Belanda

Jokowi Bukan Yang Dulu Lagi

Posted on Updated on

tulips-65036_1280Judul yang barang kali akan menggugah keingintahuan maksud tulisan ini. Sejatinya bukan bermaksud merendahkan Presiden Republik Indonesia yang 21 April 2016 ini melakukan kunjungan kenegaraan ke Belanda.

Banyak aspek yang sebenarnya membuat Eka Tanjung dari Serbalanda mengamati kunjungan RI1 pertama lagi, setelah 16 tahun lalu. Gus Dur lah yang terakhir kali ke negeri Kumpeni ini tahun 2000.

Sayang sekali karakter Blusukan khas Jokowi tidak bisa berlaku dalam kunjungan kenegaraan ke beberapa negara Eropa ini. Pria semampai asal Solo yang punya bibir mirip Jendral Sudirman pejuang kemerdekaan RI itu kali ini tidak bisa blusukan sehingga kemungkinan hanya dapat make-up cukup besar.

Dia tidak bisa jalan-jalan santai ke Giethoorn umpamanya. Atau Ibu Iriana yang berparas Manis itu, tertarik untuk melihat indahnya taman bunga Tulip, de Keukenhof.  Bisa jadi nanti dia akan dihinggapi lebah Tulip, karena saking manisnya. Momentum dan tempat yang mungkin akan membuat penyesalan, kalau Jokowi tidak bisa berfoto bersama di dusun nelayan Volendam, seperti yang dilakukan Gus Dur dan keluarganya beberapa tahun silam.

Hans Duin, seorang retailer di Volendam sudah berulangkali menanyakan apakah Jokowi akan datang ke kampungnya Volendam. Sebab katanya “SBY sebenarnya berrencana ke Volendam. Sayang sekali dia membatalkan datang ke Belanda. (2010 red.)” Kemudian Hendriks Smit dari Giethoorn juga sangat penasaran ingin berjabatantangan dengan Presiden Indonesia ke Tujuh ini.

Tidak Blusukan
Fakta bahwa mantan Walikota Surakarta tidak bisa masuk dan datang ke tempat yang dia inginkan, membuktikan bahwa di luar negeri berlaku aturan yang berbeda. Suka atau tidak, kunjungannya ke Belanda ini akan mendapat kawalan lebih ketat. Jam berapa harus berada dimana dan bertemu siapa saja.

Manis dan Minus
Hal itu sangat bisa dimengerti karena Belanda memiliki ikatan manis dan minus dengan Indonesia. Manisnya bisa dirasakan dengan banyaknya wanita-wanita cantik dan anggun asal Indonesia yang tercantol pada pria-pria bule yang romantis dan bersahaja.

Namun sisi minusnya masih membekas pada Kalangan Terhalang Pulang. Kalangan terhalang pulang menggarapkan adanya pengakuan atas penderitaan yang mereka rasakan sejak 1965. Atau kalangan Maluku yang merindukan bisa  Pulang Kampung ke Pulau Seram atau ke kampung Kuda Mati di Ambon.

Walaupun secara pribadi mungkin Jokowi tidak merasa takut ancaman kelompok manapun, namun pemerintah Belanda dan pihak KBRI di Den Haag merasa bertanggungjawab dan cemas jangan sampai ada hal buruk menimpa Presiden Indonesia selama berkunjung ke Belanda.

Persiapan
Penulis melihat sendiri bagaimana persiapan di KBRI Den Haag menjelang kedatangan RI1 ke kantor perwakilan Indonesia di Belanda. Pintu-pintu diamplas, dinding dicat, karpet di cuci lebih bersih. Sepertinya semua lapisan di KBRI Den Haag dan negara lain ingin memberi yang terbaik kepada pemimpin.

Gaya Lama
Sejatinya mereka lupa. Seharusnya bebersih harus dilakukan tiap hari. Tempat dikonclongkan bukan ketika kunjungan orang nomor satu Indonesia saja. Pemikiran ‘gaya lama’ seharusnya dibuang jauh-jauh.

Sebab di zaman sekarang ini rakyatlah yang sejatinya berposisi lebih tinggi dibanding presiden atau anggota dewan. Artinya service terbaik dari pegawai KBRI ataupun pegawai pemerintahan, diutamakan untuk rakyat. Sebab mereka digaji oleh uang rakyat, bukan oleh uang presiden.

