Pria Belanda Mahir Bahasa Sunda

Posted on Updated on

Sebuah video dialog Eka Tanjung dengan seorang pria Belanda dalam bahasa daerah Jawa Barat, Sunda mendapat sambutan yang luar biasa ramai. Baru lima hari, video sudah diputar sebanyak 24 K. Ditonton dan dishare oleh banyak orang. Mengapa video ini laris?

Silakan simak dialog Sunda dengan Mang Theo:

Ternyata ada berbagai faktor yang membuat video ini viral di dunia maya. Pria yang diajak dialog itu melafazkan kata-kata bahasa Sunda dengan baik. Selain itu semakin menarik karena ternyata Mang Theo ini menggunakan ungkapan dan cara bicara yang sangat-sangat authentic Nyunda Banget.

Eka Tanjung yang kebetulan bisa berbahasa Sunda, menengarai beberapa permainan yang disebutkan oleh pria yang mengaku berasal dari Paragadjen  itu. “Bandring”, “Gatrik”, “Katapel”, “Bedil Manuk”

Sedianya Eka Tanjung secara spontan menyapa Meneer Theo dalam bahasa Belanda. Pria yang dikenal sering bermain Tenis Meja, Badminton dan juga Tennis di kota Almere Belanda itu berlangsung biasa saja.

Pelacakan di google, usai perbincangan, ternya nama tempat yang sebutkan adalah: Kp. Paragajen, Desa Cibeureum – Cisarua – Bogor – Jawa Barat. Dia tinggal di sana sampai usia 13 tahun.

Pak Theo sendiri ketika dihubungi pasca efek viral dan sudah menembus 20 ribu kali ditonton, dia merasa kaget campur gembira. Ia ingat kembali tanah kelahirannya di Paragajen. Dan ia cinta Indonesia. Banyak kawan-kawan bule di Belanda yang merasa punya ikatan dengan Indonesia. Namun mereka biasanya bingung, dengan perasaan itu. Apa yang bisa dilakukan dengan rasa cinta mereka pada Indonesia?

Sebenarnya belum lama berselang Eka Tanjung juga dikejutkan dengan sambutan marak di social media mengenai bincang Bahasa Jawa dengan Naldo, seorang pria keturunan India. Bahasa Jawanya lumayan kental dan sangat luwes.

Eka Tanjung dari Serbalanda menjumpai Naldo secara tidak sengaja. Ketika hendak memasukkan sepeda Gazelle ke Bagasi Khusus penerbangan Garudan Indonesia langsung Amsterdam – CGK Banten. Mendadak saja sebelum sepeda masuk, penulis sudah disapa oleh pria berkacamata dan kesan pertamanya memang bukan orang Indonesia ‘tulen’.

Semoga kelak ada Festival Budaya Indonesia di Luar Negeri!

Advertisements