasan Ayah dan anak-anak memang kelahiran di Indonesia. Juga karena sang ayah menjabat sebagai direktur administrasi di Perkebunan Teh Cisarua Selatan.

Ibunda Menderita Sakit Parah
Namun, keinginan bertahan hidup di Indonesia menjadi sulit ketika pada ibunda Theo ditemukan penyakit kanker. Dan pihak dokter di Indonesia sudah menyakan tidak mampu untuk menangani. Dan mereka menyarankan pengobatan di luar negeri. Amerika Serikat atau Belanda.
Pilihan Belanda lebih baik karena keluarga ibunda yang juga kelahiran Belanda, masih banyak tinggal di Belanda.

Ibunda Theo, Conny Keuchenius, semasa hidupnya adalah juga seorang yang memiliki bakat melukis. Sepeninggalannya, Theo mewarisi beberapa lukisan yang indah. Seperti tampak pada video di bawah ini:

Konflik Irian Barat
Namun kondisi politik tanuh 1963 itu tidak memungkinkan untuk perjalanan langsung dari Jakarta ke Belanda karena ada konflik Irian Barat. Akhirnya ibunda dan lima anak masuk Belanda melalui Antwerpen Belgia. Akhirnya mereka menyelundupkan diri menerobos gardu perbatasan di malam hari. Perjalanan yang cukup menegangkan. Perjalanan ini dituangkan dalam buku Mang Theo.

Sementara ibundanya dirawat di Belanda, anak-anak mulai sekolah. Karena kondisi kesehatan sang istri semakin memburuk, selang dua tahun kemudian ayah Theo menyusul ke Belanda lewat jalur Jerman, karena hubungan Indonesia Belanda masih tegang. Dan warga Indonesia belum bisa masuk Belanda.

Ayah Theo terpaksa meninggalkan pekerjaannya di Perkebunan Teh dan menyerahkan tugas kepada penerusnya. Empat tahun kemudian ibunda Theo akhirnya berpulang juga karena penyakit kanker yang diderita.

Perbincangan ini juga membahas pengalaman tragis Theo kecil, ketika berusia 6 tahun. Ia menyaksikan kawan mainnya Dedi (Freddy) kecelakaan jatuh dari pohon dan meninggal dunia karena terbentur batu di sungai. Dedi (almarhum) waktu peristiwa itu berusia 7 tahun.

Dengan mata kepala sendiri Theo menyaksikan langsung kejadian itu. Ketika Dedy memanjat pohon untuk mengambil sarang burung, akhirnya jatuh ke kali. Kejadian tragis yang berdampak pada Theo sampai hari ini. Kita bisa menyaksikan hal itu pada perbincangan di bangku Schokland itu.

Banyak suka duka yang ia dapatkan selama 13 tahun hidup di Paragajen khususnya dan Jawa Barat pada umumnya.

FLORIADE, Peluang Indonesia Rebut Pasar Dunia Produk Pertanian

Posted on Updated on

Kota Almere Belanda bersiap membangun pameran agrikultural 10 tahunan terbesar di Belanda. Eka Tanjung meninjau kawasan yang sedang dalam persiapan. Peluang Indonesia menjual produk pertanian ke pasar Eropa. Expo pertanian berlangsung April – November 2022.

Eka Tanjung melaporkan dari kawasan informasi tentang Floriade pameran AGRO 10 tahunan sekali yang berlangsung di Belanda. Untuk Tahun 2022 berlangsung di Almere, kota kami Almere menjadi tuan rumah ajang pameran produk-produk pertanian. Saksikan laporan video dari kunjungan Eka Tanjung ke Preview FLORIADE 2022.