Jadi gedung-gedung pelayanan publik, harusnya lebih keren, bersih dan wah daripada gedung yang dipakai oleh para pelayan itu sendiri. Gara-gara Jokowi tidak bisa blusukan pada kunjungannya ke luar negeri ini maka, apa yang dia saksikan dan rasakan belum tentu realitas sesungguhnya.

Advertisements

Giethoorn & Zaanse Schans Jadi Perangko

Posted on

monopoly1-e1444759400743

Dinas Pos Belanda menerbitkan seri perangko baru yang menggambarkan beberapa tempat wisata seperti kampung sunyi Giethoorn dan komplek Kincir Zaanse Schans.

Inikah saatnya untuk kembali berkirim kartu pos dari tempat wisata dengan menjilat dan menpelkan perangko bergambar tempat itu sendiri. Beli kartupos di Giethoorn ditempel perangko Giethoorn dan dikirim ke Jakarta atau Semarang.

Perangko
Mulai tanggal 29 Maret 2016 ini, bisa dilakukan di Belanda. Sebab dinas pos menerbitkan serial perangko bergambar beberapa tempat wisata Belanda. Karya Renier Hamel diabadikan dalam perangko.

Tempat-tempat wisata yang digambarkan pada perangko khusus untuk pengiriman surat atau kartu pos maksimal 20 gram ke luar negeri adalah: Deltawerken, de Waddeneilanden, de Hoge Veluwe, het Binnenhof, Pasar Keju Alkmaar, de Ladang Tulip, Giethoorn, Marken, Zaanse Schans dan lukisan ternama karya Rembrandt de Nachtwacht.

Giethoorn Monopoly
Sejatinya kalau Giethoorn ini merupakan sukses keduanya. Sebelum diabadikan dalam perangko, dusun sunyi dengan parit berkelok nan indah itu sudah mengejutkan dunia. Sebab permainan Monopoly World memasukkan Giethoorn dalam jejeran kota-kota besar dunia. Berkat kerja serius yang dilakukan team promosi kampung air berpenduduk 3 ribu jiwa itu masuk dalam jajaran mainan klasik.

Konon team promosi Giethoorn berhasil mendapatkan dukungan massal tanda tangan dari wisatawan China dan Taiwan yang membanjiri kampung sunyi di propinsi Overijssel itu.

Marketing Cerdas
Berkat kerja serius itu maka Belanda adalah satu-satunya negara yang punya dua tempat di Monopoly World.  Bila kawan membeli permainan yang menggunakan dadu dan juga bisa membangun rumah dan hotel itu akan mendapati Amsterdam dan Giethoorn di sana. Sayangnya dusun berpenduduk 3 000 jiwa bisa mengalahkan Jakarta yang berpenghuni 10 juta jiwa.

Berikut nama tempat dan kota yang menghiasi permainan Monopoly:
•   Warna Biru Tua: Lima, Peru; Hong Kong, China
•   Hijau: Riga, Latvia; Lissabon, Portugal; Istanbul, Turki
•   Kuning: Warsawa, Polandia, Mexico City, Mexico; Santiago, Chile
•   Merah: Belfast, Irlandia; Athene, Yunani; Beograd, Serbia
•   Oranye: Londen, England; Moskow, Rusia; Tokyo, Jepang
•   Merah Jambu: New York, U.S.A; Amsterdam, Nederland; Sydney, Australia
•   Biru Muda: Queenstown, Selandia Baru; Cape Town, Afsel; Taipei, Taiwan
•   Coklat: Giethoorn, Nederland; Madrid, Spanyol

 

 

Keukenhof, Keindahan Tulip Belanda

Posted on Updated on

tulips-65036_1280Walaupun sejatinya Tulip berasal dari Turki, namun pada akhirnya Belanda lah yang sukses mengembangbiakkan kembang indah ini menjadi berjuta warna. Keukenhof, gudang jutaan Tulip di musim semi.

Lokasinya di Lisse dekat kota Leiden. Serbalanda melihat kunjungan ke taman ini sebuah peluang bagi kawan yang berada di Belanda antara 23 Maret sampai dengan 21 Mei 2017. Hampir dua bulan inilah jutaan kembang Tulip dan lainnya bisa disaksikan, dicium, dibelai dan diselfie.

Jika kawan untuk pertama kali ke Keukenhof ada baiknya untuk melihat denah taman ini. Gambar Keukenhof bisa dilihat di link ini. Denah Keukenhof.

