Pelajaran dari Fenomena Zohri (Repost)

Posted on Updated on

Dua hari ini perhatian tercurah pada kasus sukses Zohri (Lalu Muhammad). Sprinter 100 m yang meraih emas di Finlandia. Sukses Zohri menyambar emas, seperti tetesan air di gurun gersang. Ketika sudah bertahun-tahun Indonesia menantikan prestasi orang Indonesia di luar negeri. Ternyata Indonesia bukan hanya negara penikmat dan pecundang. Kejutan di luar ekspektasi. Suprise!

Seluruh rakyat Indonesia bangga, dari Presiden sampai rakyat jelata. Euforia yang lumrah untuk kondisi bangsa yang butuh suntikan semangat. Namun di saat yang sama, terjadi perkembangan kurang baik di seputar sukses ‘kecil’ yang diraih anak desa ini.

Supir mencoba memaparkan dari pandangan WNI (Warga Negara Indonesia) yang sudah kelamaan tinggal di luar.

 

1. Publik memasalahkan bendera Merah-Putih yang tidak ada di lokasi. Ketika Zohri keliling mencari Bendera, usai menembus garis finish. Dari posisi startnya di pinggir, line 8 menandakan dia tidak mencatat angka tercepat di babak seleksi.

Pole Posision bagi favorite adalah di jalur 3 – 4 atau 5. Kenapa tidak ada yang bawa bendera? Barangkali karena tidak ada yang menyangka, Zohri akan jadi pemenang, mengingat starting position yang tidak terlalu menguntungkan.

Mungkin juga karena olah raga atletik dianaktirikan dan kurang diminati, apalagi ketika di tempat lain sedang digelar Piala Dunia. Sepakbola adalah olah raga paling ramai di dunia. Publik Indonesia yang rela begadang nongkrongin televisi dini hari untuk nonton Belgia vs Prancis serta Croasia lawan England, harusnya berkaca diri.

Mengapa memilih nonton orang-orang yang bukan bangsa Indonesia? Dan mengenyampingkan anak bangsa yang berjuang di cabang olah raga lain, walaupun kurang favorite. Masalahnya sekarang apakah sepakbola lebih penting dari pada Merah-Putih?

2. Soal privacy Zohri. Hak memiliki perlindungan aset pribadi yang diinjak-injak media. Menyaksikan tayangan berbagai media Indonesia meliput latar belakang sukses Muhammad Zohri di Finlandia, sampai-sampai melakukan hal-hal di luar batas kebaikan.Barangkali karena supir sudah kelamaan domisili di luar negeri dan pengalaman 20 tahun menjadi wartawan, membuatnya menjadi kritis terhadap pemberitaan. Banyaknya tayangan dan wawancara di televisi tentang fenomena Zohri, memunculkan liputan dari berbagai sisi.

Ada media yang menyoroti sisi pemerintah. Mereka meminta tanggapan kemenpora dan presiden. Ada pula yang mewawancarai pelatihnya. Dan ada pula yang menanyai pendapat publik Indonesia tentang sukses ini. Tapi yang paling parah adalah soal pembuatan liputan film di rumah sang juara yang sangat-sangat sederhana itu. Tidak berlebihan kalau supir menangkap kesan, itu rumah orang yang kekurangan.

Privasi
Supir menilai, jika media mengangkat kesederhanaan kehidupan Zohri, sebagai inspirasi untuk maju. Itu adalah hal yang baik. Tapi kemudian yang disayangkan, kawan-kawan media ada yang kebablasan dengan membuat film dan gambar dari tempat tidur, dapur, lemari pakaian dan lainnya. Membuat film dari benda-benda yang sangat pribadi. Itu menurut supir adalah sebuah pelanggaran.

Sang supir akan keberatan kalau ada orang yang masuk-masuk ke kamar dan membuat film. Sekalipun itu bisa membuat supir jari tenar. Perasaan yang sama, juga mungkin dimiliki sang Juara dari Lombok ini. Ketika dirinya dan barang-barangnya menjadi konsumsi publik. Apalagi ketika dianya sendiri, sedang tidak berada di rumah. Bila ini adalah kebiasaan media melakukan liputan, maka perlu ada peninjauan kembali soal menghargai hak milik orang lain.