Negara-negara yang memastikan hadir dua tahun lagi antara lain Kanada, Kenia, Jepang, China dan juga Indonesia. Indonesia akan memamerkan produk-produk pertaniannya di Expo terbesar di Belanda 10 tahunan sekali. Dengan senang hati Eka Tanjung dari Serba Belanda dan Serbalanda Tour menyambut tamu-tamu dari Indonesia untuk menyaksikan Floriade. Dan di kawasan seluas 60 hektar ini akan muncul sebuah kota baru yang Green City. Kota modern dengan nuansa hijau dan ramah lingkungan.

Untuk menuju ke kawasan melihat Expo persiapan Expo 2022, pengunjung mendaftarkan diri ke website: Floriade.com . Menentukan tanggal hadir, membali ticket secara online kemudian mendapatkan code yang bisa dipakai sebagai ticket masuk.

Preview dimulai pada tanggal 31 Juli 2020 kemarin dan kami datang jadi tanggal 1 Agustus 2020 baru dua hari dibuka. Preview ini buka hanya setiap akhir pekan saja. Setiap weekend sampai November 2020 setiap akhir pekan. Jadi Jumat Sabtu Minggu. Ini perahu kapal yang biasa dipakai ini almere City Tours.

Gedung dimana kita mendapat banyak sekali penjelasan. Dan slogan mereka mengatakan “work in progress” Expo 2022 Floriade Amsterdam Almere NL. secara marketing lebih bagus kalau ada kata Amsterdam nya. Kalau Almere aja kurang. Ini disebutkan calon pengunjungnya diperkirakan dua juta pengunjung 70% dari Belanda sendiri kemudian diperkirakan 26 persen itu dari Jerman, Belgia, Prancis, Inggris kemudian dua persen itu dari Amerika, Cina dari Jepang tentang FLORIADE nya sendiri.

Sejarahnya: 1960 pertama kali berlangsung di Rotterdam, di kota pelabuhan Rotterdam. Bapaknya seperti orang Indonesia Ada tumpengan segala Dan selalu yang membuka acara peresmiannya itu oleh Raja atau Ratu. Jadi di Euromast dan Het Park. Dari 25 Maret – 25 September 1960 pembukaan oleh Ratu Juliana. Jumlah pengunjungnya 4 juta. Kemudian pertama kali saya dan keluarga datang itu waktu itu lagi di Haarlemmermeer, dekat schiphol tahun 2002 waktu itu Indonesia membawa kayak Ondel-Ondel Betawi gitu, seingat saya. Lalu 1992 di kota Zoetermeer dekat Den Haag terciptanya lah sebuah komplek perumahan Rokkeveen jumlah pengunjungnya 3,4 juta lokasi luasnya 68 hektar. diresmikan oleh Ratu Beatrix. Info tentang latar belakang yang dulu ya lalu tahun 1982 berlangsung di Amsterdam di lokasi rekreasi. Gaasperpark dibuka oleh lagi oleh Ratu Beatrix jumlah pengunjungnya cukup besar 4,6 juta orang dan luas kawasannya 54 hektar.

Jadi Floriade total ini usianya sudah 62 tahun 1972 lagi-lagi berlangsung di Amsterdam di Beatrixpark. Saya menangkap kesan persiapannya kurang matang, ada Kanada lalu Kenia Prancis sudah menyatakan kan hadir lalu Polandia ya dari Eropa juga Bendera China kulihat sayup-sayup di atas . Ada Qatar, India juga mengirimkan delegasi Cina juga akan memamerkan produk pertaniannya. Mereka siap bersaing Jepang juga menyatakan siap. Thailand.

INDONESIA.
Akan hadir untuk keempat kalinya sebenarnya keempat kalinya. Jadi Indonesia akan merebut pangsa pasar Eropa dunia. Mengalahkan Thailand kita siap.

