Malam Sint Maarten, Kearifan Lokal Belanda

Posted on Updated on

SintMaarten_02
Alifa dan Renzio

Di Belanda, jarang ada kunjungan spontan ke tetangga lebih jauh dari 5 rumah di samping. Namun mereka menciptakan momen-momen tertentu untuk bisa beranjangsana.

Seperti Malam Sint Maarten. Serbalanda melihatnya hari Sint Maarten ini sebuah kearifan Belanda yang sangat baik untuk bermasyarakat. 11 November dari pukul 18.00 – 20.00 PM. Anak-anak mendatangi rumah dari pintu ke pintu. ” dari pintu ke pintu, ku tawarkan.. lagu Sinte-sinte Mik .. mak.”

Setelah anak-anak memijit bel rumah tetangga dan sang empunya membuka pintu, maka nanyian dari kerongkongan kecil-kecil itu berkumandang. Satu rumah, satu lagu  “Sint Maarten” di depan pemilik rumah. Satu tangan memegang lampion, atau tongkat berujungkan lampu pakai batrei. Ada lampion buatan sendiri ada yang beli di toko. Macam lagu ada minimal 5 lagu, atau mungkin lebih.

Usai bernyanyi, maka sang pemilik biasanya melontarkan pujian. “Mooi gezongen zeg!” “Nyanyinya bagus lho!” atau kalau pelantunnya mengeluarkan suara kurang enak di telinga, pemilik akan mencari hal lain yang membuat anak senang. “Wat heb je een mooi lampion.” Lampu kamu bagus! Karena anak-anak selalu membawa lampion saat bernyanyi itu.

SintMaarten_06 max

Usai lagu berdurasi 30 detikan itu, maka si pemilik rumah akan menyodorkan piring atau bejana atau keranjang berisikan bermacam gula-gula atau candies. Anak-anak boleh mengambil seorang satu. Atau kalau pelantunnya sendiri dan pemiliknya baik hati, bahkan boleh ambil lebih dari satu candy. Belakangan sudah mulai banyak pula yang memilih untuk menawarkan jeruk atau apel sebagai hadiah nyanyi. Itu lebih sehat dan mendidik menurut Serbalanda.

Sekitar satu jam anak-anak ngider, biasanya mereka jalan bergerombol ber dua-tiga atau berlima. Dengan ada pendamping satu orang dewasa. Untuk jaga-jaga kalau ada hal yang tidak diiginkan. Anak jatuh atau kesasar, maklum sudah malam dan gelap.

SintMaarten_04

Seusai ngider sekitar satu atau dua jam, anak-anak pulang ke rumah dengan masing-masing membawa candies dan gula-gula seransel penuh. Walaupun secara nominal mungkin nilai hasilnya itu tidak sampai 5 euro, tapi makna sosialnya yang sangat besar. Anak-anak memahami bahwa “bernyanyi untuk orang lain” kebaikan akan mendatangkan kebaikan pula.

Mereka senang, untuk sebulan ke depan tidak perlu lagi jajan. Kami orang tua yang mengawasi mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak. Sehubungan dengan kadar gula berlebihan atau gelatine. Setiap orang tua punya aturannya masing-masing. Intinya anak anak senang dan dia sudah berkenalan dengan tetangga lagi. Saling Memberi Salam Adalah Hal yang Baik

Kesempatan untuk bersilaturahim dengan tetangga di kampung. 100 rumah kiri kanan, 100 rumah depan belakang. Dan mengajari anak untuk bersosialisasi dan menghargai. Berucap terima kasih ketika menerima sesuatu.

Perlu disampaikan juga bahwa tidak semua rumah berpartisipasi atau menyiapkan gula-gula atau candies untuk anak-anak. Ada rumah yang gelap karena tidak di rumah, atau ada di rumah tapi tidak ikut serta. Mereka biasanya memasang tulisan di pintu. “Maaf, tahun ini kami tidak ikut serta Sint Maarten.” Dengan tulisan di pintu, anak-anak tidak perlu lagi berharap. Tidask ikutan bukan sebuah kehinaan, tapi tentu mereka punya alasannya. It’s okay. Kejujuran Harus Bisa Diterima.

Dari rekaman video di bawah ini bisa terdengar sayup suara Alifa Mansini dan Renzio temannya menyanyikan lagu. Setelah itu sang pemilik rumah melontarkan apresisasi.

“Wat mooi lampionnen hebben jullie!” Alifa dengan lantang menjawab: “Danku wel. En Wat een mooi huis.” “Terima Kasih. Rumahnya bagus banget!” Dan pemilikpun menjawab:Terima Kasih. Alifa dan Renzio mengambil gula-gula dan mengatakan “Danku Wel”

SintMaarten_01

Advertisements