Serba Belanda

Gadis Belanda Ingin Tiap Tahun ke Indonesia

Posted on

Bincang seru dengan Irthe Blokhuizen, perempuan muda Belanda yang sangat lancara berbahasa Indonesia. Bagaimana latar belakangnya dia bisa Bahasa Indonesia begitu lancar?

Perbincangan berlangsung di Kastil Helmond dekat tempat tinggal Irthe. Jalan kaki tidak sampai lima menit. Kita waktu itu kenalan, ketika Irthe menikah dengan Mas Latif. Kita sempat ngobrol dengan Mas Latif dalam Bahasa Belanda. Saya kaget ternyata Irthe bisa bahasa Indonesia.

Irthe mengenal Indonesia dari opanya. “Opa pernah cerita bahwa waktu dia berusia 25 tahun sempat mau dikirim ke Indonesia. Waktu zaman Aksi Polisional (Agresi Belanda) era Kemerdekaan 1946 – 1949. Tapi ketika sedang latihan training, dia mengalami kecelakaan. Dia masuk Rumah Sakit, dan batal pergi ke Indonesia. Sedangkan temannya jadi dikirim. Temannya ini meninggal dunia di Indonesia. Itulah pertama kali Irthe mendengar kata Indonesia. Waktu dengar cerita itu umur Irthe 10 tahunan masih SD. Di sekolah, hanya sedikit mendengar tentang sejarah Indonesia. Hanya tentang Golden Age, Abad Keemasan ketika Belanda melakukan ekspedisi kemana-mana. Tapi di sekolah Irthe tidak ada pembahasan khusus tentang Indonesia.

Awalnya Terpaksa ke Indonesia

Indonesia muncul dalam kehidupan Irthe, aktu saya berusia 17 tahun. Diajak orang tua liburan ke Indonesia. “Awalnya saya tidak mau. Saya bilang:”Ngapain liburan jauh-jauh? Kenapa tidak di Belanda saja. ” Karena sedikit dipaksa oleh orang tua “Ayolah tidak apa-apa. Kan hanya tiga minggu saja.” Akhirnya Irthe bilang:”Ya oke lah.” Nah pas sudah di Indonesia. Wow saya sangat tertarik sama Indonesia. Jadi tadinya tidak mau, karena kejauhan. Karena dari dulu saya selalu liburan di Belanda saja. Biasanya kami ke kepulauan di Belanda Utara. Waddeneilanden Schiermonnikoog, Vlieland, Texel. Kepulauan itu termasuk dalam 10 Warisan Budaya Belanda yang diakui UNESCO. Dari saya kecil, setiap tahun liburan selalu ke sana. Camping dan lainnya. Jadi sebenarnya tidak pernah ke luar negeri. Jadi perjalanan ke luar negeri ke Indonesia itu pertama kali untuk kawasan Asia. Kalau yang dekat Prancis, Belgia, Inggris pernah juga. Tapi belum pernah jauh. Berangkat ke Indonesia berempat. Papa-Mama dan adik saya. Sampai pertama ke Bandara Jogja, sebelumnya sempat transit di Jakarta. Waktu itu tujuan liburannya ke Jogja, Bromo, Malang dan menyeberang ke Bali. Kami liburan selama tiga minggu. Kesannya pertama kali seperti saya sedang berada di dunia lain. Dengan kebiasaan yang jauh berbeda dengan Belanda.

Jadi Senang Pada Indonesia

Awalnya Irthe kaget – “Ini lain banget dengan Belanda.” Tapi saya merasa tertarik. Orang-orangnya ramah, selalu senyum, sopan dan baik. Saya merasa lebih santai di sana. Tidak terlalu stress seperti di Belanda. Di sini kan orang selalu mau cepat-cepat. Di sana saya merasa lebih tenang. ” Waktu di Indonesia, Irthe punya teman baru. Teman Indonesia yang seumuran. “Lalu kami berteman di Facebook. Dan kami tetap keep contact dengan mereka.Tapi saya selalu ngobrol pakai Bahasa Indonesia dengan mereka. Waktu itu saya belum bisa, tapi translate dulu di Google terus diketik saja.” Rasanya punya kenalan orang Indonesia dengan kebiasaan menanyakan makanan. Awalnyamembuat Irthe gak bingung dengan pertanyaan seperti itu. Kok bertanya “Sudah makan atau belum?” Ya saya akhirnya jawab saja. Sudah makan. Tapi ya sebenarnya sempat bingung juga kenapa dia bertanya kaya gitu.