ALMERE
Nah kawan sekarang informasi mengenai ALMERE, pertumbuhan kota tuan rumah. Kota dimana Supir Santun berdomisili jumlah penduduk Almere pada saat ini 211,612 Jiwa (Agustus 2020) Ada nambah – ada kurang sedikit, tergantung kemarin ada lahir dan ada yang meninggal kemudian luas wilayah itu 129,1 km persegi Itu lahan tanahnya Luas airnya 119,6 km persegi. Wilayah airnya tidak hampir sama ya. luas tanah dengan luas air. Dan menyediakan 723 kamar hotel untuk tamu. Lalu jumlah KK 87.390. Posisi Almere terhadap permukaan air laut 3,5 m di bawah permukaan air laut. Panjangnya total itu 62 KM. Itu benar-benar busway yang tidak ada dipakai oleh kendaraan yang lain lalu jumlah sepeda 257.914 unit sepeda lebih banyak jumlah sepeda daripada jumlah penduduknya. Jumlah perusahaan di Almere itu 20.883 termasuk di antaranya “tanjungpro” dan serbalanda dan sepakbolanda nah pertumbuhan ekonomi tahun 2019 = 4,6 persen. Usia pohon tertua di Almere itu 95 tahun Nah rumah pertama dibangun pada tahun 1976. Rumah pertama berdiri di Almere. Lalu gedung paling tinggi di Almere saat ini 141 meter, yaitu Carlton-Tower menara Carlton inilah fakta di Almere.

Gondola Skyline Skyline itu nanti kita akan bisa berpindah-pindah ada kabel gitu gimana kita bisa naik. Kelom Kayu Khas Belanda. Ini adalah sebuah gedung bulat dan ini di dalamnya itu semuanya terbuat dari bahan ekologis. Arsitektur menggagas komposisi petak-petak gitu ya kotak kotak kotak kotak itu.

Taman Tropis, Promo Indonesia di Belanda

Posted on

Ibu Marlisa, cewek bule yang pandai berbahasa Indonesia. Bermula dari rasa cintanya pada Pulau Mentawai. Kemudian beranjak menuju kecintaannya kepada Indonesia. Buat Taman Satwa, Flora dan Budaya Indonesia di Belanda.


Bu Marlisa menuturkan bahwa Taman Indonesia yang tadinya bermula dari Taman Burung menjadi. Taman Satwa binatang dan juga kebudayaan Indonesia. Eka Tanjung sempat merasakan suasana Taman Indonesia memasuki gapura seakan berada di Jawa atau di Bali.


Ada dua kandang besar burung. Tendengar kicauan burung berlari-lari. Burung nyaman karena cuaca musim panas saat ini di Belanda (Juni 2020) seperti di habitat aslinya. Suhu antara 20-25 derajat Celsius cocok sekali untuk burung-burung supaya mereka bisa bernyanyi.

Nah burung yang ada di Taman Indonesia burung air, ada juga gerobak sepeda laiknya yang dipakai tukang kerupuk zaman tahun 1970an mengantarkan dagangannya. Kami juga menyaksikan ada Bajaj, alat tranportasi yang masuk Indonesia di awal tahun 1980an. Ada Kucing Benggala yang bentuknya seperti kucing rumahan tapi sebelah ini lebih buas.

Kemudian ada Ayam Kate yang selalu kita temui di kampung-kampung di Indonesia. Ada pula angkringan sate Madura. Lalu Becak. Lalu gerobak sate ayam lagi di bawa dari indonesia Tidak jauh dari sana berdiri rumah tradisional Mentawai yang berseberangan dengan rumah Joglo dari Jawa.

Di Taman Indonesia, bisa duduk-duduk melihat ada wayang kulit berjejer Ada wayang kulit dan wayang golek serta patung dari Bali. Benda-benda yang ada di Indonesia juga. Ruang main untuk anak-anak ada video penjelasan mengenai wayang cerita tentang Kancil dan Buaya.

Anak-anak bisa melukis, membuat layang-layang sehingga ada bayangan. Jadi dibuat cantik dan menarik bagi anak-anak untuk bermain disini. Jadi anak-anak pun akan senang untuk datang kemari. Bukan saja orang tuanya yang senang, tetapi juga anak-anaknya. Benda yang bisa kita pakai ini anak-anak bisa mencobanya menjajalnya sambil bermain, mendapat cerita tentang budaya Indonesia.