Hujan?
Bertamasya di Belanda, bisa sangat menyenangkan. Apalagi kalau didukung oleh cuaca yang cerah. Hujan bisa memembalik mood kita dari tawa menjadi tangis. Untuk dapat mengantisipasi kondisi cuaca ada baiknya sebelum menuju ke lokasi wisata menengok prakiraan cuaca. Di internet terdapat berbagai situs dan app tentang cuaca. Salah satunya Accuweather. Coba tengok sejenak sebelum melangkahkan kaki menuju Keukenhof.

 

Jika hari hujan, ada baiknya menerapkan nasihat sesepuh. Sedia Payung Sebelum Hujan. Pasalnya cuaca Belanda sulit diprediksi sementara waktu kawan di Negeri ini hanya beberapa hari saja. Keukenhof tidak diragukan lagi, merupakan salah satu obyek wisata keindahan jadi magnit Belanda di musim semi.


Jika kawan ingin berkunjung ke Keukenhof, ada baiknya mengkombinasi dengan lawatan lain seperti Madurodam, Kinderdijk atau Giethoorn.

Selain Tour Tiga Tempat: Giethoorn, Zaanse Schans dan Volendam, khusus untuk musim Tulip, Serbalanda juga memberi tawaran lain yang tidak kalah menarik.

Serbalanda siap menemani kawan untuk mengunjungi tempat-tempat indah.

 

Tour Eropa Serbalanda (Belanda 1)

Posted on Updated on

imageSerbalanda semakin sering mendampingi kawan Indonesia berlibur di Eropa. Sekarang bukan saja Belanda dengan Giethoorn, Volendam dan Zaanse Schans saja. Sejak Desember 2015 merambah ke Eropa. Dimulai dengan keluarga pak Ary dari Jakarta.

Menjadi pemandu wisata adalah profesi menarik. Berjumpa banyak orang, mendatangi tempat impian. Serbalanda terhubung dengan keluarga Bu Ena, istri Pak Ary, pada 1 Oktober 2015.

Di WA Bu Ena mengawali tulisannya:

“Saya berencana liburan ke Eropa. Googling, lalu muncul nama Pak Eka. Saya baca2 di Facebook ternyata pernah mengantar teman kami Ridzky dan Reini. “

Entah apa yang diceritakan bu Reiny dan Pak Ridzky kepada rekan sesama alumni SMA 1 di Makassar itu, komunikasi terus berlanjut dan rencana makin matang.

12032665_10206496865131915_8506308245993118101_o
Serbalanda bersama Bu Reini dan Pak Ridzky di Giethoorn

Pengalaman positif bu Reini dan Pak Rizky jalan bersama Serbalanda dishare kepada kawan-kawannya. Iklan dari mulut ke mulut  menguatkan keputusan keluarga Pak Aryawan Bahri dari Jakarta untuk jalan bersama Serbalanda.

Kepercayaan ini yang sangat penting dan sekaligus merupakan cobaan. Mampukah kami memenuhi harapan tamu yang sudah mengeluarkan dana besar? Dengan segala kesungguhan kami mengemban kepercayaan liburannya bersama kami?

Sebelum menentukan pilihan jalan dengan Serbalanda, ibu Ena mengaku sudah sempat mencari paket liburan Eropa di berbagai biro perjalanan besar di Indonesia. Namun  karena schedule liburan dan cuti pat Ary tidak cocok dengan jadwal travel maka dicari alternative private tour bersama Sebalanda.

Keuntungan lain jalan dengan Serbalanda karena keramahan, budaya yang sama, dan fleksibilitas adwal dan jalur perjalanan yang bisa dirubah-rubah. Perkenalan dilanjutkan  komunikasi intensif Whatsapp dan akhirnya dirajut dalam itinerary yang menarik.

12375333_10208077169597205_4994897786949671155_o
Scheveningen | Den Haag

Keluarga yang terdiri dari orang tua dan tiga putri mereka, liburan 12 hari di Eropa. Mulai di Belanda-Paris-Swiss-Jeman dan berakhir di Belanda lagi. Berikut kompolasi perjalanan yang menarik dan mengesankan.

Sejak awal Serbalanda sudah menangkap kesan, keluarga ini sangat ramah. Sampai akhir kesan itu tidak pernah berubah, bahkan malah sebaliknya. Makin baik dan inspiratif. Anak-anaknya kelihatan dididik dengan nilai sosial dan sopan santun. Mereka ramah kepada personil Serbalanda, sepanjang perjalanan.

