Deventer kota Belanda, Menyimpan Sejarah Indonesia

Posted on Updated on

Deventer, kota Belanda di propinsi Overijssel menyimpan sejarah Hindia-Belanda. Hotel Restaurant GAIA, adalah bekas villa milik Gubernur Jendral Duymaer van Twist. Di museum kota itu menyimpan buka kuno: Kedoengkebo, Transkrip Perang Diponegoro. Cukup alasan untuk juga berkunjung ke Deventer.

Musuh Multatuli
Perbincangan dengan Bule Brewok dalam Bahasa Indonesia di rumah Gubernur Jendral Hindia Belanda Duymaer van Twist di Deventer. Gubjen ini menjadi orang nomor satu di Hindia Belanda, ketika Multatuli di Lebak. Mereka saling bersinggungan.

Rumah Gubernur Jendral Hindia Belanda di Deventer

Villa Nieuw-Rande, milik mantan Gubernur Jendral Albertus Jacobus Duymaer van Twist. Dia menjadi orang nomor satu di Hindia Belanda, dari tahun 1851-1856.

Menurut Pak Sirtjo, rumahnya di sini bagus, ini semua bukan hanya gedung tapi Landgoed (estate – pekarangannya) pelataran halaman, seperti di Istana Bogor ini memang rumahnya Duymaer van Twist. Dengan luas 43 Hektar.

Namanya muncul dalam buku Multatuli “Max Havelaar”.
Ketika itu Multatuli Eduard Douwes-Dekker, jadi asisten resident di Lebak Banten. Multatuli menyaksikan bahwa regent atau bupati: (Raden Adipati Karta Nata Negara) yang menurut Multatuli, memaksa rakyatnya untuk kerja keperluan pribadi. Seperti budak.

Multatuli tidak setuju dengan kelakuan si bupati Lebak itu. Sebagai asisten residen Lebak, Multatuli mencoba merubah situasi itu dan mengeluhkan ke atasan. Dan sampailah ke Gubernur Jendral waktu itu Duymaer van Twist.

Belanda Butuh Kaki Tangan
Bahwa Gubernur Jendral harus merubah, politiknya, dan menggunakan pengaruhnya untuk menghukum bupati Lebak. Tapi justru sistem pemerintahan di Hindia Belanda adalah bahwa pengaruh langsung orang Belanda ke isu lokal, diminimalisir.

Berarti sebenarnya pada Zaman Kolonial, itu bupati-bupati yang tradisional raja dan lainnya sejatinya yang memerintah daerah masing-masing sesuai dengan cara dan adat yang berlaku di daerah itu.

Hanya saja, orang Belanda seperti asisten resident di kabupaten melihat tapi mereka juga menyampaikan kebijakan pemerintah kolonial kepada bupati-bupati. Tapi bupati tetap sangat berkuasa. Berarti, bagi pemerintah Kolonial Belanda bupati-bupati itu posisi paling penting untuk kelancaran kebijakan. Jadi kalau tanpa bupati-bupati, karena jumlah orang Belanda sedikit, tidak mungkin orang Belanda bisa langsung turun memerintah atau menguasai wilayah Hindia Belanda (Indonesia).

Duymaer Van Twist Tidak Menghiraukan
Berarti Gubernur Jendral, walaupun mungkin sependapat dengan Multatuli. Tapi seandainya Gubjend menghukum Bupati itu sama saja dengan melemahkan wibawa pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Akhirnya tidak ada satupun pejabat tinggi pemerintahan Hindia Belanda, yang mau mengikuti kemauan Multatuli, yang sangat keras kepala. Sepanjang hidupnya Multatuli bertengkar dengan siapa pun.

Karena Multatuli merasa tidak didengar pendapatnya, lalu menulis buku mengenai masalah itu yang menurut dia. Ketidakadilan di Hindia Belanda: Max Havelaar.

Pembacanya khususnya banyak mahasiswa yang akan menjadi ambtenaar-ambtenaar (PNS) yang akan dikirim ke Indonesia (Hindia Belanda) Waktu itu pun di Belanda tidak ada larangan buku Max Havelaar.

Ada temuan menarik dari Bule Brewok ini mengenai. Multatuli atau Edward Douwes Dekker. Dan yang menariknya sekarang ini banyak orang melihat Multatuli sebagai tokoh anti-kolinial padahal dia tetap kolonial. Dia tetap melihat ada peran penting untuk orang Belanda di Hindia Belanda.

Hanya saja, dia mau melawan kekerasan yang dilakukan penguasa pribumi terhadap rakyat. Tapi Multatuli tidak pernah bilang bahwa Belanda harus keluar dari Hindia Belanda. Jadi dia tetap mempertahankan penjajahan Belanda. Penjajahan baginya tetap ada tapi dengan cara di bawah bimbingan Belanda tanpa menindas rakyat. Tapi bagi Pak Sirtjo, dia tetap kolonial.

Duymaer van Twist waktu selesai masa tugas Gubernur Jendral tahun 1856. Karena memang berasal dari daerah sekitar sini dia membangun Villa ini setelah pulang dari Indonesia. Pasti gajinya Gubernur Jendral cukup tinggi dan dia juga bisa dilihat dia berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Duymaer – Van Twist, nama belakang yang ganda berarti dia kalau bukan dari latarbelakang keluarga yang kaya tidak mungkin jadi Gubernur Jendral.

Eka Tanjung: Jadi ketika mengirimkan Gub-Jend dari Belanda tidak begitu saja. Ada permaianan?

Pak Sirtjo: Bukan, karena bayangkan saja kalau orang biasa tidak akan masuk Universitas. Jadi kalau dia kuliah berarti orang yang berada orang yang punya pengaruh. Bukan dari zaman VOC. Itu sudah bangkrut 1795. Tahun 1810 Belanda sudah berdiri sebagai negara. Duymaer van Twist bangun rumah ini. Dia kalangan bangsawan. Dan dia kemudian masuk di parlemen setelah akhir masa jabatan di Hindia Belanda. Dia beli dari orang, sebelumnya ada bangunan bangunan lama yang sudah rusak kemudian direnovasi.

Di Villa di tengah lahan 43 hektar. Bahasa Belandanya Landgoed. (Inggrisnya : Estate) Ada beberapa barang-barang milik Duymaer van Twist dipertunjukkan di museum Deventer.