Ibu Marlisa dengan saudaranya Pak Diederik untuk memperkenalkan budaya Indonesia di Belanda. Setelah keliling di Taman Indonesia, Eka Tanjung berbincang dengan Ibu Marlisa.

Tentang rencana kedepannya dari Taman Indonesia? Ibu Marlisa dan teamnya berambisi untuk “kasih tahu tentang budaya-budaya beragam yang ada di Indonesia. Ada Kalimantan, Papua, Mentawai, banyak suku dan kepada publik Belanda.” Ditanyakan siapa saja yang datang? “Kebanyakan juga orang Indo, Indo-European. Mereka kan suka kasih tahu sama anak-anak kecil, cucu mereka tempatnya nenek lahir gitu lho.”

Ungkap Ibu Marlisa. Selain itu banyak pula turis Belanda yang sedang berlibur dan menginap di camping sekitar lokasi Taman Indonesia. Selain itu pula orang-orang Belanda yang tinggal di sekitar lokasi. Bahkan mereka menggunakan kesempatan luang untuk jalan-jalan dan lihat-lihat binatang setiap minggu. Bahkan mereka itu mengambil kartu langganan tahunan.

Dan ada juga yang sekedar istirahat dan makan yang santai. Karena Taman Indonesia juga menyediakan snacks makanan ringan khas Indonesia. Seperti Lemper. Risoles, Kelepon, Lumpia, Pastei dan makan siang Nasi Rames juga. Para tetamu bisa juga berbelanja pernak-pernik oleh-oleh khas Indonesia. Batik, Layang-layang. Bahkan makanan Indonesia juga ada. Dari kopi Luak sampai dengan Kecap Manis.

Untuk ukuran Taman Indonesia, ibu Marlisa mengakui bahwa ukurannya tidak terlalu besar. Tetapi cukup untuk dinikmati jalan-jalan selama dua jam dengan santai. Menurut pengamatan Eka Tanjung penataannya menarik seperti IKEA, jalan berkelok-kelok dan selalu banyak yang bisa dilihat di kanan dan kiri. Menurut Eka Tanjung, publik orang Indonesia di Belanda pun bisa mengunjungi Taman Indonesia sebagai upaya mengobati rasa rindu. Apalagi bagi yang tahun ini tidak bisa pulang kampung atau batal mudik gara-gara Covid-19.

Selain untuk obat kangen, bisa juga sebagai ajang perkenalan Indonesia kepada anak-anak kelahiran Belanda. Kita bisa lebih tenang menikmati dan menjelaskan tentang barang-barang Indonesia yang ada di Belanda. Satu hal lagi, orang Indonesia bisa juga membawa ibu atau ayah mertua yang Belanda, untuk ‘melihat’ kampung menantunya.

Satu lah lagi yang disampaikan oleh Ibu Marlisa, tapi tidak disadari oleh Eka Tanjung dari Serba Belanda adalah kemungkinan untuk berpre-wed atau menikah di Taman Indonesia dengan pakaian adat tradisional Indonesia. Kawan kadang penulis tidak habis pikir ada bule yang begitu cinta pada Indonesia. itu sesuatu yang sangat inspiratif sekali sebenarnya buat kita yang lahir di Indonesia.

Oh betapa akan semakin indahnya Indonesia jika juga dicintai oleh orang-orang yang lahir atau besar di Indonesia ditambah dengan orang-orang bule yang cinta dengan Indonesia.

