Bule Belanda Ungkap Alasan Pandai Berbahasa Indonesia.

Posted on Updated on

George

George Muishout orang Belanda yang fasih Berbahasa Indonesia. Bercerita mengenai perkenalannya dengan Bahasa Indonesia. Dengan Indonesia dan juga kunjungannya ke Indonesia.

George mampu berbahasa Indonesia dengan cukup lancar, malah dulu-dulu mungkin lebih lancar lagi dari sekarang. Karena faktor usia yang membuatnya lupa perbendaharaan kata. 

Sejarah perkenalan dengan Bahasa Indonesia.

Waktu sekolah di HBO (University of Applied Science) di Utrecht, George sempat mengikuti kursus singkat Bahasa Indonesia. Kursus itu ditujukan untuk untuk magang di luar negeri. Pilihannya waktu itu ke Amerika Latin atau ke Asia. Untuk wilayah Asia pilihannya antara lain ke Indonesia.

Bagian dari paket program itu kita ambil salah satu Bahasa. Itulah perkenalan pertama dengan Bahasa Indonesia.


“Jadi ketika itu saya ragu, awalnya mau ambil Bahasa Spanyol. Tidak jadi karena kalau tidak salah sudah penuh kelasnya. Pada akhirnya saya pilih Bahasa Indonesia.” 

“Tapi itu kursusnya singkat. Cuman dua bulan. Saya masih ingat dosennya orang Maluku. Kami mempelajari yang umum saja. Seperti. Budi Pergi ke Pasar Beli Pisang. Yah sebatas itu saja, saya masih ingat. Ketika itu saya tidak terlalu semangat, semata hanya untuk mendapat nilai mata kuliah.”

Namun sayang sekali magangnya tidak jadi. Tapi belajar Bahasa Indonesianya dapat dasarnya saja. Sekitar tujuh kali pertemuan. Disambung dengan ujian.

Alasan pembatalan magang di Indonesia karena ketika itu kondisi politik Indonesia, sedang kurang stabil. Era peralihan  Presiden Suharto yang baru saja diganti oleh Habibie. Jadi George rencanannya ditempatkan di salah satu Rumah Sakit di Jogja.

Tapi pada akhirnya tidak jadi. Karena di Indonesia sedang banyak demonstrasi. Terutama di kota-kota besar. Karena alasan itulah Biro khusus untuk magang ke luar negeri waktu itu mengambil keputusan untuk membatalkan untuk semua mahasiswa yang akan magang di Indonesia pada tahun itu.

“Jadi betapa sedihnya saya itu.”

Persiapan sebenarnya kurang dan belum banyak. Tapi khayalannya yang sudah jauh. “Waah asik nanti itu, saya akan mendapatkan kebebasan.”
Ini bukan rencana perjalanan George yang pertama ke Indonesia. Sebelumnya sudah pernah. Yaitu ketika masih jenjang SMA di Belanda. 

“Waktu saya masih SMA. Dia ajak oleh orang tua teman, yang banyak uang. Ketika itu orang tua teman ini ingin liburan. Liburan Natal,  atau liburan akhir tahun. Selama dua minggu.”

Temannya itu awalnya malas ikut orang tua liburan. “Ah bosan, tidak asik dengan ortu. Orang tua tidak menarik, tidak asik. Mereka tidak mengerti kebutuhan kita anak muda.”

Jadi orang tuanya mencoba merayu dengan menawarkan solusi  “Ayo ikut saja, Indonesia itu bagus. Kamu harus ikut ajak saja salah satu kawan kamu George.”

Trip pariwisata yang pendek. Mereka jadi ikut tour. Jadi Jawa dan Bali. Paket tour pendek itu. Karena waktunya terbatas. Jadi itu pertama kali ke Indonesia tidak sempat belajar Bahasa Indonesia. Karena temannya George itu tadinya tidak mau ikut ortu.  “Ya sudah ajak saja teman.” Trus adiknya juga disuruh mengajak teman. Pada akhirnya kita ikut secara rombongan. Kan anak muda sambil bersorak sorai.

