Monyet Belanda Mati Misterius

Posted on Updated on

Empat primata Bekantan yang sering disebut juga Monyet Belanda meninggal berturut-turut di Apenheul, kebun kera di Belanda. Direksi tidak tahu penyebabnya. Eka Tanjung dari Serbalanda menyimpan beberapa tanda tanya dari berita ini.

Si Badik (Almarhum)

Pertama mengapa empat kera hidung besar itu sampai meninggal dalam kurun empat tahun terakhir? Kera yang di Belanda namanya bukan Monyet Kami tapi Neusaap (Kera Hidung) itu dipinjam dari kebun binatang Singapura. Kasus terbaru kematian terjadi Sabtu silam 2 Mei 2015, Si Badik dalam usia 13 tahun

Penyelidikan di fakultas Kedokteran Hewan Universitas Utrecht menyimpulkan bahwa si Badik meninggal karena usus besarnya ‘terputar balik’

Sementara itu tiga saudaranya meninggal karena sebab yang lain. Satu karena serangan jantung, lainnya infeksi ulu hati dan ketiga karena gangguan pencernaan. Kera-kera itu sebenarnya dipinjamkan ke Belanda dalam rangka program pengembangbiakan di kebun binatang.

Apenheul adalah satu-satunya taman kera di luar Asia yang menampung kera Bekantan atau Monyet Belanda itu. Konon kera yang memiliki nama latin Nasalis Larvatusitu sangat mudah stess dan mudah sakit. Mengingat jumlahnya yang sekarang tinggal satu ekor saja, maka pihak Belanda dan Singapura akan membicarakan langkah selanjutnya.

Kasihan. Sekarang ini tinggal Monyet Belanda dalam kesendirian, maka Apenheul kemungkinan akan mengembalikan satu ekor kera yang bersisa ke Kebun Binatang Singapura. Jangan sampai nanti dia mati juga karena kesepian.

Pertanyaan berikutnya dari penulis mengenai binatang yang hanya hidup di alam pulau Kalimantan itu, mengapa kerjasamanya dengan Singapura? Apakah Indonesia tidak perduli dengan aset bangsa? Karena kalau hanya bisa hidup di Kalimantan, berarti hewan ini unik. Seperti Komodo yang hanya ada di Pulau Komodo NTT.

Advertisements