Insiden Bendera Pada Kunjungan Jokowi di Belanda

Posted on Updated on

Joko Widodo dikenal punya strategi “blusukan” dengan maksud agar bisa dekat dengan rakyat tanpa dikekakang aturan protokulair. Bisa lansung menyentuh dan salaman dengan wong cilik. Itu hanya sebagian saja yang bisa terrealisasi pada lawatan ke Eropa. Jokowi sempat mendekati puluhan simpatisan di Belanda yang masih WNI dan yang sudah WNA.

Dengan ramahnya mantan Walikota Solo itu mendekati pria dan wanita yang berjejer di bagian tengah sepanjang pagar pembatas di depan Hotel Kurhaus di Scheveningen. Mereka adalah warga yang belum berkesempatan diundang pada dua acara pertemuan. 21 April dengan ratusan warga Indonesia di Belanda. Dan 22 April dengan Dunia Usaha Belanda. Tapi Presiden tetap menjumpai mereka dan tidak menolak saat diajak berselfie.

Sikap dekat dengan rakyat inilah yang mendongkrak simpati warga Indonesia di perantauan. Banyak tebaran ungkapan positif dan kegembiraan tertuang di Facebook. Foto-foto selfie bermunculan di dinding banyak orang. Bahkan ada warga Indonesia yang siap berpuasa mandi dan cuci tangan karena sudah bersalaman dengan bapak presiden.

“Aku tidak akan cuci tangan dulu beberapa hari ini, sayang soalnya tadi abis salaman dengan bapak Jokowi.”

Jokowi_Wahyu_Koen
Jokowi menemui warga Indonesia di Den Haag. pic: Wahyu Koen (FB)

Super Ketat
Itu masih terjadi di tengah penjagaan yang sangat ketat, karena RI1 harus mengikuti prosedur keamanan yang super ketat. Bisa terlihat pada foto di atas. Betapa banyaknya pengawal dari belasan Paspampres sendiri dan yang diperbantukan dari Dinas Keamanan Belanda sebagai tuan rumah.

Pengamanan perlu, sebab tidak saja ratusan simpatisan yang ada di tempat itu tapi juga demonstran yang membawa bendera Bintang Kejora dan Bendera RMS.

Demo_Wahyu_Koen
Tiga Bendera Sambut Jokowi di Den Haag. pic: Wahyu Koen (FB)

Sebab di Belanda ini, Indonesia bukan saja punya banyak teman dan saudara, tapi juga ada pihak-pihak yang merasa kecewa karena aspirasi tidak diseriusi.

Dalam dunia demokrasi, penulis tidak melihat kejanggalan pada bendera-bendera RMS (Republik Maluku Selatan) dan Bintang Kejora (Papua Merdeka).

Insiden Bendera
Termasuk ketika sehari berikutnya (22 April 2016) pada acara Business Meeting dengan Kalangan Pengusaha Belanda di tempat yang sama, Kurhaus Scheveningen, terjadi insiden demonstran RMS yang menyelinap masuk dalam gedung dan menempelkan bendera di kaca salah satu jendela gedung megah itu.

RMS Jendela
Bendera RMS di kaca Kurhaus. Sumber: NOS.nl

Faktanya mereka toh menyampaikan jeritan hati ‘hanya’ lewat kibaran bendera. Biarkan saja, ada katalisator. Daripada ditekan yang akhirnya malah bisa jadi runyam dan bisa meledak. Pada intinya, semua orang cinta pada tanah tumpah darahnya.

Tidak Penting
Pulau tidak bisa dibawa ke mana-mana, dan semakin banyak orang yang ‘ngopeni’ sejatinya semakin baik saja perkembangan sebuah daerah. Hasilnya akan maksimal dimanfaatkan oleh semua penduduk, kalau kita menghadap ke arah yang sama.

Penulis punya pemikiran begini: Yang paling utama adalah, pihak yang paling bisa mensejahterakan tempat itu yang berhak mengklaim sebagai pemilik. Kalau hanya  menyengsarakan saja, sebenarnya tidak layak mengaku sebagai pemilik.

Mana Buktinya!
Tidak ada gunanya juga berteriak-teriak dari kejauhan tanpa bukti konkrit yang bisa mencuri hati dan simpati penduduk di tempat itu. Mari kerja-kerja dan kerja, tunjukkan bahwa kita adalah pihak yang berhak ‘ngopeni’ tempat itu.

Kesejahteraan dan kemakmuran menjadi milik bersama. Ketika semua merata dan maju, bendera atau simbol menjadi tidak penting lagi.

Lihat Belanda!
Negeri ini sudah juaraang mengibarkan bendera Merah Putih Biru, dan tidak ribut ketika ada bendera Frisia Biru Putih berkibar di Amsterdam. Tapii  coba kibarkan Bendera Feyenoord di Leidseplein atau de Dam Amsterdam, bisa dirajam dia! Atau sebaliknya mengibarkan bendera Ajax di Coolsingel Rotterdam. Bisa ngamuk orang kota Pelabuhan itu. Bendera hanya perlu untuk sepakbola saja, dan untuk olimpiade.

 

 

Advertisements