Marlisa Cewek Promo Indonesia di Belanda

Kiat Sukses Membangun Karir di Belanda

Posted on Updated on

Ketika wabah Corona melanda dunia, Eka Tanjung dari Serbalanda mengisi waktu dengan menseriusi Channel Youtobe menjadi Content Creator. Dia mewawancara berbagai sosok menarik di Belanda. Salah satunya Mbak Lia Hestina. Perempuan asal Kalibaru Banyuwangi Jawa Timur itu tiba di Belanda tahun 2001. Ia membuktikan, walaupun berasal dari desa, tapi bisa sukses dari bawah dengan kiat-kiat ampuh.

Wawancara ini terbagi dalam lima episode menarik yang diunggah ke Channel Eka Tanjung di Youtube. Yang pertama dari serial itu adalah, proses awal kedatangannya dari Indonesia ke Belanda.

Bincang Mbak Lia PART 1.

Terpaksa Ikut Suami
Dia hijrah ke Belanda tahun 2001, mengikuti suami yang orang Belanda. Pilihan terbaik waktu itu mengingat sang suami yang tidak berhasil mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Awalnya mereka tinggal di kota Diemen Noord Holland Belanda. Beberapa tahun kemudian mereka pindah ke Almere di Propinsi Flevoland. Propinsi ini terkenal sebagai propinsi ke 12 dan termuda di Belanda. Hasil reklamasi rawa dan laut. Propinsi ini terkenal dengan Fashion Outlet Bataviastad.

Cleaning Service
Sebagai pendatang dari Indonesia dia memulai kehidupan baru di Belanda. Mbak Lia tidak tinggal diam, dia mencari pekerjaan seadanya. “Diam di rumah” baginya bukan pilihan. Pekerjaan pertama dijalani dua pekan setelah dia baru sampai di Belanda. Termasuk sangat cepat. Walaupun pertamanya hanya Cleaning Service di rumah kawan suami.

Juru Tarik Kabel
Merasa ingin mendapatkan pekerjaan lebih baik, dia menghubungi berbagai job-shop dan job-center berbahasa Inggris. Sebab penguasaan Bahasa Belanda saat itu masih sangat terbatas, sehingga kemungkinan mendapatkan pekerjaan lewat biro kerja, Uitzendbureau berbahasa Belanda, kecil. Dengan modal bahasa Inggris yang baik, dia mendapat tawaran berbagai jobs. Antara lain menjadi “cableman” memegang kabel cameraman yang merekam live, acara populer televisi Belanda. “Een-Tegen-100”

Karirnyapun terus meningkat berkat prinsip: Bekerja Keras dan juga Tidak Takut untuk Mempelajari Ilmu baru. Seperti diungkapkan pada wawancara di atas. Berkat kerjakerasnya Mbak Lia sekarang memiliki jabatan yang cukup baik di sebuah organisasi internasional RIPE Atlas.

Bahasa Inggris
Penguasaan bahasa Inggris, baginya adalah sebuah modal atau jendela membuka peluang. Kemudahan komunikasi dengan kalangan internasional ini terbukti dalam peningkatan karirnya di Belanda. Soal awal mula belajar Bahasa Inggris, Mbak Lia punya cerita menarik yang bisa disimak disini:

Mengenai bahasa Inggris ini ada hal menarik. Pada postingan kami di Facebook mengenai kisah Mbak Lia ini, mendapat tanggapan menarik dari teman sekolah Mbak Lia dari Kalibaru.  Seperti ditulis Ikang Nadia di wall facebooknya. 

“Sahabat lama teko TK, SD, SMP barengan. teko SMP wis lancar bahasa inggrisse cas cis cus, lainnya sik plonga plongo hehehehe….buat panutan anak muda jaman sekarang…..meski wong ndeso yo iso sukses di negeri kincir angin,” 

Terjemahan Bahasa Indonesia: “Sahabat lama di TK, SD, SM bersama. Sampai di SMP sudah lancar berbahasa Inggris. Sementara yang lainnya menatap bengong. Ini bisa menjadi panutan bagi anak-anak muda zaman sekarang. Walaupun anak desa, bisa sukses di Negeri Kincir Angin.” 

