Lawatan Ganjar Pranowo, Berbuntut Polemik di Suriname

Posted on Updated on

Suriname IndonesiaOleh-oleh Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah usai lawatan ke Suriname Oktober 2015, memicu kebingungan. Soal pengiriman 500 perawat, diartikan lain di Suriname.

Orang nomor satu Jawa Tengah kepada media di Indonesia menyebutkan bahwa Kementrian Tenaga Kerja Suriname meminta 500 perawat spesialis ginjal. Berita ini tentu saja disambut baik di tanah air. Seperti dilansir Antara News.

Namun demikian Serbalanda membaca media Suriname bahwa di negeri Amerika Latin itu sendiri belum ada kata sepakat antara menteri dan pejabat negara.

Bukan Pemerintah
Patrick Pengel, menteri Kesehatan Suriname kepada media Starnieuws menepis anggapan bahwa pemerintah yang akan mendatangkan 500 perawat dari Jawa.

“Gagasan itu tidak datang dari Kemetrian Kesehatan, Kementrian Luar Negeri maupun mentri-mentri lainnya. Kemungkian inisiatif muncul dari pihak swasta.” 

Namun demikian Menteri Pekel tidak menyebutkan pihak swasta yang memprakarsai gagasan ini. Mendengar menteri Kesehatan berkelit, sontak saja Paul Somohardjo, pemimpin partai #keturunan Jawa, Pertjajah Luhur merasa tersinggung dan naik pintam.

Keturunan Jawa

Sebagai keturunan Jawa, Paul tidak terima Gubernur dari Tanah Leluhurnya ditanggapi tidak serius di Suriname. Dengan sangat kecewa Paul Somohardjo kepada media Starnieuws juga menyebutkan bahwa sikap berkelit yang diungkapkan menteri kesehatan Patrick Pengel itu bisa merusak hubungan dengan Indonesia.

Somohardjo berujar :” Gubernur Ganjar Pranowo dari Jawa Tengah berbicara dengan berbagai petinggi pemerintah, di antaranya mengenai persoalan ini (500 perawat red. ) Tapi mengapa sekarang ada statement yang merendahkan Indonesia?”

Eka Tanjung dari Serbalanda menilai bahwa Somohardjo merasa tersinggung dengan sikap Menteri Kesehatan. Petinggi parta Jawa itupun mengambil contoh kasus Cina dan Kuba yang mengirim pekerjanya ke Suriname.

“Ketika Dalian China mengirim pekerjanya ke Suriname untuk mengaspal jalan dan membangung rumah, tidak ada yang berkomentar. Di kala Kuba berkontribusi mengirimkan tenaga kesehatan, tidak ada yang mengeluhkan. Namun ketika, gubernur dari Jawa bertemu dengan wakil presiden, menteri Luar Negeri, menteri Tenaga Kerja, para dokter, menawarkan 500 perawat dari Indonesia ke Suriname, dipandang negatif? Ini namanya tebang pilih,” kata Somohardjo.

Masalah Dana

Eka Tanjung mencoba memaknai polemik di Suriname ini. Persoalan inti adalah uang dan Suriname bukanlah negara yang kaya. Menteri Kesehatan Pekel yang membawahi masalah kesehatan di Suriname menyebutkan bahwa prakarsa datang dari swasta. Berarti pemerintah tidak akan mendanai proyek ini. Bahkan mungkin sebaliknya, pemerintah akan melakukan seleksi ketat.

Seperti Pekel menyebutkan: “Jumlah penyakit kronis semakin meningkat. Pemerintah tidak bisa menangani semua. Sebagai akibatnya banyak klinik dan rumah sakit swasta tumbuh menjamur. Untuk itu pemerintah akan melakukan seleksi ketat.”

Dengan kata lain maka pemerintah tidak mampu menggaji 500 perawat dari Indonesia yang kemungkinan akan datang, swasta lah yang dipersilakan. Namun demikian bukan tanpa syarat. Sebab sang menteri menambahkan poin penting di Starnieuws.

“De procedure voor het aantrekken van krachten uit het buitenland is dat zij zich moeten aanmelden bij het ministerie Volksgezondheid en de inspectie. De mensen die nu vermoedelijk onderweg zijn naar Suriname, zullen een screening moeten ondergaan. Zij kunnen alleen tewerkgesteld worden in een instelling nadat Volksgezondheid hier goedkeuring aan heeft gegeven. De minister geeft aan dat streng gelet zal worden op de procedures.”

“Prosedur mendatangkan pekerja asing harus melaporkan kepada kementrian Kesehatan dan inspeksi, Orang-orang yang sekarang kemungkinan dalam perjalanan ke Suriname, harus melewati screening. Mereka hanya bisa mendapatkan izin kerja di instansi yang sudah direkomendasikan oleh Kemenkes di sini. Sang menteri menyatakan akan memantau prosedure secara tegas.”

Di sini pemerintah Suriname tampaknya ingin menunjukkan kesan bahwa bila swasta ingin mendatangkan 500 perawat spesialis ginjal, harus melalui prosedur dan aturan ketat. Serbalanda tidak melihat isi prosedur dan aturan ketat itu.

Menarik untuk menyimpulkan kabar pengiriman 500 perawat dari Jateng ke Suriname ini, tidak semudah yang masyarakat bayangkan. Harus ada tindaklanjut realisasinya.

Gubernur Ganjar sudah menjalankan tugasnya membuka jalan dan mempromokan daerahnya. Sekarang kalau muncul persoalan-persoalan simpang siur ini adalah tugas perwakilan Indonesia di Paramaribo untuk mengklarifikasikannya.

Serbalanda menilai bahwa perekonomian Suriname tidak lebih baik dari Indonesia. Selanjutnya kalau memang di Indonesia banyak perawat spesialis ginjal, mengapa tidak dipekerjakan di rumah sakit dalam negeri saja, kan Indonesia juga banyak pasien yang membutuhkan bantuan dari tenaga medis ini?

Advertisements