Ingin Sapi dan Istri Dua

Posted on Updated on

Sapi Almere
Sapi Almere

Banyak kejadian yang saya temui mengingatkan peristiwa masa lalu. Kemarin saya mengajak saudara sepupu ke de Kemphaan, taman perkebunan dan peternakan di Almere Belanda.  Ketika menyaksikan sapi gemuk-gemuk penulis jadi melamun dan teringat masa kecil di Gunung Kemukus, The Sex Mountain.

Sambil memandangi sapi-sapi yang tidak berhenti mengunyah, dan sesekali mengelus-elus kepala sapi di kandang milik peternakan, aku jadi teringat masa kecil di Pendem Sumberlawang, kampung dekat Gunung Kemukus, The Sex Mountain di Jawa Tengah. Menjadi penggembala Kerbau, sambil leyeh-leyeh di atas punggungnya.

Hampir tiap hari jumpa Prapto Lemu si penggembala dua sapi kurus. Kami komunitas penggembala biasa memanggilnya “To Cempluk” Saya sering bertemu To Cempluk di brug, karena hewan kami sama-sama butuh drink break untuk minum air di kali kecil yang nyaris tanpa air. Prapto dari arah Kemukus dan saya bersama kerbau ke arah Nglaban.

Prapto, sering mengeluhkan dimarahi ayahnya karena sapinya tidak gemuk-gemuk, sedangkan dianya malah tambah Lemu. To Cempluk selalu ceria ketika Bus “RELA” jurusan Solo Porwodadi melewati ternak kami yang terkejut-kejut. Karena sang supir selalu membunyikan klaksonnya keras keras.. Theeeet.. Thuueet..Thuuu Eeettt..sambil melambai-lambai dengan kedua tangannya To Cempluk berdiri berjingkrak-jingkrak.

Sesaat kemudian, bus melaju perlahan miring ke kiri, dengan asap hitam yang mengepul dari knalpot bus berbahanbakar solar itu. Selalu ungkapan yang keluar dari mulutnya sama, “mengko yen gede aku arep dadi kondektur” dengan mengangkat tangannya yang bulat-bulat penuh lemak, Prapto mengatakan kalau besar ingin jadi kondektur bis Rela.

Katanya supaya bisa punya sapi dan istri dua. Waaah kacau kau Prapto.. kataku sambil ngelus-elus Kerbau ku..  bagiku pertemuan dengan To Cempluk selalu menjadi hiburan, karena jalur rumput sepanjang rel kereta api antara, Gemolong dan Stasion Sumberlawang sepi di siang hari.

Advertisements