Bermodalkan kerjakeras akhirnya pekerjaannya semakin membaik. Setelah 20 tahun ini ia mendapatkan pekerjaan yang dia inginkan. BIsa berkarya dan jalan-jalan dibayari kantor. Bermodal etos kerja keras dan tidak takut.

Mang Theo, Merasa Kebal Corona

Posted on

Mang Theo, pria Belanda yang bernama asli Theo Keuchenius. Ia tinggal di Almere Belanda, tapi lahir Indonesia, pada tahun 1950 tepatnya di Paragajen Cisarua Bogor.

Di kawasan dekat Perkebunan Teh di kaki Gunung Pangrango itu dia banyak meninggalkan kenangan. Bermain dengan kawan-kawanya sebaya. Permainan yang mereka lakukan sangat nostalgis, seperti Bandring, Gatrik, Main Bola dengan Jeruk Bali dan lainnya.

Permainan tradisional yang sudah terlupakan di zaman moderen ini. Penampilan Mang Theo menjadi uniek karena beberapa hal. Pertama karena dia sebagai pria Bule bisa berbicara bahasa Sunda yang sebenarnya di tempat asalnya sendiri sudah mulai punah.

Tidak banyak remaja dan generasi muda yang saat ini masih menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari. Kedua karena Mang Theo sekarang tinggal di Belanda. Dan mungkin hanya sebagian kecil atau nyaris tidak banyak orang Belanda yang menguasai bahasa Sunda dan Indonesia sebagus dia.

Adapun orang Indonesia sendiri tentu masih ada beberapa di Belanda yang menguasai Bahasa Sunda. Pada kesempatan sebelumnya, Mang Theo menceritakan tentang mencari Belut atau Ngurek Belut bersama Uus, kawan karibnya waktu kecil.

Untuk perbincangan kali ini Mang Theo menuturkan tentang berburu Kampret binatang malam dan memakannya. Dari mengkonsumsi Kelelawar atau Kampret itu, Mang Theo sampai menduga bahwa dirinya mungkin sudah kebal Virus Corona, yang menurut sejarahnya ditularkan oleh Kelelawar.

Selanjutnya dalam perbincangan di atas perahu Giethoorn itu, Pak Theo juga menyampaikan kabar tentang dua kakak perempuan dan satu adik perempuan yang juga sudah tingga di Belanda.

Hal lain yang juga disampaikan dalah percakapan ini adalah kenangan dua kali kembali ke Paragajen setelah Mang Theo tinggal di Belanda. Tahun 1985 dan tahun 2010. Dia pelihat banyak perubahan dalam dua kunjungan itu. Kunjungan pertama, masih ada jejak Cisarua Bogor seperti 22 tahun sebelumnya. Namun ketika kembali 2010, sudah banyak yang berubah. Pada episode Bagian 3. Mang Theo akan menceritakan pengalamannya disunat.

Zaanse Schans Sunyi Kala Covid19

Posted on

Pariwisata Belanda terkena imbas wabah pandemi Corona. Tempat-tempat wisata terpaksa tutup untuk publik. Zaanse Schans, kompleks Kincir Angin Tradisional adalah salah satunya. Eka Tanjung menengok kondisi Zaanse Schans kala wabah Corona in

Kalau hanya mementingkan pemandangan, maka saat itulah momen terbaik untuk berfoto dan menikmati keindahan alam Zaanse Schans.

Namun sebagai pemandu wisata yang senang membawa kawan-kawan jalan-jalan di Eropa, maka Supirsantun merasa sedih juga. Tidak bisa berbagi dengan kawan-kawan.