30 November 2015
Serbalanda menjemput pak Ary sekeluarga di Bandara Schiphol Amsterdam. Lima orang tamu berserta semua bagasi dengan mudah, nyaman dan aman masuk van Mercedes  Benz VITO Matic  kelahiran tahun 2015 ini memiliki kapasitas 9 orang (incl. driver) dan bagasi.

Vito_01Free_WiFi.gif

Serbalanda memilih alat angkut handal Made in Germany itu demi kenyamanan dan keamanan bagi tamu yang ingin menikmati liburan dengan tenang dan senang.

Free WiFi onboard
Sebagai penambah kenyamanan Serbalanda menyediakan fasilitas WiFi selama di perjalanan. Menyadari perlunya para tamu untuk tetap online dan up to date di social media seperti Facebook, Instagram, Twitter dan lainnya maka Serbalanda menyaji fasilitas WiFi di kendaraan.

Pedesaan
Keluarga Bahri memilih penginapan “Huis ter Lucht” de Kwakkel wilayah pedesaan pinggiran sungai Amstel. Tempat sepi yang cocok untuk istirahat dan mengenal suasana pertanian Belanda.

12357235_10208076354736834_7747277944312200988_o
De Kwakkel | Pic: Ena Maria

Di appartement yang menyediakan dapur lengkap dengan perabot memasak sehingga keluarga bisa menikmati makanan Indonesia bekal dari Tanah Air. Dikombinasi dengan sayur mayur yang diberli di supermarket di Zaandam, maka hidangan makan malam di Huis ter Lucht tak ubahnya seperti di Dago Atas Bandung.

12371198_10208076433978815_1171886233700222342_o
Huis ter Lucht | by: Ena Maria

Anak-anak tampak menyukai penginapan itu. Si bungsu mengungkapkan langsung kegembiraanya kepada kedua orang tuanya dan berulang kali mengatakan terima kasih.

12357034_10208076364457077_5127747636175402599_o
Huis ter Lucht | by: Ena Maria

Belanda dan Hujan 
Negeri Belanda tampaknya memang sudah berjodoh dengan hujan. Sepertinya tidak ada lima hari berturut di negeri ini tanpa ada hujan. Di hari kedatangan 30 November 2015 itu, curah hujan di Belanda sangat tinggi. Hujan sangat deras, sejak pesawat Qatar Airways menyentuhkan rodanya di landasan Schiphol Belanda.

“Tadi penumpang bertepuk tangan saat pesawat mendarat. Soalnya sempat ada turbulensi besar oleh cuaca buruk,” ungkap pak Ary kepada Serbalanda.

1 Desember 2015
Pada hari kedua, cuaca Belanda masih tidak banyak berbeda dengan sebelumnya. Hujan masih saja turun sepanjang hari dengan sesekali selingan matahari memunculkan wajah malunya. Namun kegembiraan holiday tetap bisa dinikmati. Kunjungan pertama ke Zaanse Schans.

Zaanse Schans
Pagi hari di kompleks Kincir Angin di Noord Holland,  menikmati indahnya Wind Mills tradisional berusia 100 tahun yang terpelihara sampai hari ini. Sebagai warisan budaya, bagian dari organisasi budaya PBB, Unesco.

12375062_10208076725746109_2989490683535928868_o
Zaanse Schams | by: Ena Maria

Kapal VOC
Kunjungan ke demo pembuatan Keju, Sepatu kayu Kelom, dan Wind Mills de Huisman. 
Penggiling rempah yang berasal dari Nusantara yang di zaman VOC harganya lebih tinggi dari emas. Kunjungan keluarga Bahri ke Zaandijk makin mengena karena ternyata mereka menyukai Museum. Di kompleks ini terdapat Zaanse Museum, berisi sejarah kawasan Zaandam.

12310476_10207976016388438_369874870244386092_n
Pelayaran Kapal Rempah dari Indonesia | by: Ena Maria

Suka Museum
Informasi yang terkandung di dalam museum itu memberi gambaran masa silam perkembangan wilayah itu. Sejarah pabrik biskuit dan coklat Verkade, sejarah cikal bakal supermarket Albert Heijn, Kincir Angin, Seniman dan orang terkenal yang berasal dari daerah itu. Museum yang informatif dan interaktif. Kesenangan pada museum tampak dengan minat mengunjungi tempat-tempat lain bersejarah.

Awas Tergelincir di Belanda!!

