Taman Tropis, Promo Indonesia di Belanda

Posted on

Ibu Marlisa, cewek bule yang pandai berbahasa Indonesia. Bermula dari rasa cintanya pada Pulau Mentawai. Kemudian beranjak menuju kecintaannya kepada Indonesia. Buat Taman Satwa, Flora dan Budaya Indonesia di Belanda.


Bu Marlisa menuturkan bahwa Taman Indonesia yang tadinya bermula dari Taman Burung menjadi. Taman Satwa binatang dan juga kebudayaan Indonesia. Eka Tanjung sempat merasakan suasana Taman Indonesia memasuki gapura seakan berada di Jawa atau di Bali.


Ada dua kandang besar burung. Tendengar kicauan burung berlari-lari. Burung nyaman karena cuaca musim panas saat ini di Belanda (Juni 2020) seperti di habitat aslinya. Suhu antara 20-25 derajat Celsius cocok sekali untuk burung-burung supaya mereka bisa bernyanyi.

Nah burung yang ada di Taman Indonesia burung air, ada juga gerobak sepeda laiknya yang dipakai tukang kerupuk zaman tahun 1970an mengantarkan dagangannya. Kami juga menyaksikan ada Bajaj, alat tranportasi yang masuk Indonesia di awal tahun 1980an. Ada Kucing Benggala yang bentuknya seperti kucing rumahan tapi sebelah ini lebih buas.

Kemudian ada Ayam Kate yang selalu kita temui di kampung-kampung di Indonesia. Ada pula angkringan sate Madura. Lalu Becak. Lalu gerobak sate ayam lagi di bawa dari indonesia Tidak jauh dari sana berdiri rumah tradisional Mentawai yang berseberangan dengan rumah Joglo dari Jawa.

Di Taman Indonesia, bisa duduk-duduk melihat ada wayang kulit berjejer Ada wayang kulit dan wayang golek serta patung dari Bali. Benda-benda yang ada di Indonesia juga. Ruang main untuk anak-anak ada video penjelasan mengenai wayang cerita tentang Kancil dan Buaya.

Anak-anak bisa melukis, membuat layang-layang sehingga ada bayangan. Jadi dibuat cantik dan menarik bagi anak-anak untuk bermain disini. Jadi anak-anak pun akan senang untuk datang kemari. Bukan saja orang tuanya yang senang, tetapi juga anak-anaknya. Benda yang bisa kita pakai ini anak-anak bisa mencobanya menjajalnya sambil bermain, mendapat cerita tentang budaya Indonesia.

Ibu Marlisa dengan saudaranya Pak Diederik untuk memperkenalkan budaya Indonesia di Belanda. Setelah keliling di Taman Indonesia, Eka Tanjung berbincang dengan Ibu Marlisa.

Tentang rencana kedepannya dari Taman Indonesia? Ibu Marlisa dan teamnya berambisi untuk “kasih tahu tentang budaya-budaya beragam yang ada di Indonesia. Ada Kalimantan, Papua, Mentawai, banyak suku dan kepada publik Belanda.” Ditanyakan siapa saja yang datang? “Kebanyakan juga orang Indo, Indo-European. Mereka kan suka kasih tahu sama anak-anak kecil, cucu mereka tempatnya nenek lahir gitu lho.”

Ungkap Ibu Marlisa. Selain itu banyak pula turis Belanda yang sedang berlibur dan menginap di camping sekitar lokasi Taman Indonesia. Selain itu pula orang-orang Belanda yang tinggal di sekitar lokasi. Bahkan mereka menggunakan kesempatan luang untuk jalan-jalan dan lihat-lihat binatang setiap minggu. Bahkan mereka itu mengambil kartu langganan tahunan.

Dan ada juga yang sekedar istirahat dan makan yang santai. Karena Taman Indonesia juga menyediakan snacks makanan ringan khas Indonesia. Seperti Lemper. Risoles, Kelepon, Lumpia, Pastei dan makan siang Nasi Rames juga. Para tetamu bisa juga berbelanja pernak-pernik oleh-oleh khas Indonesia. Batik, Layang-layang. Bahkan makanan Indonesia juga ada. Dari kopi Luak sampai dengan Kecap Manis.

Untuk ukuran Taman Indonesia, ibu Marlisa mengakui bahwa ukurannya tidak terlalu besar. Tetapi cukup untuk dinikmati jalan-jalan selama dua jam dengan santai. Menurut pengamatan Eka Tanjung penataannya menarik seperti IKEA, jalan berkelok-kelok dan selalu banyak yang bisa dilihat di kanan dan kiri. Menurut Eka Tanjung, publik orang Indonesia di Belanda pun bisa mengunjungi Taman Indonesia sebagai upaya mengobati rasa rindu. Apalagi bagi yang tahun ini tidak bisa pulang kampung atau batal mudik gara-gara Covid-19.

Selain untuk obat kangen, bisa juga sebagai ajang perkenalan Indonesia kepada anak-anak kelahiran Belanda. Kita bisa lebih tenang menikmati dan menjelaskan tentang barang-barang Indonesia yang ada di Belanda. Satu hal lagi, orang Indonesia bisa juga membawa ibu atau ayah mertua yang Belanda, untuk ‘melihat’ kampung menantunya.

Satu lah lagi yang disampaikan oleh Ibu Marlisa, tapi tidak disadari oleh Eka Tanjung dari Serba Belanda adalah kemungkinan untuk berpre-wed atau menikah di Taman Indonesia dengan pakaian adat tradisional Indonesia. Kawan kadang penulis tidak habis pikir ada bule yang begitu cinta pada Indonesia. itu sesuatu yang sangat inspiratif sekali sebenarnya buat kita yang lahir di Indonesia.

Oh betapa akan semakin indahnya Indonesia jika juga dicintai oleh orang-orang yang lahir atau besar di Indonesia ditambah dengan orang-orang bule yang cinta dengan Indonesia.

Marlisa Cewek Promo Indonesia di Belanda