Eka Tanjung. Koncir Angin, Serbalanda. Pemandu Wisata Orang Indonesia di Belanda. Ingin Liburan Puas di Belanda dan Eropa. Mencari tour murah di Belanda. Angkutan umum hemat di Belanda. Penginapan Hemat dan Murah di Belanda. #supirsantun orang Indonesia di Amsterdam. Gaet Indonesia yang Asik. One Day Tour Amsterdam, Transit Tour di Amsterdam, Wisata Belanda. Taksi Bandara. Transit di Amsterdam.
Pengumuman Zaanse Schans Tutup

Padahal kompleks kuncir angin trandisional khas Belanda ini merupakans salah satu populer di Belanda dengan rata-rata 2 juta orang pengunjung per tahun.

[BeBe]: Warga Indonesia Pertama di Belanda, Meninggal Karena Covid-19

Posted on Updated on

Wabah Virus Corona di Belanda, menelan korban warga Indonesia. Diduga ia warga Indonesia pertama di Belanda yang menjadi korban Covid-19. Eka Tanjung menangkap berita ini dari Facebook dan sumber lain.

Putri Almarhum
Bapak Zulkifli Murad, wafat di RS Dordrecht hari Sabtu pagi 28 Maret 2020. Menurut pengamatan Serbalanda, inilah warga Indonesia pertama korban Covid-19 di Belanda. Berita ini disampaikan putri almarhum, Cholidah Murad di laman Fecebooknya (lihat gambar di bawah).

“Pagi ini 05:18, telah berpulang ayah dan suami kami: Zulkifli bin Abdul Murad, karena Virus Corona. ..”
“…Untuk pemakaman, kami secara mendesak membutuhkan bantuan paket pakaian anti-Corona, sebanyak 11 set.”

Virus Corona Covid-19
Putrinya yang biasa disapa Cho ini menyebut penyebab kematian adalah Virus Corona. Dan dia juga membatalkan permintaan bantuan akan paket pakaian anti-Corona itu. Karena otorita RS tidak mengizinkan pengurusan jenazah oleh keluarga dan kerabat.

Larangan Besuk RS
Eka Tanjung menemukan larangan bezoek sudah diberlakukan sejak almarhum dirawat di Rumah Sakit, beberapa hari sebelumnya. Dengan alasan demi menjaga kesehatan dan keselamatan pembesuk.

Pengurusan Jenazah
Pihak otorita kesehatan Belanda, tampaknya mengawasi ketat prosedur kesehatan. Sehingga ketika meninggalpun, keluarga dan kerabat tidak diizinkan menyentuh atau mendekati jenazah karena Virus Corona. Padahal dalam situasi normal, kerabat dan komunitas muslim biasa mengurusi dari awal hingga pemakaman.

Nasib ini yang harus diterima oleh Ustadz Zulkifli di akhir hayatnya. Seperti disampaikan Ustadz Hamdi Rafioeddin, di halaman HIMMI Rotterdam (Himpunan Masyarakat Muslim dan Indonesia.)

Zulkifli Murad, Muslim Ridderkerk, Muslim Maluku di Belanda, Pemakaman Muslim saat Corona.

Takut Tertular
Pak Hamdi yang juga warga Indonesia dan sahabat karib almarhum, menuturkan proses pemakaman yang hanya dihadiri beberapa orang saja. Pak Hamdi menduga karena Corona ini menjadikan orang takut mendekat.

Pemakaman hari Senin, Muslim di Belanda, Pemakaman Muslim di Belanda, Muslim Maluku di Belanda, Virus Corona, Orang Indonesia Pertama yang meninggal karena Virus Corona.

Berita duka yang disampaikan Ustadz Hamdi di laman Himmi itu diakhiri dengan rasa bersyukur dan doa semoga almarhum Husnul Khatimah.

Berita Duka dari Belanda, WNI Meninggal di Belanda, Korban Virus Corona, Covid-19 menelan korban WNI. Zulkifli bin Abdul Murad

Eka Tanjung melihat bahwa almarhum adalah (WNI) warga negara Indonesia pertama yang meninggal dunia karena wabah Virus Corona, Covid-19. Mengamini doa yang dipanjatkan oleh rekan dan kerabat lainnya. Walaupun serbalanda tidak mengenal almarhum secara pribadi, tetap ingin berkirim doa semoga Jalannya Terang dan Kuburnya Lapang.