Posted on

Bila kawan terbiasa naik sepeda, maka Anda adalah orang yang mujur dan beruntung. Bisa menikmati udara segar di Belanda ini dan juga badan rasa sehat. Namun demikian mohon berhati-hati jika hendak Membuat Tikungan Mesra di musim Gugur.2015-11-03 12.09.40

Musim Gugur, Rontok, Fall, Autumn atau Herfst punya keindahannya sendiri. Diawali dedaunan menguning, lanjut mencokelat dan kemudian berjatuhan ke bumi.

Jatuh berserakan usai merampungkan tugasnya menjadi tungku pembakar di musim panas, kini menjelma jadi alas jalanan. Tugasnya memberi nada suara merdu kreaek-kresek jika kaki-kaki melewati tumpukannya.

Dedaunan di atas bumi yang dibasahi oleh embun dan rintik hujan, membuatnya licin.

Buat para pengemudi sepeda mohon berhati-hati, karena daun-daun yang basah bisa sangat licin bagi ban sepeda yang meluncur. Jangan asal membuat tikungan mesra di musim gugur. Bisa gudubraaaakkkh..!

2015-10-27 15.13.00 2015-10-27 15.14.36

Awas Polisi Gadungan Eropa Sasar Wisatawan Indonesia!

Posted on Updated on

Polisi Amsterdam Pic: Serbalanda
Polisi Amsterdam Pic: Serbalanda

Kecopetan atau kehilangan dokumen dan barang berharga sangat menjengkelkan. Apalagi kalau kita sedang berperjalanan di negara lain. Mencari tempat melapor, mendapatkan kembali dokumen bisa menguras waktu perjalanan atau liburan. Kecopetan atau kecurian barang, sebisa mungkin dihindari. Tulisan Serbalanda ini semoga membantu kawan lebih waspada.

Belakangan ini modus kejahatan, aparat polisi gadungan mulai marak. Eka Tanjung dari Serbalanda sedianya hanya menemukan berbagai kasus di Rotterdam Belanda, sekarang sudah merambah ke Jerman, Swiss, Prancis, Belgia dan lainnya. Kawan-kawan wisatawan dan backpackers dari Indonesia mohon berwaspada.

Peringatan
Penulis yang sudah 30 tahun domisili di Belanda, kerap membaca dan mendengar kejadian di tempat-tempat wisata. Tulisan ini hanya sekedar peringantan saja, karena Kepolisian Belanda juga mengeluarkan warning soal aparat gadungan dari Eropa Timur. Alasan lain, karena penulis tidak ingin orang Indonesia menjadi korban penipuan ini.

Waspada
Ketika kawan berada di tempat-tempat wisata, sebaiknya waspada dengan barang-barang. Sekalipun sedang melihat view bagus dan ingin segera berselfie ria tanpa harus kehilangan moment. Jangan lengah meninggalkan tas dan barang berharga lainnya. Sebab orang yang berniat jahat, akan beraksi pada detik-detik ketika korban sedang lengah.

Polisi Preman
Salah satu modus kejahatan di tempat-tempat wisata Belanda adalah jaringan pencopetan dan penipuan yang dilakukan oleh dua sampai 6 orang. Dua orang menyamar sebagai polisi berpakaian sipil, atau preman.

ID Palsu
Mereka berbekal ID-card tiruan yang mirip punya Polisi. Para pelaku berasal dari Eropa Timur dan tidak berbahasa Belanda, penguasaan bahasa Inggrisnya pun terbata-bata. Hanya kalimat-kalimat standar saja. Mereka menyasar wisatawan Asia yang berjalan sendirian atau dalam kelompok kecil, seperti dari Thailand, Korea, China, Singapura atau Indonesia.

Modus Operandi
Menurut pihak kepolisian Belanda, para pelaku beroperasi paling sering berempat. Mereka terlebih dulu mengamati bakal korbannya sejak mulai dari masuk tempat-tempat wisata kalau di Rotterdam sekitar Euromast, Markthal atau Spido.

Setelah calon korban berada di lokasi yang sepi, dua orang pelaku akan menghampiri mangsa. Sapaan ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa bakal mangsanya bukan lokal Belanda. Mereka menyapa dan mengajak sang korban berbicara dalam bahasa Belanda. Tak lama kemudian muncullah dia orang yang mengaku sebagai aparat polisi dan menduga ada ‘transaksi narkoba’ dan ingin menggeledah korban.

