Jokowi Perlu Berterimakasih Pada John Wattilete

Posted on Updated on

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo yang berkunjung ke Belanda 21 April 2016 ini akan bertemu dengan berbagai wakil pemerintahan dan usaha Negeri Kincir Angin ini.

Serbalanda menilai sudah selayaknya Presiden Indonesia ini juga menyempatkan bertemu dengan John Wattilete, pengacara yang merangkap sebagai Presiden Republik Maluku Selatan (RMS). Mengapa?

Pertemuan dengan Wattilete bukan kapasitasnya sebagai presiden sebuah negara yang tidak diakui oleh PBB, semustinya bisa dilakukan. Tetapi lebih sebagai pengacara. Pria kelahiran Bemmel 1955 itu kesehariannya menjalani praktek biro bantuan hukum, Wattilete Advocaten. Kantornya di Amsterdam memberi banyak bantuan perkara yuridis kepada kalangan yang membutuhkan.

Kendala Bahasa
Mengingat pelayanan yang multi lingual, Belanda, Inggris dan Bahasa Indonesia maka pintu kantor bantuan hukum ini diketuk orang-orang dari berbagai bahasa. Termasuk warga Indonesia yang tidak bisa atau masih belum fasih berbahasa Belanda atau Inggris.

Amsterdam
Eka Tanjung dari Serbalanda menangkap banyak informasi dari kawan-kawan Indonesia di Belanda ini yang tertolong oleh saran dan bantuan yang diberikan oleh kantor pengacara yang terletak di Achillesstraat 95-97 Amsterdam itu.

Membantu WNI
Pengacara Wattilete membantu tanpa memilah manusia dari golongannya. Dia tidak menolak orang, karena paspornya. Belasan atau bahkan puluhan Warga Negara Indonesia (WNI) yang memiliki masalah hukum, terbantu oleh John Wattilete dan teamnya.

Sebagai contohnya: membela WNI yang terancam kehilangan pekerjaan. Dengan konsultasi awal gratis dalam Bahasa Indonesia. Seorang Ibu Indonesia terbantu ketika ia terancam kehilangan hak asuh anak akibat perceraian dengan suami warga Belanda. Dll.

Ironis juga ya kalau kita resapi, presiden RMS membantu rakyat Indonesia di Belanda.

Serbalanda menilai bahwa Presiden Jokowi sebagai orang nomor satu Indonesia, perlu bertemu dengan orang yang membantu bangsa Indonesia di Belanda. Lumrah kan?!

Soft Lembek
Sejatinya, Wattilete juga sudah pernah berjumpa B.J. Habibie dan juga Gus Dur, dalam kapasitasnya sebagai tokoh RMS. Walaupun ketika itu ada faksi dalam komunitas Maluku Belanda yang keberatan dengan pertemuan itu. Oleh sebagian kalangan, jalur diplomatik yang ditempuh Wattilete dalam memperjuangkan cita-cita RMS, dianggap terlalu soft lembek.

Tidak Takut RMS
Serbalanda sebagai WNI tidak cemas dengan ancaman RMS untuk Indonesia. Sekarang sudah bukan zamannya lagi mendirikan negara dalam negara. Amerika, PBB dan Uni Eropa terlalu banyak urusan ekonomi yang lebih urgent daripada mengurusi kemerdekaan sebuah wilayah.

Sebagai Manusia
Sehingga tidak ada salahnya kalau kali ini Jokowi bertemu dengan Wattilete dalam kapasitasnya sebagai manusia dan pengacara yang sudah banyak membantu WNI di Belanda, melepaskan masalah hukum yang pernah menjerat mereka.

Demi Kesejahteraan
Apalagi kalau pertemuan ini bermuara pada perbaikan ekonomi dan kesejahteraan bagi kedua bangsa yang mereka wakili.

 

Advertisements