Indoneisa Indah & Penduduknya Ramah

Irthe sangat bersemangat belajar Bahasa Indonesia. Motivasinya karena ingin ke Indonesia lagi. “Karena ini negaranya indah sekali. Saya ingin ke sana lagi.” Irthe senang ngomong dengan orang lain dalam bahasa orang itu. “Jadi saya ingin belajar bahasa Indonesia.” Saya membeli buku di toko buku di sini. Seperti kamus begitu. Tapi tidak terlalu banyak terpakai juga bukunya.”

Berhemat Untuk Bisa Kembali ke Indonesia

Nah pada 2012 setahun setelah liburan pertama, Irthe ke Indonesia lagi tapi sendirian. “Saya backpacking sendiri selama dua bulan ke Indonesia.” Irthe beaya sendiri ke Indonesia. Dengan cara menabung dari kerja sambilan. Kerja di restoran dan supermarket di Belanda. “Dan memang dari dulu saya tidak pernah boros dengan uang. Saya selalu nabung. Jadi saya bayar sendiri liburan ke dua.”

Ditambah lagi, kalau kita kuliah di Belanda dapat tunjangan sekolah. Dan berhubung Irthe masih tinggal dengan orang tua (tidak kost), jadi bisa kumpukan uang tunjangan itu. Backpaker pertama ke Bali. Kemudian ke Lombok. Balik lagi ke Bali kemudian ke Banjarmasin Kalimantan. Ada teman di sana mengajak keliling. Kemudian ke Sulawesi, ke Makassar. Perjalanan kedua juga sangat mengesankan sekali. Irthe ingin kembali lagi untuk ketiga kalinya ke Indonesia. Untuk jangka lebih lama lagi.

Bule Belanda Ungkap Alasan Pandai Berbahasa Indonesia.

Posted on Updated on

George

George Muishout orang Belanda yang fasih Berbahasa Indonesia. Bercerita mengenai perkenalannya dengan Bahasa Indonesia. Dengan Indonesia dan juga kunjungannya ke Indonesia.

George mampu berbahasa Indonesia dengan cukup lancar, malah dulu-dulu mungkin lebih lancar lagi dari sekarang. Karena faktor usia yang membuatnya lupa perbendaharaan kata. 

Sejarah perkenalan dengan Bahasa Indonesia.

Waktu sekolah di HBO (University of Applied Science) di Utrecht, George sempat mengikuti kursus singkat Bahasa Indonesia. Kursus itu ditujukan untuk untuk magang di luar negeri. Pilihannya waktu itu ke Amerika Latin atau ke Asia. Untuk wilayah Asia pilihannya antara lain ke Indonesia.

Bagian dari paket program itu kita ambil salah satu Bahasa. Itulah perkenalan pertama dengan Bahasa Indonesia.


“Jadi ketika itu saya ragu, awalnya mau ambil Bahasa Spanyol. Tidak jadi karena kalau tidak salah sudah penuh kelasnya. Pada akhirnya saya pilih Bahasa Indonesia.” 

“Tapi itu kursusnya singkat. Cuman dua bulan. Saya masih ingat dosennya orang Maluku. Kami mempelajari yang umum saja. Seperti. Budi Pergi ke Pasar Beli Pisang. Yah sebatas itu saja, saya masih ingat. Ketika itu saya tidak terlalu semangat, semata hanya untuk mendapat nilai mata kuliah.”

Namun sayang sekali magangnya tidak jadi. Tapi belajar Bahasa Indonesianya dapat dasarnya saja. Sekitar tujuh kali pertemuan. Disambung dengan ujian.

Alasan pembatalan magang di Indonesia karena ketika itu kondisi politik Indonesia, sedang kurang stabil. Era peralihan  Presiden Suharto yang baru saja diganti oleh Habibie. Jadi George rencanannya ditempatkan di salah satu Rumah Sakit di Jogja.