Ucapan Belasungkawa
Berita Duka ini juga mendapat banyak ucapan belasungkawa dan simpati dari kalangan rekan dan kerabat yang mengenal almarhum dan putrinya. Mereka menyampaikan doa dan ucapan terima kasih atas jasa-jasa almarhum ketika masih hidup. Baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Belanda.

Almarhum kelahiran Laroe Bolak Sumatra Utara itu semasa hidupnya aktif di komunitas muslim di mesjid di Ridderkerk dekat Rotterdam. Salah seorang murid pengajian, menyampaikan terima kasih dan bersyukur atas bimbingan “Oom Zul” dalam mengaji.

Saya tidak akan pernah melupakan Om Zul. Atas bimbingannya juga, saya bisa hafal banyak surah-surah dalam Alquran. Saya sangat berterimakasih padanya. Setelah ibu saya, dia adalah guru ngaji saya. Semoga Allah SWT, memberikan tempat yang baik di Surga. Amiin.
Saya tidak akan pernah melupakan Om Zul. Atas bimbingannya juga, saya bisa hafal banyak surah-surah dalam Alquran. Saya sangat berterimakasih padanya. Setelah ibu saya, dia adalah guru ngaji saya. Semoga Allah SWT, memberikan tempat yang baik di Surga. Amiin.

Hingga akhir hayatnya, beliau aktif di kepengurusan masjid Komunitas Muslim Maluku di Ridderkerk, Bait Al Rahmaan. Namanya masuk jajaran sebagai salah satu dewan pembina.

Mesjid di Belanda, Masjid Indonesia di Belanda, Masjid Maluku di Belanda, Orang Maluku Islam di Belanda. Sholat di sekitar Rotterdam Belanda, Virus Corona, Covid-19, Pemakaman Muslim saat Corona.

Update 21:25 Waktu Belanda 2 April 2020:
1. Pihak KBRI menanggapi tulisan serbalanda ini dan setelah mengecek di data base WNI yang ada di Belanda ternyata Ustadz Zulkifli masih berstatus WNI (Warga Negara Indonesia). Masih memegang paspor Indonesia.
2. Masukan dari rekan dekat almarhum, menyebutkan Rumah Sakit tempat almarhum meninggal adalah: RS Albert Schweitzer di Dordrecht. Bukan di RS Maasstad, seperti tertulis sebelumnya.

Baca Juga:
Kugali Kuburku di Belanda.

Hoorn, Awal Penjajahan Belanda di Indonesia.

Posted on

Jika liburan ke Belanda dan ingin menelusuri sejarah Jakarta atau Indonesia, ada baiknya datang ke Hoorn. Eka Tanjung dari Serbalanda Tour sempat mengunjungi kota di Popinsi Noord Holland. Letaknya 40 KM sebelah utara Amsterdam itu.

Patung Jan Pieterzoon Coen, Gubernur Jendral Pertama Belanda di Hindia Belanda, berdiri tegak di alun-alun kota Hoorn. Sebagai putra asal kota di Propinsi Noord Holland ini, Jan Pieterzoon sangat mencintai kotanya. Bahkan setelah menaklukan Jayakarta, dia berencana mengadopsi kota baru menjadi: Nieuwe Hoorn. (Hoorn Baru)

Angan-angan itu melayang, karena Heren Van Zeventien, melarang nama itu dan memberikan nama: Batavia. Nama yang diambil dari kawasan Batavia, sebagai tempa

Patung Jan Pieterzoon Koen

Museum Hoorn
Menyimpan sejarah masa lalu VOC. Banyak kapal dari dan ke Hindia Belanda hilir mudik mengangkut barang perdagangan dan juga menampung rempah-rempah hasil dari Timur Jauh. Berikut foto-foto dan penjelasannya.