Siapa yang Tidak Suka Tempe?

Posted on

Kami dari Gunung Kemukus di Jawa Tengah sangat menyukai Tempe. Diapakan saja tetap bisa masuk perut. Asalkan jangan dibuang, jadi tidak bisa masuk mulut lagi. Digoreng pakai rendaman air garam, Bawang Putih dan ketumbar mak nyuss rasanya.

Disantap dengan Nasi Putih panas dan cabai rawit. Mertua lewat pun tak nampak pula. Kalau nanti tempenya masih bersisa, bisa dibuat Sambel Tempe. Kalau masih bersisa juga bisa dibuat Nasi Goreng Tempe Arik.

Kalau ada rezeki lebih bisa ditambah Tahu. Jadi Tahu Bacem. Sejak kecil sudah diberi makan oleh orang tua di kampung.

Awalnya Tempe Embuk, Tempe Koro, Tempe Bongkrek. Saat ini Puji Tuhan bisa dapat Tahu dan Tempe dari kacang Kedelai. Sampai sekarang, saya beranggapan bahwa Tempe Bacem adalah temuan paling penting dalam peradapan manusia. Tidak terbayangkan seandainya di dunia ini tidak ada lagi Tempe.

Tempe Embuk menduduki poule position di belakang Tempe Kedelai. Dia sangat kaya serat dan rasanya sangat khas. Dimasak dengan menggunakan banyak Daun Jeruk Purut akan merubah aroma apek menjadi segar, Jadilah Sambal Tumpang yang sohor di Kediri itu.

Posisi ketiga didapuk oleh Keripik Tempe Kedelai dan Tempe Bongkrek. Dibalut dengan adonan tepung terigu yang dibumbui dengan Seledri dan Irisan lembut daun bawang, maka bisa menjadi teman mengamati pertandingan sepakbola yang menegangkan.

Tempe menginspirasi manusia untuk tetap ingat kepada kampung halaman tempat dia dilahirkan. Daun Pisang dan Daun Jati pembungkusnya melekat dimemory setiap anak kampung, seperti penulis ini. Selamat Menikmati !!

2016-02-06 14.29.16

Advertisements