Tapi pada akhirnya tidak jadi. Karena di Indonesia sedang banyak demonstrasi. Terutama di kota-kota besar. Karena alasan itulah Biro khusus untuk magang ke luar negeri waktu itu mengambil keputusan untuk membatalkan untuk semua mahasiswa yang akan magang di Indonesia pada tahun itu.

“Jadi betapa sedihnya saya itu.”

Persiapan sebenarnya kurang dan belum banyak. Tapi khayalannya yang sudah jauh. “Waah asik nanti itu, saya akan mendapatkan kebebasan.”
Ini bukan rencana perjalanan George yang pertama ke Indonesia. Sebelumnya sudah pernah. Yaitu ketika masih jenjang SMA di Belanda. 

“Waktu saya masih SMA. Dia ajak oleh orang tua teman, yang banyak uang. Ketika itu orang tua teman ini ingin liburan. Liburan Natal,  atau liburan akhir tahun. Selama dua minggu.”

Temannya itu awalnya malas ikut orang tua liburan. “Ah bosan, tidak asik dengan ortu. Orang tua tidak menarik, tidak asik. Mereka tidak mengerti kebutuhan kita anak muda.”

Jadi orang tuanya mencoba merayu dengan menawarkan solusi  “Ayo ikut saja, Indonesia itu bagus. Kamu harus ikut ajak saja salah satu kawan kamu George.”

Trip pariwisata yang pendek. Mereka jadi ikut tour. Jadi Jawa dan Bali. Paket tour pendek itu. Karena waktunya terbatas. Jadi itu pertama kali ke Indonesia tidak sempat belajar Bahasa Indonesia. Karena temannya George itu tadinya tidak mau ikut ortu.  “Ya sudah ajak saja teman.” Trus adiknya juga disuruh mengajak teman. Pada akhirnya kita ikut secara rombongan. Kan anak muda sambil bersorak sorai.

Mereka ke Jakarta, Bogor. Pokoknya semua yang standar ada di setiap paket tour. Tempat-tempat Pariwisata yang paling top. Pangendaran, Bromo, Borobudur, Prambanan, Jogja dan Malang dan berakhir di Bali.

George mengingat perjalanan itu jadwalnya terlalu padat. Sebagai anak muda, anak-anak terbiasa tidur panjang. Jalan sampai malam-malam kalau tripnya aduh ini seperti balapan.

Pagi sudah harus bangun untuk sarapan. Trus semua lokasi yang diprogram harus diinjak pada waktu yang sudah ditentukan. Itu memang kelemahan dari paket-paket pariwisata seperti itu.

George mengingat aromanya yang berbeda sekali dengan aroma di Belanda. “Inikah yang dinamakan aroma tropis.” pikir saya.

“Kok luar biasa, di saat Natal. Ketika teman-teman di Belanda sedang membuat Bola Salju. Yang saya ingat juga bahwa di hotel kami itu ada Pohon Natal. Kok luar biasa, ada pohon natal di sini. Dalam suasana yang sangat beda dengan di Belanda. Selama ini kan kami mengkaitkan pohon Natal dengan suhu yang dingin kemudian salju.”

Kunjungan pertama ke Indonesia itu belum sadar untuk belajar Bahasa Indonesia. 

Karena Guidenya di Indonesia bisa bahasa Belanda dengan baik. Jadi tidak terfikirkan untuk belajar Bahasa Indonesia. Ketika itu enggak ada  ketertarikan belajar Bahasa Indonesia. 

Kunjungan kedua ke Indonesia terjadi setelah George lulus program S1 di Perguruan Tinggi. Dia masih punya waktu sebelum bekerja untuk menikmati liburan panjang. Dia terfikir ke Indonesia, setelah batal waktu magang dulu.

Nah saya teringat dengan teman SMA dulu dia dari Indonesia, orang tuanya pernah kerja di Belanda sini jadi expat, waktu itu dia sudah kembali ke Indonesia. Dia tinggal di Surabaya. Kemudian dia ajak saya datang.

“Kamu kan sudah selesai kuliah, datang ke sini. Dia mengundang saya ke Surabaya, itu tahun  1999 atau 2000 awal.”