Uang Raib
Mereka akan meminta Paspor, ID dan Dompet. Dan tanpa disadari mereka akan mengambil uang dari dompet korban dan mengembalikan dalam kondisi sudah berkurang banyak. Sang pelaku akan kabur dengan hasil jarahannya.

Mengapa Orang Asia ?
Mereka sengaja menyasar wisatawan Asia karena rumpun bangsa ini cukup patuh kepada otoritas, apalagi kepada aparat polisi. Haha dari mana ya kok kita bisa begitu?  Selain itu wisatawan Asia, selalu siap membuktikan dirinya adalah orang baik-baik. Mereka tidak mau ribet dan menuruti saja semua pengarahan “otiritas” setempat. Dan orang Asia juga dikenal membawa duit cash berjumlah besar di dompetnya. Lengkap sudah .. orang Asia menyandang status ‘sasaran empuk’ di mata para penipu.

Serbalanda pernah membaca kasus di Rotterdam, korbannya turis Singapura. Dia diajak bicara oleh dua pria, lalu tak lama kemudian muncul dua aparat gadungan yang menunjukkan ID (palsu.) Dua aparat ini mengatakan curiga wisatawan Asia itu sedang melakukan transaksi narkoba. Aparat gadungan itu kemudian meminta memeriksa barang dan minta paspor serta dompet. Pura-pura memeriksa paspor dan dompet dengan seksama. Tak lama kemudian, korban ditinggal dengan kejutan bahwa dompetnya sudah kosong.

Korban Indonesia
Beberapa tahun silam Eka Tanjung mendapat kabar dari seorang teman yang jalan sendiria ke Rotterdam dan mengalami hal serupa. Dia didekati dua aparat preman yang membawa ID polisi. Dan ingin melihat dompet dan paspor. Dasar kawan Indonesia ini adalah orang baik dan polos, dia turuti saja permintaan itu dan akhirnya dompetnya berkurang € 200,-. Dia cerita sudah dua pekan kejadian, karena “saya kesal tapi malu juga, kok bisa sampai ketipu.”

Polisi Belanda menanggapi kasus penipuan ini denga tegas mengatakan: 
“Kami tidak akan pernah minta dompet. Tidak pernah. Kalau ID ada dalam dompet, maka kami akan meminta sang pemilik mengambilnya sendiri dari dompet. Bukan kami. Kami tidak akan menyentuh dompet itu.”  Jadi bisa disimpulkan, kalau minta dompet berarti dia penipu!

Eropa Timur
Menurut kepolisian Belanda, pelakunya hampir selalu berasal dari Eropa Timur.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa mereka biasanya beroperasi di Belanda selama satu atau dua hari. Setelah itu pergi. Saya juga mendengar pengalaman yang sama dari rekan-rekan polisi di Belgia,” ungkap Pak Smit polisi Rotterdam yang sudah sering mendapat pengaduan tentang ‘polisi gadungan.’ Polisi tidak tinggal diam, mereka terus menguber pelaku yang mencemarkan nama institusi kepolisian.

Awal tahun 2015, Polisi berhasil meringkus sindikat ‘polisi gadungan’ dari Rumania yang merampok turis satu famili dari Thailand. Dua pelaku meminta ID, paspor dan tas pinggang sang korban. Dari tas mereka mengambil uang € 1500.

Menyadari uangnya diambil, sang korban berteriak-teriak minta tolong dalam bahasa Thais atau bahasa Jane Panggil Tarzan. Yang pasti suara minta tolong itu memekik telinga hingga terdengar beberapa pekerja bangunan yang berada dekat lokasi. Mereka mengejar dan meringkus sang pelaku dan menyerahkan kepada polisi.

Tidak Kapok
Beruntung kali ini bagi sang korban, karena uangnya kembali. Dan pelaku dikenai hukuman kurungan selama tiga bulan. Tapi kan tahu sendiri penjara di Belanda seperti hotel Melati ber-TV dan bersih. Kalau dasarnya memang penjahat, maka setelah keluar penjara dia akan mengulang perbuatannya dengan pengalaman dan lebih mahir lagi. Artinya jumlah kejahatan ini tidak akan berkurang.

Dari cerita tentang ‘aparat gadungan’ ini maka Eka Tanjung ingin menyampaikan beberapa saran atau tips kepada kawan yang bepergian liburan ke Eropa.

