Jokowi Bukan Yang Dulu Lagi

Posted on Updated on

tulips-65036_1280Judul yang barang kali akan menggugah keingintahuan maksud tulisan ini. Sejatinya bukan bermaksud merendahkan Presiden Republik Indonesia yang 21 April 2016 ini melakukan kunjungan kenegaraan ke Belanda.

Banyak aspek yang sebenarnya membuat Eka Tanjung dari Serbalanda mengamati kunjungan RI1 pertama lagi, setelah 16 tahun lalu. Gus Dur lah yang terakhir kali ke negeri Kumpeni ini tahun 2000.

Sayang sekali karakter Blusukan khas Jokowi tidak bisa berlaku dalam kunjungan kenegaraan ke beberapa negara Eropa ini. Pria semampai asal Solo yang punya bibir mirip Jendral Sudirman pejuang kemerdekaan RI itu kali ini tidak bisa blusukan sehingga kemungkinan hanya dapat make-up cukup besar.

Dia tidak bisa jalan-jalan santai ke Giethoorn umpamanya. Atau Ibu Iriana yang berparas Manis itu, tertarik untuk melihat indahnya taman bunga Tulip, de Keukenhof.  Bisa jadi nanti dia akan dihinggapi lebah Tulip, karena saking manisnya. Momentum dan tempat yang mungkin akan membuat penyesalan, kalau Jokowi tidak bisa berfoto bersama di dusun nelayan Volendam, seperti yang dilakukan Gus Dur dan keluarganya beberapa tahun silam.

Hans Duin, seorang retailer di Volendam sudah berulangkali menanyakan apakah Jokowi akan datang ke kampungnya Volendam. Sebab katanya “SBY sebenarnya berrencana ke Volendam. Sayang sekali dia membatalkan datang ke Belanda. (2010 red.)” Kemudian Hendriks Smit dari Giethoorn juga sangat penasaran ingin berjabatantangan dengan Presiden Indonesia ke Tujuh ini.

Tidak Blusukan
Fakta bahwa mantan Walikota Surakarta tidak bisa masuk dan datang ke tempat yang dia inginkan, membuktikan bahwa di luar negeri berlaku aturan yang berbeda. Suka atau tidak, kunjungannya ke Belanda ini akan mendapat kawalan lebih ketat. Jam berapa harus berada dimana dan bertemu siapa saja.

Manis dan Minus
Hal itu sangat bisa dimengerti karena Belanda memiliki ikatan manis dan minus dengan Indonesia. Manisnya bisa dirasakan dengan banyaknya wanita-wanita cantik dan anggun asal Indonesia yang tercantol pada pria-pria bule yang romantis dan bersahaja.

Namun sisi minusnya masih membekas pada Kalangan Terhalang Pulang. Kalangan terhalang pulang menggarapkan adanya pengakuan atas penderitaan yang mereka rasakan sejak 1965. Atau kalangan Maluku yang merindukan bisa  Pulang Kampung ke Pulau Seram atau ke kampung Kuda Mati di Ambon.

Walaupun secara pribadi mungkin Jokowi tidak merasa takut ancaman kelompok manapun, namun pemerintah Belanda dan pihak KBRI di Den Haag merasa bertanggungjawab dan cemas jangan sampai ada hal buruk menimpa Presiden Indonesia selama berkunjung ke Belanda.

Persiapan
Penulis melihat sendiri bagaimana persiapan di KBRI Den Haag menjelang kedatangan RI1 ke kantor perwakilan Indonesia di Belanda. Pintu-pintu diamplas, dinding dicat, karpet di cuci lebih bersih. Sepertinya semua lapisan di KBRI Den Haag dan negara lain ingin memberi yang terbaik kepada pemimpin.

Gaya Lama
Sejatinya mereka lupa. Seharusnya bebersih harus dilakukan tiap hari. Tempat dikonclongkan bukan ketika kunjungan orang nomor satu Indonesia saja. Pemikiran ‘gaya lama’ seharusnya dibuang jauh-jauh.

Sebab di zaman sekarang ini rakyatlah yang sejatinya berposisi lebih tinggi dibanding presiden atau anggota dewan. Artinya service terbaik dari pegawai KBRI ataupun pegawai pemerintahan, diutamakan untuk rakyat. Sebab mereka digaji oleh uang rakyat, bukan oleh uang presiden.

Jadi gedung-gedung pelayanan publik, harusnya lebih keren, bersih dan wah daripada gedung yang dipakai oleh para pelayan itu sendiri. Gara-gara Jokowi tidak bisa blusukan pada kunjungannya ke luar negeri ini maka, apa yang dia saksikan dan rasakan belum tentu realitas sesungguhnya.

Advertisements