Dari Perantauan Lestarikan Budaya yang Hampir Punah

Posted on Updated on

PWI Tingkepan
PWI Tingkepan

Komunitas Indonesia di Belanda ada yang menjalankan tradisi Mitoni atau Tujuhbulanan. Budaya ini di Indonesia sendiri sudah hampir terlupakan dan punah. Di Almere hidup lagi 12 September 2015 ini.

Kehamilan merupakan bagian dari kehidupan kita. Pernahkan Anda membayangkan apa yang terjadi pada ibu Anda ketika beliau hamil tujuh bulan? Ibu saya pernah menuturkan bahwa di usia kandungannya ke tujuh bulan beliau menjual jajanan pasar, dawet dan lainnya. Pembelinya adalah anak-anak di kampung sekeliling.

Jualan Makanan
Jualan makanan bukan profesi sesungguhnya, beliau saat itu sedang merayakan Tingkepan atau Pitungwulanan sebagai bentuk syukuran atau terima kasih kepada Tuhan. Sebuah bentuk ritual kemanusiaan yang luar biasa mengharukan.

Kegiatan Mitoni itu sayang sekali sudah mulai punah di Indonesia. Tapi dihidupkan kembali di Almere pada Sabtu 12 September 2015 di Anna Park Almere. Gagasan yang dicetuskan Ibu Dwi Harianie dari Perkumpulan Warga Indonesia (PWI) ini sangat menarik. Dari luar, yayasan ini berusaha memelihara budaya warisan nenek moyang.

Hari: Sabtu, 12 September 2015
Waktu: 18.30 – 01.00 uur.
Lokasi: Anna Park Almere
Sas van Gentlaan 10-12
1312 CT Almere

Hampir Punah

Tujuhbulanan ini merupakan thema tahunan Yayasan Perkumpulan Warga Indonesia.  Dwi Harianie dan kawan-kawan dengan sadar untuk tahun 2015 ini memilih prosesi tradisional yang sudah hampir punah di Indonesia. “Walau kami hidup di perantauan kami tetap berusaha menghidupkan dan melestarikan budaya Indonesia,” ungkap Dwi Harianie.

2015, hampir 40 tahun kemudian, Eka Tanjung membaca ada acara Mitonan di Belanda dan diselenggarakan oleh warga Indonesia, maka perlu mendapat dukungan dan apresisasi. Penulis berrencana hadir untuk membagi keindahan budaya leluhur kepada dua anak kami yang berusia 13 dan 7 tahun.

Eka Tanjung, terakhir kali mengikuti acara syukuran wanita yang hamil di bulan ke tujuh itu 35 tahun silam di Cianjur Jawa Barat. Pada acara Mitoni biasanya si calon ibu berjualan dawet, jajanan pasar dan nasi. Sangat indah mengenang acara itu karena selain menarik juga karena bayarnya cukup dengan pecahan genteng atau geting yang berserakan di pinggir gang.

Bawa Anak
Anak-anak kami tidak banyak mengenal budaya dan tradisi Indonesia. Apalagi Mitoni yang sudah jarang dilakukan di Belanda maupun di Indonesia. Untuk itulah anak-anak yang kebanyakan hanya tahu Natalan, Tahun Baru, Sinterklaas, Lebaran, akan ditambah dengan Mitoni.

Ferry Kusuma
Dorongan untuk datang semakin kencang ketika mengamati folder atau selebaran yang tergeletak di meja. Acara di Almere pada bulan September 2015 ini juga menghadirkan musik live oleh musisi yang sudah kondang di Belanda. Ferry Kusumah, Dewi Mas, formasi Melodi Bambu dan artis yang masih dirahasiakan namanya. Ferry bukan yang paling muda lagi, tapi menurut pengalaman penulis dia masih salah satu dari yang paling enerjik.

Tarian Tradisional
Hari itu publik yang datang masih juga akan dihibur dan dibuai dengan acara peragaan pakaian tradisional Indonesia. Lalu panitia juga menyiapkan tari-tarian berbagai daerah di Indonesia. Ini satu lagi bentuk uri-uri budaya Indonesia yang perlu mendapat dukungan dan dihadiri.

Catering
Bukan pesta yang sukses tanpa makanan, demikian mungkin yang tercetus dibenak panitia acara di Almere itu. Tidak keliru ketika penyelenggara menggandeng Siska Catering dalam mengisi aspirasi pemenuh selera lidah yang cocok mewakili ke Indonesiaan hari itu. Catering yang berbasis di Almere itu menyiapkan tujuh macam jajanan pasar khas Indonesia.

Tiket
Untuk tiket masuk, menyaksikan kemeriahan, pertunjukan serta konsumsi acara itu, panitia menetapkan harga € 20 untuk dewasa dan € 10 untuk anak-anak. Untuk reservasi dan informasi lebih lanjut bisa menghubungi, penyelenggara:

Ibu Dwi Harianie: 0653941326 dan Ibu Anies Darmi: 0652632229 atau email [pwi.almere@gmail.com]

Advertisements