Berangkatlah George sebagai backpacker menemui temanya di Surabaya. Kemudian dia diajak keliling Jawa kemana-mana naik kereta. George sudah terbiasa hiking. Selama kuliah juga kemana-mana di Eropa Saya dulu suka hiking. Misalnya ke Inggris, Irlandia, Skotlandia, Prancis, Belgia semacam itu. Dulu apalagi untuk anak muda dan mahasiswa. Bisa dapat korting untuk usia sampai 25 tahun. Di Eropa kalau bepergian ada korting untuk mahasiswa agar mereka melihat negara sekeliling.

Setelah jalan-jalan dengan kawan dari Surabaya itu.  George kontak lagi dengan teman satu lagi orang Indonesia di Belanda. Dia waktu itu sedang di Lombok. 

Temannya ini mengudang George ke Lombok, “Kalau kamu sedang di Indonesia. Lanjut saja datang ke Lombok.”

Aslinya saya tidak ada rencana. Tapi karena waktu bukan masalah. Karena sudah merencanakan liburan untuk tiga bulan. “Pertama saya ragu. Tapi pada akhirnya saya fikir:”Kenapa tidak ke Lombok juga”

Jadi akhirnya pakai Feri ke Bali dulu. Setelah itu saya lanjut ke Lombok. George memilih untuk lewat darat. Karena selain lebih murah daripada naik pesawat, juga bisa kontak dan komunikasi dengan penduduk lokal. Mengamati bagaimana kehidupan penduduk setempat.

Dan mungkin pertimbangannya. Kalau masih muda itu kan bukan perkara lelah badan masih kuat. Lebih penting mungkin, murah dan ada sisi adventure nya. Akhirnya sampai di Lombok itu. “Dijemput oleh temanku” 

Pengalaman Lucu Bule Liburan ke Indonesia kena Diare

Posted on

Liburan ke negara lain, memberikan banyak pengalaman yang tidak terlupakan. Kali ini bule Belanda yang liburan ke Maluku Indoneisa menuturkan pengalaman sakit diare akut di pantai dan terpaksa BAB di depan sekolah. Lalu pengalamannya BAB di hutan ditunggui babi yang siap menyantap limbahnya.

Pak Sirtjo menceritakan pengalaman sedang di pantai mendadak diserang diare. Bule Belanda mengalami hal ini ketika berkunjung ke Pulau Aboru Ambon yang indah itu. Dalam rangka mengunjungi keluarga istrinya. Kasus ini terjadi tahun 1984.

Bule Belanda ini melihat saat itu di kampung-kampung belum ada WC. Tapi penduduk memanfaatkan tempat yang paling luas sedunia, laut. Mereka buang air di pantai. Perbincangan lengkap bisa disaksikan di Channel Youtube “Serba Belanda” Link di bawah ini:


Bule Brewok yang fasih berbahasa Indonesia itu di negaranya Belanda terbiasa dengan buang hajat duduk di kloset. Sehingga privacy terjaga. Bisa tutup dan kunci pintu.

Sedangkan di tempat yang ia kunjungi di Maluku ini, waktu itu lain sekali.


“Biasanya orang ramai-rampai pagi-pagi ke pantai untuk buang air. Satu bagian untuk perempuan bagian lain untuk laki-laki. Jadi ramai-ramai mereka bicarakan agenda kegiatan seharian ke depan. Siapa ke pasar, sambil buang air.”



Waktu itu di kampung pulau kecil Aboru, bule Brewok sedang jalan-jalan di pantai bersama seorang teman dan Betty sang istri,  siang hari sekitar jam setengah dua (13:30 PM)

“Tiba-tiba perut saya sakit luar biasa dan tampaknya mencret. Saya terpaksa karena sedang di pantai, saya pikir tinggal buka celana padahal, tengah hari dan lokasinya itu ternyata pas di depan sekolah dasar. Jadi sialnya anak-anak sekolah semua nonton. Mereka meneriaki kami.”

Pengalaman itu pertama kali, dia buang air di laut. Walaupun dia sebelum berangkat ke Ambon sudah mendapat pengarahan tentang BAB di pantai, tapi dia tidak tidak tahu tehnik di ‘atas’ air.
“Saya sudah pernah lihat caranya orang buang air trus saya duduk di dalam air terendam sampai perut, saya buang air besar dan mencret.  Saya terkejut lihat ke bawah kok limbah itu maju dan mundur terdorong ombak laut.  Saya lihat buangan saya naik-turun dan anak-anak SD nonton kejadian ini mereka berteriak-teriak..”Bule sedang buang air tengah hari.” “

Bule Belanda ini menyadari salah menerapkan teknik, karena sebenarnya ada tehnik BAB yang benar di pantai. Seharusnya jongkok di atas batu, agar tidak kesiram air laut.
“Waktu itu saya belum tahu. Itulah pengalaman pertama saya buang air di laut. Rasanya sangat tidak nyaman sekali waktu itu. Setelah beberapa minggu disana mulai terbiasa.”