Mari menahan diri, sekalipun bisa membuat liputan sexy. Tempatkan seandainya Anda berada di posisi sang obyek. Maukah? Kalau tidak, ya tolong jangan lakukan itu.

3. Supir ingin menanggapi tentang pemikiran instant yang sudah merasuk pada aliran darah dan nadi bangsa Indonesia. Setiap sukes membuat publik massal mengikuti trend yang sedang berkembang. Dan trend ini akan hilang ketika Jagung masih pentil, kurang dari tiga bulan. 

Setelah itu lenyap. Sukses cabang Sprint 100m Men di Finlandia yang ditorehkan pemuda Indonesia, semua orang memuji kemudian ada pula yang mendomplang “nebeng” ketenaran anak kampung ini. Tampak di televisi, maaf lagi-lagi media, yang memunculkan kedermaan seorang pengacara tenar, yang menjanjikan sekian jumlah uang. Tak lama berselang muncul pemuka agama, sambil bersuara lantang menjanjikan akan memberikan tiket pelgrimage Umrah ke Tanah Suci.

Sebuah pemberian yang perlu diacungi jempol. Mungkin sang penerima akan senang sangat. Hanya kalau dinilai dari sisi keikhlasan dan nilai pahalanya, maka supir kuatir pahalanya cumadi TV saja. Sebab di sana supir merasakan ada Riya, atau kasarnya pamer. Bukankan pemberian itu akan memiliki kandungan nilai pahala kalau tidak dipamerkan. Urusannya antara pemberi dengan penerima dan Tuhan.

Jadi sebaiknya mata publik tidak boleh lihat. Tangan kanan memberi, tangan kiri jangan tahu. Ini memberi dengan sesumbar di acara televisi, dan semua orang Indonesia tahu. Apakah kita harus berdecak kagum:”Waah hebat dia, suka memberi.” Dia bukan satu-satunya, pemerintah juga akhirnya ikut terhanyut dalam euforia itu dan menjanjikan beasiswa kepada sang juara. Ini hal baik dari pemerintah.

Hanya saja, kalau memang ingin memajukan anak bangsa, jangan tunggu dia sukses dulu. Tapi beasiswa atau pendidikan harus diberikan bukan sebagai reward, tapi sebagai kebijakan. Mencegah kriminalitas dan pengangguran dan kemiskinan dengan memberikan beasiswa atau pendidikan gratis untuk semua orang sampai ke jenjang paling tinggi. Orang ingin sekolah karena dia ingin maju, memakan dana.

Tapi proses lama yang membawa negara akan maju. Beda dengan koruptor yang juga memakan dana, bukan untuk memajukan negara. Tapi cara cepat memperkaya diri. Satu aspek lagi yang menjadi perhatian supir adalah, wawancara televisi dengan pelatih Zohri. Seorang ibu senior dari pelatnas (Eni Nuraini) yang diwawancara, bagaimana pelatnas bisa menangani Zohri sejak 6 bulan sebelum perlombaan di Finlandia.

Hingga akhirnya bisa juara. Hallooow.. apakah awak media lupa bahwa enam bulan lalu, Zohri sudah matang dan mungkin tinggal polesan saja. Kalau menurut supir, yang perlu digali adalah, sosok yang memberikan ilmu atletik dan dorongan mental sejak masih kanak-kanak sampai enam bulan silam. Siapa gerangan? Bapaknya? Pamannya? Guru SMP nya?

Mewawancara peletak pondasi sukses itu, bisa menulari sukses-sukses lainnya. Sehingga publik luas akan bisa memahami dan memetik pelajaran bahwa sukses bukan hasil instan 6 bulan. Tapi kerja keras bertahun-tahun. Harapannya pada remaja Indonesia akan tersengat dan termotivasi mengikuji jejak Lalu Mohammad Zohri dalam membangun sukses dari bawah. Bahwa kemiskinan bukan hampatan untuk bisa meraih impian. Rumah reyot bukan halangan untuk sukses!

Penulis: Eka Tanjung. Pemilik Perusahaan Tour dan Travel Serbalanda Tour.
Menghubungi Serbalanda

Advertisements