  • Jangan hiraukan orang asing yang mengajak Anda berbicara di tempat wisata.
  • Jangan tanggapi orang yang meminta-minta. Minta rokok atau korek api.
  • Jangan layani orang yang menjatuhkan benda dan menyebut itu punya Anda. Amankan barang Anda.
  • Jangan membeli barang murah di tempat yang mencurigakan.
  • Pisahkan uang yang anda di dompet yang berlainan.
  • Gunakan guide lokal yang berpengalaman.

Korban Belanda
Kejahatan dengan modus seperti ini terjadi di mana-mana dan korbannya bukan saja kalangan wisatawan. Para lansia Belanda yang tinggal sendiri sering pula jadi korban ‘aparat gadungan.’ Mereka datang menyamar sebagai aparat polisi atau dinas pemda, ingin mengontrol keamanan rumah penduduk dan melihat ke dalam dan menjarah barang-barang berharga.

Semoga masukan ini bermanfaat dan kawan bisa menikmati liburan di Belanda dan Eropa dengan nyaman, tanpa mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Eka Tanjung siap memberikan saran untuk penginapan maupun transportasi dan akomodasi yang baik dan aman.

eka_tanjung_2017_kontak

Awas di Belanda Ada Polisi Gadungan !!

Posted on Updated on

472353_10150687272244456_341717331_o

Belanda salah satu tujuan liburan yang tergolong aman, dibanding Prancis, Itali atau Spanyol. Namun perlu waspada terhadap polisi gadungan dan peminta-minta.

Peringatan
Penulis yang sudah 30 tahun domisili di Belanda, kerap membaca dan mendengar kejadian di tempat-tempat wisata. Tulisan ini hanya sekedar peringantan saja, karena Kepolisian Belanda juga mengeluarkan warning soal aparat gadungan dari Eropa Timur. Alasan lain, karena penulis tidak ingin orang Indonesia menjadi korban penipuan ini.

Waspada
Ketika kawan berada di tempat-tempat wisata, sebaiknya waspada dengan barang-barang. Sekalipun sedang melihat view bagus dan ingin segera berselfie ria tanpa harus kehilangan moment. Jangan lengah perhatian pada tas dan barang kawan. Sebab orang yang berniat jahat, akan beraksi pada sasaran yang meleng.

Polisi Preman
Salah satu modus kejahatan di tempat-tempat wisata Belanda adalah jaringan kriminal ringan seperti pencopetan dan penipuan yang dilakukan antara 2 sampai 6 orang. Dua orang menyamar sebagai polisi berpakaian sipil, atau preman.

Mereka berbekal ID-card tiruan yang mirip punya Polisi. Para pelaku berasal dari Eropa Timur dan tidak berbahasa Belanda, penguasaan bahasa Inggrisnya pun terbata-bata. Hanya kalimat-kalimat standar saja. Mereka menyasar wisatawan Asia yang berjalan sendirian atau dalam kelompok kecil, seperti dari Thailand, Korea, China, Singapura atau Indonesia.

polisi_gadungan_01

Modus Operandi
Menurut pihak kepolisian Belanda, para pelaku beroperasi paling sering berempat. Mereka terlebih dulu mengamati bakal korbannya sejak mulai dari masuk tempat-tempat wisata kalau di Rotterdam sekitar Euromast, Markthal atau Spido.

Setelah calon korban berada di lokasi yang sepi, dua orang pelaku akan menghampiri mangsa. Sapaan ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa bakal mangsanya bukan lokal Belanda. Mereka menyapa dan mengajak sang korban berbicara dalam bahasa Belanda. Tak lama kemudian muncullah dia orang yang mengaku sebagai aparat polisi dan menduga ada ‘transaksi narkoba’ dan ingin menggeledah korban.

Uang Raib
Mereka akan meminta Paspor, ID dan Dompet. Dan tanpa disadari mereka akan mengambil uang dari dompet korban dan mengembalikan dalam kondisi sudah berkurang banyak. Sang pelaku akan kabur dengan hasil jarahannya.

Mengapa Orang Asia ?
Mereka sengaja menyasar wisatawan dari Asia karena rumpun bangsa ini cukup patuh kepada otoritas, apalagi kepada aparat polisi. Haha dari mana ya kok kita bisa begitu?  Selain itu wisatawan Asia, selalu siap untuk membuktikan dirinya adalah orang baik-baik, maka menuruti semua pengarahan dari otiritas di tempat asing. Dan orang Asia juga dikenal senang membawa duit banyak di dompetnya. Lengkap sudah .. orang Asia menyandang status ‘sasaran empuk’ di mata para penipu.