Bule Brewok juga punya pengalaman lain soal BAB di kampung.
“ Ini ada satu cerita lagi di kampung lain toiletnya di atas laut ada beberapa batang pohon kelapa, ada dinding penghalang dan beberapa batang pohon kelapa. Semua duduk disana. Satu bagian perempuan. lainnya lelaki.

Saya tinggal di kampung.  Dan disana tersedia ember nah kalau mau cebok bisa pakai air itu. Saya tinggal di keluarga istri sepertinya mereka kasihan sama bule pantat putih. Jangan cebok pakai air laut.

Mereka sarankan kami untuk pakai air tawar Jadinya saya pagi-pagi waktu mau berak, aku harus jalan sepanjang kampung menenteng ember  ke laut.

Duduk disana lagi, sambil ngomong. Mungkin ini pengalaman aneh untuk kami orang Belanda. Kalau di Belanda kan, selalu duduk di kamar kecil tertutup. Jadi orang kampung itu cebok pakai air laut saja?

BAB ditunggu Babi
Ada cerita lain lagi dengan kampung di pegunungan, tidak ada di laut. Kalau ada sungai, ya buang air di sungai tapi kalau tidak ada sungai. Buang air biasanya di lereng gunung dan biasanya babi sudah tunggu. Berarti kalau mau berak, harus siap dengan batu untuk lempar, sebab kalau tidak, bisa jadi babi sudah menyerbu sebelum limbah keluar.

Kalau buang air di tanah, dimakan babi. Kalau buang air di laut, disambar ikan. Menurut sang bule yang domisili di Deventer, Itu memang proses recycling (daur ulang). Tapi lucu juga ya babi-babi yang menunggu itu. Kalau malam, yang kelihatan hanya mata yang menyala merah itu mata babi yang warnanya merah.

Jadi disana harus selalu bawa batu kalau BAB batu kecil saja. Babinya yang kecil-kecil yang ada di Indonesia. Ini lucu banget pengalaman bule di Indonesia tepatnya di Maluku. Mungkin kalau sekarang sudah tidak ada lagi itu ya? Mungkin satu dua masih ada, tapi kebanyakan sudah punya toilet sendiri. Itu kan cerita dari 40 tahun lalu. Itu kejadian tahun 1984.

Sejalan dengan waktu tentu saja, Indonesia, Belanda dan dimanapun juga mengalami perubahan. Ketika ditanya soal perubahan itu Bule Brewok yang terakhir ke Indonesia tahun 2016 mengatakan demikian: “Sepertinya banyak sekali berubah. Waktu saya ke Sulawesi Selatan, ke kampung tahun 1991, itu kampung tidak terlalu kecil, sekitar 10 ribu penduduk waktu itu telepon cuman ada satu itupun di Kantor Polisi.

Trus waktu bule ini mau telepon ke Belanda, ia harus naik bus sejauh 50 Km, ke kota Pare-pare. Di kantori Telkom baru bisa telepon ke Belanda. Nah, kalau sekarang sudah ada HP, sedangkan waktu itu, TV pun masih jarang. Kalaupun ada masih Hitam-Putih ketika dia kembali 5 tahun kemudian rumah-rumah sudah ada Parabola, televisi berwarna. Dan lima tahun kemudian semua orang punya HP. Jadi memang sangat cepat sekali.

Bangunan-bangunan juga cepat sekali bermunculan di kota-kota besar. Itu sudah mulai sejak tahun 1984 di Jakarta sudah mulai itu sudah muncul pembangunan Fly Over di seluruh Jakarta.

Tapi misalnya kampung tempat saya tinggal di Jakarta, Tanjung Duren sekarang sudah berubah menjadi mall, setelah 30 tahun. Dibongkar semua, waktu itu itu alokasi tempat waria.