Mereka ke Jakarta, Bogor. Pokoknya semua yang standar ada di setiap paket tour. Tempat-tempat Pariwisata yang paling top. Pangendaran, Bromo, Borobudur, Prambanan, Jogja dan Malang dan berakhir di Bali.

George mengingat perjalanan itu jadwalnya terlalu padat. Sebagai anak muda, anak-anak terbiasa tidur panjang. Jalan sampai malam-malam kalau tripnya aduh ini seperti balapan.

Pagi sudah harus bangun untuk sarapan. Trus semua lokasi yang diprogram harus diinjak pada waktu yang sudah ditentukan. Itu memang kelemahan dari paket-paket pariwisata seperti itu.

George mengingat aromanya yang berbeda sekali dengan aroma di Belanda. “Inikah yang dinamakan aroma tropis.” pikir saya.

“Kok luar biasa, di saat Natal. Ketika teman-teman di Belanda sedang membuat Bola Salju. Yang saya ingat juga bahwa di hotel kami itu ada Pohon Natal. Kok luar biasa, ada pohon natal di sini. Dalam suasana yang sangat beda dengan di Belanda. Selama ini kan kami mengkaitkan pohon Natal dengan suhu yang dingin kemudian salju.”

Kunjungan pertama ke Indonesia itu belum sadar untuk belajar Bahasa Indonesia. 

Karena Guidenya di Indonesia bisa bahasa Belanda dengan baik. Jadi tidak terfikirkan untuk belajar Bahasa Indonesia. Ketika itu enggak ada  ketertarikan belajar Bahasa Indonesia. 

Kunjungan kedua ke Indonesia terjadi setelah George lulus program S1 di Perguruan Tinggi. Dia masih punya waktu sebelum bekerja untuk menikmati liburan panjang. Dia terfikir ke Indonesia, setelah batal waktu magang dulu.

Nah saya teringat dengan teman SMA dulu dia dari Indonesia, orang tuanya pernah kerja di Belanda sini jadi expat, waktu itu dia sudah kembali ke Indonesia. Dia tinggal di Surabaya. Kemudian dia ajak saya datang.

“Kamu kan sudah selesai kuliah, datang ke sini. Dia mengundang saya ke Surabaya, itu tahun  1999 atau 2000 awal.”

Berangkatlah George sebagai backpacker menemui temanya di Surabaya. Kemudian dia diajak keliling Jawa kemana-mana naik kereta. George sudah terbiasa hiking. Selama kuliah juga kemana-mana di Eropa Saya dulu suka hiking. Misalnya ke Inggris, Irlandia, Skotlandia, Prancis, Belgia semacam itu. Dulu apalagi untuk anak muda dan mahasiswa. Bisa dapat korting untuk usia sampai 25 tahun. Di Eropa kalau bepergian ada korting untuk mahasiswa agar mereka melihat negara sekeliling.

Setelah jalan-jalan dengan kawan dari Surabaya itu.  George kontak lagi dengan teman satu lagi orang Indonesia di Belanda. Dia waktu itu sedang di Lombok. 

Temannya ini mengudang George ke Lombok, “Kalau kamu sedang di Indonesia. Lanjut saja datang ke Lombok.”

Aslinya saya tidak ada rencana. Tapi karena waktu bukan masalah. Karena sudah merencanakan liburan untuk tiga bulan. “Pertama saya ragu. Tapi pada akhirnya saya fikir:”Kenapa tidak ke Lombok juga”

Jadi akhirnya pakai Feri ke Bali dulu. Setelah itu saya lanjut ke Lombok. George memilih untuk lewat darat. Karena selain lebih murah daripada naik pesawat, juga bisa kontak dan komunikasi dengan penduduk lokal. Mengamati bagaimana kehidupan penduduk setempat.

Dan mungkin pertimbangannya. Kalau masih muda itu kan bukan perkara lelah badan masih kuat. Lebih penting mungkin, murah dan ada sisi adventure nya. Akhirnya sampai di Lombok itu. “Dijemput oleh temanku”