Sabtu silam kejadian di Rotterdam dan korbannya turis dari Singapura. Dia diajak bicara oleh dua pria, lalu muncul dua aparat gadungan yang menunjukkan ID (palsu) dan mengatakan mencurigai deal narkoba. Meminta untuk menggeledah barang dan minta paspor dan dompet. Tak lama kemudian, korban ditinggal dengan kejutan bahwa dompetnya sudah kosong.

Beberapa tahun silam Eka Tanjung mendapat kabar dari seorang teman yang jalan sendiria ke Rotterdam dan mengalami hal serupa. Dia didekati dua aparat preman yang membawa ID polisi. Dan ingin melihat dompet dan paspor. Dasar kawan Indonesia ini adalah orang baik dan polos, dia turuti saja permintaan itu dan akhirnya dompetnya berkurang € 200,-. Dia cerita sudah dua pekan kejadian, karena “saya kesal tapi malu juga, kok bisa sampai ketipu.”

Polisi Belanda menanggapi kasus penipuan ini denga tegas mengatakan: 
“Kami tidak akan pernah meminta warga untuk menyerahkan dompet. Tidak pernah. Kalau ID ada di dompet, maka kami akan meminta pemilik mengambilnya sendiri dari dompet. Bukan kami. Kami tidak akan menyentuh dompet itu.”  Jadi bisa disimpulkan, kalau minta dompet berarti dia penipu!

Eropa Timur
Menurut kepolisian Belanda yang diwawancara AD.nl mengatakan bahwa pelakunya hampir selalu berasal dari Eropa Timur. “Penelitian kami menunjukkan bahwa mereka biasanya beroperasi di Belanda selama satu atau dua hari. Setelah itu pergi. Saya juga mendengar pengalaman yang sama dari rekan-rekan polisi di Belgia,” ungkap Pak Smit polisi Rotterdam yang sudah sering mendapat pengaduan tentang ‘polisi gadungan.’ Polisi tidak tinggal diam, mereka terus menguber pelaku yang mencemarkan nama institusi kepolisian.

Bulan lalu Polisi berhasil meringkus sindikat ‘polisi gadungan’ dari Rumania yang merampok turis satu famili dari Thailand. Dua pelaku meminta ID, paspor dan tas pinggang sang korban. Dari tas mereka mengambil uang € 1500.

Menyadari uangnya diambil, sang korban berteriak-teriak minta tolong dalam bahasa Thais mungkin atau bahasa Jane memanggil Tarzan. Yang pasti suara minta tolong itu terdengar oleh beberapa pekerja bangunan yang berada dekat lokasi. Mereka akhirnya membantu menangkap sang pelaku dan menyerahkan kepada polisi.

Tidak Kapok
Beruntung kali ini bagi sang korban, karena uangnya akhirnya kembali. Dan pelaku dikenai hukuman kurungan selama tiga bulan. Tapi kan tahu sendiri penjara di Belanda seperti hotel Melati ber-TV dan bersih. Kalau dasarnya memang penjahat, maka setelah keluar penjara dia akan mengulang perbuatannya dengan pengalaman dan lebih mahir lagi. Artinya jumlah kejahatan ini tidak akan berkurang.

Dari cerita tentang ‘aparat gadungan’ ini maka Eka Tanjung ingin menyampaikan beberapa saran atau tips kepada kawan yang bepergian liburan ke Eropa.

  • Jangan hiraukan orang asing yang mengajak Anda berbicara di tempat wisata.
  • Jangan tanggapi orang yang meminta-minta. Minta rokok atau korek api.
  • Jangan layani orang yang menjatuhkan benda dan menyebut itu punya Anda. Amankan barang Anda.
  • Jangan membeli barang murah di tempat yang mencurigakan.
  • Pisahkan uang yang anda di dompet yang berlainan.

Korban Belanda
Kejahatan dengan modus seperti ini terjadi di mana-mana dan korbannya bukan saja kalangan wisatawan. Para lansia Belanda yang tinggal sendiri sering pula jadi korban ‘aparat gadungan.’ Mereka datang menyamar sebagai aparat polisi atau dinas pemda, ingin mengontrol keamanan rumah penduduk dan melihat ke dalam dan menjarah barang-barang berharga.

Semoga masukan ini bermanfaat dan kawan bisa menikmati liburan di Belanda dan Eropa dengan nyaman, tanpa mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Eka Tanjung siap memberikan saran untuk penginapan maupun transportasi dan akomodasi yang baik dan aman.

Menghubungi Serbalanda